Alana memperhatikan Satya dari belakang--posisinya sekarang, gadis itu tengah berada di punggung penculik-nya. Perjalanan yang terasa sangat jauh, padahal lumayan dekat. Entah mengapa rasanya begitu nyaman berada di posisi seperti ini. Satya begitu baik padanya--hanya saja pria itu menculik-nya, bukan memacarinya.
Disaat situasi yang hening ini--hujan tiba-tiba turun dengan deras--membuat Satya mengambil langkah ke arah lain. Ia berjalan menuju kanopi terdekat dari jaraknya, dan menurunkan korbannya dengan hati-hati.
"Kita diam dulu disini," katanya sembari mengusap rambutnya yang basah.
Satya juga tak lupa melepaskan jaket hitam itu dan melemparkannya ke Alana tanpa perasaan. Hingga kepala gadis itu tertutupi oleh jaket yang di lempar.
Alana sendiri mendengus sebal--seraya menatap Satya dengan tatapan tak sukanya, sesekali meledek pria itu dengan ekspresinya yang tak bersuara. Rambutnya jadi acak-acakan, ya walaupun sudah basah sebenarnya. Seharusnya pria itu memasangkannya seperti di Film Film, tapi apa ini? Dia melemparkan tak berperasaan.
"Benar-benar tidak romantis," ketus Alana seraya memakai jaketnya dengan wajahnya yang masih kusut. Walaupun cemberut, gadis itu tetap memakainya karena memang sangat dingin.
"Kalau kau ingin romantis, ya suruh aja pacarmu!" jawab Satya tak kalah ketus.
Alana menatap Satya lagi, masih dengan tatapan yang sama lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah depan--melihat air hujan yang turun lumayan deras. Satya menatapnya segera menatapnya kala gadis itu mengalihkan pandangannya, pria itu terlihat gemas melihat gadis itu memakai jaketnya yang lumayan kebesaran ditubuhnya.
Alana melirik Satya lagi. "Kau tak kedinginan?"
"Dingin," balas Satya.
Alana hendak membuka jaketnya, tetapi Satya mencegahnya. "Jangan di lepaskan, pakai saja untukmu. Aku kuat, tidak seperti mu, lemah."
Alana tersenyum miring. "Ada saja hal-hal yang kau katakan untuk menyepelekan ku."
Alana sejujurnya merasa bingung dengan tingkah Satya Aditama ini, dia mau-nya apa? Terkadang lembut membuat siapapun merasa nyaman dengannya, tapi terkadang juga perkataannya tak bisa di jaga dan bisa di bilang agak kasar--ya, memang kasar.
"Hujannya semakin deras, lebih baik kita pulang saja bagaimana? Disana akan hangat karena kita berganti pakaian, sedang-kan disini angin-nya dingin." Alana tidak tega dengan keadaan Satya menahan gejolak dingin ditubuhnya. Padahal Alana sudah memakai jaket tebal pun tetap kedinginan, apalagi Satya yang hanya memakai kemeja tipis. Ia hanya khawatir akan pria itu.
"Tapi perjalanannya lumayan jauh Lana. Kau mau sepanjang jalan kita hujan-hujanan?" Sejujurnya Satya tak ingin Alana masuk angin karena kehujanan. Ia sungguh khawatir akan gadis itu, walaupun sebenarnya ia sangat kedinginan.
Alana tersenyum ceria, gigi putihnya terlihat jelas dengan matanya yang ikut tersenyum lalu berkata, "Ya kenapa tidak? Hujan-hujanan sangat seru tahu!"
Satya tersenyum sangat tipis dan dalam sekejap memudarkan senyumannya kala melihat senyuman manis dari Alana. "Tetap saja tidak, aku tidak mau mengambil resiko jika kau sampai sakit. Aku tidak mau mengurus korban yang sakit." Satya kembali bersikap angkuh.
Alana memutar bola matanya malas dan menatap Satya dengan tatapan tak sukanya. Bibirnya tak lagi tersenyum dan memilih untuk diam.
Beberapa menit kemudian Alana melirik lagi ke arah Satya. Disana pria itu tengah memeluk tubuhnya sendiri, terlihat sangat kedinginan dan Alana merasa tidak tega melihatnya. Kenapa aku harus merasa kasian pada penculik itu? Seharusnya kau puas Lana! Dia kedinginan, harusnya kau senang! Ingat, dia menculikmu! Dirimu! batinnya memaksanya untuk sadar.
KAMU SEDANG MEMBACA
SANA
Romance(A Seri SANA 1) Diculik oleh pria tampan, seksi dan pemarah? Alana Adijaya tidak pernah menyangka jika dirinya akan menjadi korban penculikan. Ia selalu berpikir bahwa dirinya akan menjadi satu-satunya manusia yang aman, hanya pemeran utama lah yan...
