Para karyawan yang sedang mengelilingi pemotongan kue oleh Maya, terperanjak melihat ke hadiranku, satu persatu mereka pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali bekerja. Napasku seketika terasa sesak melihat mas Arman merangkul Maya dan membantunya memotong blackforest di meja. Di atas kue itu tertancap lilin merah bertulisakan angka 28. Saat melihat kehadiranku, buru-buru ia melepaskan rangkulan tangannya.
Jangan ditanya sakitnya hatiku saat itu, teryata mas Arman sedang merayakan hari ulang tahun Maya yang bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan kami. Mataku tertuju pada sebuah kotak di meja. Kado yang dulu kukira untukku sebagai hadiah ulang tahun pernikan kami, ternyata kado untuk ulang tahun Maya.
"Papa, siapa yang ulang tahun?" Bian mendekati papanya, dia masih terlalu kecil untuk mengetahui yang terjadi. Mas Arman terlihat gugup.
"Bian, mau? Ini ambil!" Maya memberikan sepotong kue dari tangannya. Bian melirik padaku, seolah minta persetujuan. Sesaat aku menarik napas, lalu mengangguk perlahan. Tapi entah mengapa Bian seolah melihat luka di mataku, dia menolak kue itu lalu kembali mendekatiku. Kuusap kepalanya dengan lembut, tanpa terasa air mataku kembali tumpah. Karena tidak ingin membuat keributan di restoran, aku membawa Bian pulang. Aku menagis di kamar mandi, agar Bian tidak melihatnya.
Tanpa terasa, sudah setahun lebih kami menjalani poligami. Kupandangi bayi mungil di depanku, setiap kali menatapnya hatiku teriris. Hatiku meronta harus mengasuh buah kasih suamiku dengan wanita lain. Saat itu juga, aku terbersit untuk bercerai. Aku sudah tidak sanggup lagi mempertahankan pernikahanku. Aku selalu berharap hari esok akan lebih baik. Besok mas Arman akan menyadari kekhilafannya, tapi nyatanya hari itu tidak pernah datang.
"Mas, aku ingin bercerai," ucapku saat mas Arman dan Maya datang menjemput Agny.
"Bicara apa kamu, Nay?" ucap mas Arman acuh seolah kata-kataku barusan hanyalah sebuah rengekan anak kecil yang merajuk.
"Aku mohon, Mas. Ceraikan aku. Jika kau tidak mau menceraikan aku, maka aku yang akan menceraikanmu!"
Mas Arman menatapku tajam, "Baik. Kalau itu mau kamu, detik ini juga aku talak kamu!" bagai petir di siang hari, suara mas Arman terdengar bagai geledek yang menyambar di telingaku. Aku tidak menduga secepat itu dia mengabulkan permintaanku. Tapi nasi sudah jadi bubur, talak sudah terucap, maka tidak ada pilihan selain terus melangkah.
**
Hari ini, disinilah aku berada, disebuah hotel bintang lima. Setelah usaha restoranku bangkrut, aku benar-benar frustasi. Aku kembali menunpang hidup ke rumah orangtuaku. Aku bersyukur memiliki orang tua seperti mereka, berlapang dada menerima keadaanku saat itu. Karena tidak tahu harus berbuat apa, aku menulis sebuah cerita. Cerita tentang indahnya cinta yang tidak kudapatkan di dunia nyata. Aku menumpahkan harapanku akan sebuah kisah cinta sejati sehidup semati. Menciptakan tokoh lelaki idamanku, dan menciptakan tokoh wanita seperti diriku. Sebuah kisah cinta yang sempurna seperti mimpiku. Tidak kusangka, imajinasi yang kutuliskan berbuah pundi-pundi yang terus mengalir ke rekeningku.
" Mba Nay, kenalkan ini Mas Wibi, sutradara yang akan memfilmkan novel kamu," ujar Seli, manager di tempatku menerbitkan buku.
"Selamat siang, mas Widi," sapaku ramah melempar senyum tipis padanya.
"Selamat siang mba Nayla, terima kasih sudah memenuhi undangan saya." Aku tersenyum simpul membalas ucapan terima kasihnya. Sesaat kemudian kami larut dalam sebuah perbincangan serius. Tanpa banyak kendala, kami berhasil mencapai kata sepakat untuk bekerja sama.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tergoda Setelah Kaya
RomanceNayla tidak pernah menduga, Arman suaminya tega berselingkuh Di belakangnya, setelah apa yang sudah mereka lalui bersama. Pahitnya kehudupan di awal pernikahan, mampu mereka lewati bersama. Senyum dan pelukan, selalu hangat menghiasi hari-hari merek...