Oh, Shit..
Rasanya kepalaku mau pecah saat aku membuka mata, dan… tunggu dulu.
Dimana ini?
Chiara duduk di sisi tempat tidurku, menaruh punggung tangannya tepat di keningku.
“Kamu?”
“Syukurlah suhu tubuhmu sudah stabil tidak seperti kemarin.”
“Kenapa aku bisa di sini?” aku berusaha menegakkan kepalaku untuk duduk, tapi Chiara menahan pundakku.
“Hey.. slow down. You must to rest now, Sunny.”
“Memangnya aku kenapa? Dan dimana ini?”tanyaku tak nyaman.
“Kamu demam tinggi, sepulang dari restoran tadi. Apa kau tidak ingat? Temanku menemukanmu hampir pingsan dekat tempat parkir, kebetulan saat itu aku dan beberapa temanku sedang ada janji untuk bertemu di restoran itu. Hampir saja dia mau membawamu ke rumah sakit, tapi aku tahu mencegahnya dan membawamu ke apartementku.” Jelasnya.
Aku berusaha untuk mengingat kemudian memandang canggung kearahnya.
kedua mataku menangkap sosok Frans yang tengah menatap heran kepadaku, sepertinya ia merasa aneh dengan interaksi antara aku dengan Chiara.
Tentu saja, ini kali pertama frans bertemu dengan Chiara yang nota bene adalah adik tiriku atau lebih tepatnya anak kandung Arsih wanita yang menikahi ayahku 11 tahun yang lalu.
Aku kembali mengingat dengan jelas bahwa sore tadi aku benar-benar sangat kelelahan, dan beruntung tak ada satu hantu pun yang mencuri kesempatan untuk merasuki atau menjahiliku.
“Aku tahu kau pasti masih membenci rumah sakitkan? Karena itu aku menyuruh temanku untuk mengantarmu kesini, kau tak keberatankan?”sambungnya lagi, membuyarkan lamunanku.
Aku cuma mengangguk pelan dengan ragu-ragu.
Frans berjalan mendekat kearahku dan duduk disamping ranjangku sambil menekuk wajahnya karena penasaran.
Aku menoleh kearahnya dengan mata sayu.
“Sunny, siapa dia?” tanya frans sambil menunjuk kearah Chiara yang sedang mengambil selimut untukku.
“Chiara.”jawabku singkat.
“Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu?”jawab chiara.
Aku menggeleng pelan.
“Maaf tadi aku tidak bicara denganmu tapi dengan teman hantuku.”ujarku pelan.
Nampak jelas raut wajah takut tercetak diwajahnya, tapi ia segera kembali menormalkan raut wajahnya seperti semula.
“Apa dia hantu yang baik?”tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
Aku memandang sekilas kearah Frans yang mulai memasang wajah imut kepadaku.
Menjijikkan!
Selalu saja ingin dipuji.
Dasar bocah!
“Ya”jawabku singkat.
“Sunny, kau baik sekali. Aku tambah.. tambah.. tambah.. sayang sekali padamu.”sambung frans dengan senyum lima jarinya.
“Cih.. yang benar saja.”ketusku pada frans.
Chiara nampak gugup dan canggung melihat tingkahku.
Ku rasa dia Shock melihat tingkahku.
“Tapi Sunny, lebih baik kita pulang saja. Di sini terlalu asing bagiku, aku tak menyukainya.”

KAMU SEDANG MEMBACA
Pemandu Jiwa
TerrorSunny, gadis indigo yang menjalani hidupnya dalam kesendirian karena diusir oleh keluarganya sendiri. Dalam menjalani kehidupannya, ia di temani oleh Frans si hantu cilik yang selalu membantunya dimana saja hingga akhirnya sesuatu terjadi dan membua...