¯\_MSAPH || 4_/¯

3 1 1
                                    

└|Andaikan yang pergi bisa kembali|┐

Dokter tersenyum.
"Adek anda tidak kenapa-kenapa".

Reyhan menghembuskan nafas lelahnya. Maura menjadi lega mendengar perkataan sang dokter.

"Ya sudah, saya permisi dulu" ucap sang dokter yang dibalas anggukan oleh keduanya. Setelah dipindahkan, Mereka masuk kedalam kamar inap Kheirina.

Reyhan duduk dibangku samping brankar Khei sambil memegang tangan yang tak diinfus, mengecupnya lalu menggumamkan kata 'maaf'.

Maura yang disampingnya mengelus pundak kokoh milik calon tunangannya itu seraya menenangkannya.

"Kamu istirahat, gih. Besok sekolah, kan? Biar aku yang jagain Khei. Nanti tolong izinin aku ke Bu Shita" ucapnya.

Reyhan menggelang.
"Aku mau jagain Khei, Ra. Aku gak mau dia kenapa-kenapa lagi".

"Please nurut, biar aku aja yang jagain Khei. Kamu sekolah, tadi aku udah bilang ke Mama dan besok Mama kesini nemenin aku" ujarnya seraya mengelus rambut Reyhan.

Reyhan membawa tubuh Maura ke pelukannya dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Maura. Maura pun mengelus rambut Reyhan dengan sayang.

"Oke aku sekolah, kamu jaga diri, jaga Khei juga, aku gak mau kamu ikutan sakit" ucapnya sambil mendongak menatap wajah Maura. Maura mengangguk.

•°•°•°•

Pagi harinya, Maura tengah sibuk menyuapi Kheirina makan, sedangkan Reyhan sudah berangkat sekitar 3 jam yang lalu.

"Kakak, udah" ucap Khei dengan lemas. Maura pun menyudahinya lalu mengambil obat yang berada diatas nakas kamar tersebut.

"Minum obat dulu, ya? Biar cepet sembuh, nanti kalo udah sembuh kita maen bareng lagi" ujar Maura sambil mengeluarkan obat itu dari botolnya.

Kheirina menutup mulutnya.
"Khei gak mau, kak. Obatnya pahit. Khei gak suka" seraya menggelengkan kepalanya.

"Biar Khei cepet sembuh jadi makan obat ini, ya? Emang Khei mau disini terus? Gak enak loh disini. Gak ada temen, baunya gak enak, gak ada boneka, gak boleh maen hp, jadi mau sembuh gak?" Bujuk Maura.

Kheirina tetap menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya.
"Khei gak mau, kak! Obatnya pait! Khei gak suka!! Gak sukaaa!!!" Teriaknya. Maura menghembuskan nafas lelahnya.

CKLEK..

Pintu ruang rawat Kheirina terbuka, menampilkan tubuh ibunda dari Reyhan dan Kheirina. Wanita paruh baya itu memasuki kamar inap anaknya lalu mendekati Maura.

Maura yang paham akan kedatangan calon mertuanya itu sontak terbangun dari duduknya, menyodorkan bangkunya kearah wanita paruh baya tersebut.

"Mama? Kesini sama siapa? Duduk dulu nanti capek" ucapnya. Wanita itu duduk dibangku tersebut dan tersenyum kearah Maura.

"Makasih, nak!. Tadi Mama kesini sama Papa, cuman dia lagi dapet telpon sebentar lagi dia bakal kesini" ujarnya, Maura menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.

"Tadi Mama denger ada yang gak mau minum obat?" Tanya nya kepada Maura, Maura mengangguk.

"Khei gak mau minum obatnya, Mah. Pahit. Khei gak suka" ujar Kheirina.

"Minum dulu, ya? Biar cepet sembuh, kalo gak nurut yaudah nanti Mama bakal pulang sama kak Maura dan kamu disini aja sendiri. Biarin ditemenin sama mayat dikamar ujung sana" ucap wanita paruh baya itu menakut-nakuti anaknya.

Kheirina yang mendengar perkataan sang ibu sontak menggeleng, ia langsung mengambil obatnya dan meminumnya dengan cepat.

Maura yang melihat itu hanya bisa tersenyum, tak lama suara pintu terbuka terdengar kembali. Kini menampilkan tubuh atletis nan kokoh namun sudah berumur.

Reyhan & MauraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang