Episode 4 : Teman Baru

3 0 0
                                    

“Raina kecil berlagu dengan merdu..

Meskipun langit sedang gelap kelabu..

Terpatri sesaat akan tingkah laku..

Yang kini membuat langkah meragu..

Raina kecil mulai menari dengan rapuh..

Diatas bentangan karpet biru..

Jiwanya seakan membeku..

Mengikis kisah yang pelu..

Raina kecil menggumam senduh..

Suaranya tadi merdu kini meredup..

Raina kecil ingin bersenandung..

Berusaha menghangatkan malam yang beku..”

Aku terus-menerus bergerak gelisah ditempat tidur. Keringat dingin mulai membasahi dahiku terus-menerus, telingaku terus saja mendengar alunan puisi yang entah siapa yang membacakannya.

Nampak dalam penglihatanku tiba-tiba seorang gadis berambut pendek sedang berlari-larian ditengah derasnya hujan.

Tawanya begitu hangat dan renyah dipendengaranku. Pakaian hitamnya kelihatan lusuh dengan pita merah dilehernya, gadis berambut pendek itu terus-menerus menari dan berputar ditengah derasnya hujan.

Aku berusaha mendekati gadis itu tapi nampaknya gadis itu seolah tak menyadari kehadiranku. Dari tampangnya bisa kupastikan kalau gadis ini berusia sekitar 15 atau 16 tahun.

Dari perawakannya bisa ku lihat kalau gadis ini kelihatan sedikit pendiam dan pemarah, entahlah tapi firasatku sendiri yang mengatakannya.

Aku berusaha meneguk ludahku kasar sambil perlahan mendekati gadis berambut pendek itu yang tengah menari dengan basah kuyup.

Gadis itu tak bergeming sedikitpun. Tapi baru saja tanganku terulur untuk menyentuh bahunya, sebuah tangan lain berlumuran darah dan bernanah memegang tanganku tiba-tiba.

Aku terlonjak kaget.

Sesosok gadis berambut pendek dengan wajah pucat dan tentu saja semua tubuhnya basah kuyup tengah berdiri dihadapanku.

Nafasku mulai memburu. Dadahku kembang kempis berusaha mencari pasokan udara disekitarku. Kulirik kearah gadis berambut pendek yang sejak tadi menari namun nihil, entah kemana aku sendiri tak tahu yang jelas gadis berambut pendek yang kulihat tadi telah menghilang dan yang kini ada dihadapanku adalah sesosok gadis dengan perawakan mengerikan sedang memegang tangan kananku.

Aku memejamkan mataku.

Bau anyir darah dan busuk dari dari pergelangan tangan gadis itu mulai menyeruak masuk kedalam indera penciumanku.

Perutku mulai terasa mual.

“Siapa? Kamu siapa?”tanyaku memberanikan diri. Sungguh aku tak tahan lagi, mungkin sebentar lagi aku bakalan pingsan.

“Kamu siapa?”ulangku masih dengan mata terpejam.

“Aku si gadis pembenci hujan. Hujan turun saat mendung, hujan membuatku tak bisa keluar dan hujan mengambil semuanya dariku.”bisiknya disusul tawanya yang mengerikan.

Ku buka perlahan-lahan mataku memberanikan diri untuk memandangnya.

Shittt!!!!

Tawanya begitu menyeramkan, bibirnya yang sedari tadi terkatup kini menyeringai lebar hingga mendekati telinganya. Menetes satu persatu darah dari sudut bibirnya dan matanya yang sedari tadi menatap datar kearahku kini mulai bulat membesar seperti memelototiku. Gigi-giginya yang runcing bersiap menerkamku.

Pemandu JiwaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang