Episode 2 : Masa Lalu

5 0 0
                                    

“Aku bahkan belum sempat dilahirkan mama..? Kenapa melupakanku? Kenapa tak ada sebuah nama untukku? Apa aku cuma sebuah masa lalu yang harus dikubur dalam-dalam? Aku hidup mama!! Aku hidup, meskipun di dunia yang lain.”Frans berteriak lirih sambil berusaha menguncang-guncang bahu ibunya yang serasa seperti angin kosong ditangannya.

“Bahkan aku tak bisa menyentuh mama? Tak bisa merasakan hangatnya dekapan mama? Aku juga ingin mama membelaiku, melihatku lalu tersenyum sambil berkata kalau aku adalah anak lelaki mama yang paling tampan.”isaknya lagi sambil berlutut dihadapan ibunya yang tengah duduk membisu sambil mengelus sebuah bola kaki di pangkuannya.

“Tapi kenapa mama nggak bisa jagain aku? Nggak mau liat aku bertumbuh? Kenapa mama cuman biarin aku hidup selama sebulan? Kenapa mama tega ngelupain aku bahkan sebuah nama pun tidak mama berikan padaku!!”marahnya tiba-tiba, kulihat dia berusaha untuk mencekik dan melukai wanita yang kurasa adalah ibunya sendiri, meskipun aku rasa ia sendiri tahu kalau usahanya itu bakal sia-sia belaka.

“Kamu harus mati..kamu tidak pantas menjadi seorang manusia!! Tidak ada ibu di dunia ini yang berhati busuk sepertimu.”geramnya lagi.

Kulirik kearahnya yang tak lagi berperawakan seperti biasanya.

Ia mulai menunjukkan wajah aslinya yang belum berbentuk sempurna, aku menutup mataku seketika.

Takut.

Bau anyir darah mulai tercium dalam indera penciumanku dan aku mulai menyeka pelan hidungku dengan saputangan.

Perlahan ku buka mata dan ku lirik lagi kearahnya yang benar-benar  mengerikan berdiri sambil tertawa mengejek ke arahku dan ibunya.

“Cukup..!!!”teriakku sambil memejamkan mata dan menutup kedua telingaku dengan telapak tangan.

Peluh mulai membasahi dahiku. Nafasku mulai tersengal-sengal.

“Sial..!!! Dasar bocah..!!” batinku kesal.

Ddddrrrtttt…

Ddddrrrttt…

Getar dari handphoneku berhasil menyadariku dari lamunan laknat ini. Banyak pengunjung toko yang mulai terganggu dan melirik aneh padaku, bahkan ada yang mulai berbisik mengataiku wanita gila.

Dasar!!!

Ku hirup perlahan-lahan udara yang ada seakan aku kekurangan pasokan udara disekelilingku, keringat dingin mulai menguncur keluar kembali disekitar dahiku.

Ku keluarkan handphoneku yang sedari tadi bergetar dari balik saku jaket.

Kulihat sepintas ternyata Willy yang mengirim pesan singkat padaku.

“Sore ada pertemuan dengan prodi jam empat, jangan sampai telat.”

Aku mendesah pelan setelah membaca pesan singkat tersebut.

Sial!!!

Bahkan tak ada waktu istirahat untukku. Oh.. aku benar-benar merasa lelah.

“Ok.”

Setelah membalas pesan singkatnya, kumasukkan kembali handphoneku ke saku jaket yang kupakai. Ku lirik lagi ke arah frans yang sedang asyik memilih-milih jenis rubik yang akan dibelinya.

“Dasar bocah.. lagi-lagi ia melakukan hal ini padaku.” Gerutuku.

Tak lama kemudian kulihat ia berlari kearahku sambil membawa kedua rubik yang sedari tadi membuatnya kebingungan.

“Ah.. sunny, mana yang menurutmu lebih bagus yang segitiga atau yang persegi empat??”tanyanya sambil menunjukkan kedua rubik yang ada di genggamannya.

Pemandu JiwaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang