Part #1

35 2 0
                                        

semua yang terlihat baik-baik saja didepan orang nyatanya tidak sama dengan apa yang dirasakan orangnya sendiri.
Bibir boleh senyum namun hati siapa yang tahu?

>Hujan di Langit Kajang<

---------
4.15 dini hari,seorang gadis berwajah oval beralis lebat  itu kini sudah duduk manis di dalam bus. Dengan balutan kerudung hijau dan hondiee biru bertuliskan sonny.

Matanya memandang lurus tiap titik hujan yang turun di balik jendela bus. Bahkan bus yang ramai dengan di penuhi teman satu kerjanya saja tidak mampu mengalihkan perhatianya. Matanya memang memandang hujan namun pikirannya melalang buana.

Jika dulu ia bisa menikmati mimpinya diwaktu seperti ini, kini berbeda mengingat tujuanya berada disini.
Gadis itu harus bisa memulai kebiasaan baru,Bahkan jika dulu hujan menjadi penghalanya untuk beraktivitas,sekarang jangankan hujan petir badai sekalipun akan ia lewati selagi kakinya masih bisa berdiri tegak.
Seakan hanyut dengan lamunanya tak sadar bahwa bus kini sudah berhenti di depan bangunan besar bernuansa putih yang berkutat di bidang  perindusrian elektronik.

“ nda enggak turun, atau mau ikut sama wawak bus ini jadi kernek?” ucap dinda asal dengan logat medannya.

HENING

Merasa di hiraukan, sengaja dinda menginjak kakinya sebelum keluar dari bus.

Bughh!!!

“Auu”, gadis itu meringis kesakitan sekaligus tersadar dari lamunanya, dan menoleh pada orang yang baru keluar dari bus. Siapa lagi kalau bukan dinda, salah satu teman seprofesi yang juga berasal dari Medan. Ia termasuk dekat dengan dinda selain satu kamar dinda juga mudah care sama orang, tapi kedekatan mereka diwarnai pertengkaran. Karena kelakuan Dinda yang seperti anak kecil. Apalagi suara toa yang siap bikin telinga orang meledak mendengarnya.

Seusai turun Handa meneriaki Dinda

"Dinda!"

Merasa namanya dipanggil, dinda menoleh. Namun setelah tahu siapa yang memanggilnya Dinda memutar bola matanya dan pergi begitu saja.

"Yee malah marah, kurang semok lu."

"Good morning Handa"

"Ini lagi apa sih zan, gak usah sok ramah. By! " Ucapnya sarkas.

Meninggalkan rozan dan masuk kedalam gedung bernuansa serba putih itu bertuliskan Sony EMCS. Yang merupakan salah satu pusat perindustrian didirikan pertama kali di negara Jepang.

Seiring memasuki gedung tersebut handphonenya bergetar, menandakan ada notifikasi yang masuk.

Assalamualaikum
Good morning, jangan lupa jaga kesehatan.

Isi pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya dari SMA itu. Pesan dari sari membuat dia tersenyum masam. Karena teringat kelakuan gadis itu yang sedikit berubah, padahal Diantara mereka berenam hanya dengan sari lah ia lebih dekat, bahkan ia tak segan-segan bercerita sekedar menumpahkan beban pikirannya.

---------
Flashback on

Semasa SMA teman kelasnya akrab memanggil Handa dengan sebutan alis, karena alisnya memang lebat. Dan Handa tak pernah mempersalahkan panggilan namanya itu.

"Lis tamat SMA mau lanjut kemana"

"Enggak tahu" jawab Handa cuek.

"Santai kali bah macam enggak punya beban" nimburung Pina.

"Nikah langsung kan Lis" celoteh Nita.

Di respon dengan tawa dari Aisyah, pitri dan yang lainnya.

"Oh iyalah jelas cari yang udah mau mati tapi banyak hartanya".

Guraunya, yang langsung dapat keplakan dari teman-temanya.

Begitulah Handa tidak pernah mau terbuka jika mereka sedang berkumpul sikap privasi  Handa ditutupi dengan sikap humorisnya. Dan hanya Sari yang tahu kepribadian aslinya Handa, karena memang hanya kepada Sarilah Handa bercerita bahkan keputusannya untuk berangkat ke negeri asing ini Sari lah yang pertama kali tahu.

"Serius kau mau ke malaysia?"

Tanyanya setelah tau kalau Handa dalam waktu beberapa bulan akan berangkat ke Malaysia.

"Maybe" dengan alis yang terangkat satu.

"Kenapa bisa sampai mikir terbang kesana?, Terus enggak lanjut kuliah?"

Segala pertanyaan di lontarkannya seakan enggak setuju jika Handa sampai pergi ke negeri orang.

"Kalau aku disini pikiran aku enggak berkembang, terus kalau disuruh kuliah, otak aku enggak sanggup mikir".

"Tapi itu jauh Lis, kau enggak akan bisa pulang sesuka hati mu disana."

"Aku tahu, kalau aku sudah memutuskan sesuatu berarti aku siap ambil resiko."

"Kau enggak mikirin ibu mu?, Kau ini perempuan yang seharusnya jaga ibumu bukan malah kau yang cari uang"

jelas sari yang masih tetap tak terima atas keputusan Handa.

"Tapi aku paling besar, sudah seharusnya aku yang harus bahagiakan mereka" tegas handa.

Kalau sudah seperti itu Sari menyerah gimana pun ia menjelaskan pasti tak akan merubah keputusannya. Yang bisa di lakukannya hanya berdoa semoga Malaysia jadi jalan terbaik buat Handa.

Tapi setelah Handa di Malaysia, Sari sedikit berubah ia sudah jarang bertanya kabar mungkin gadis itu sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya atau karena punya teman lebih menyenangkan darinya, entahlah. Handa tak begitu mementingkan hal tersebut karena ia harus fokus pada tujuannya berada disini.

Flashback off

" Woy dah masuk tuh, melamun mulu" tegur dinda yang langsung masuk terlebih dahulu.

Suara Dinda  menyadarkan  kembali Handa dari lamunannya. Teringat pesan sari belum di balas, ia langsung membalasnya sembari  melangkah masuk.

Waalaikumsalam,too and thanks.(send)

Melihat dinda Handa baru teringat bahwa Dinda sudah dari tadi masuk, kenapa tiba-tiba disini.

"Din perasaan tadi kau dah masuk deh, kok bisa ada depan kilang lagi?"

Dinda memutar matanya jengah malas menanggapi pertanyaan Handa.

"Kau Kenapa sih dari tadi melamun mulu"

Yang ditanya hanya menaikan bahu saja, seolah tak ingin mempermasalahkan.

"Kalau ada apa apa cerita nda, kita satu nasib di sini kalau bukan kita yang saling menguatkan siapa lagi?" Nasehat Dinda

"Tapi maaf ada hal yang tidak bisa aku ceritakan ke orang lain, mungkin kita satu nasib dan bahkan satu tujuan. Namun apa yang aku rasakan dengan orang lain rasakan belum tentu sama".

-----

Buat kalian yang sudah menyempatkan membaca ceritaku, aku harap Jangan pernah bosan untuk ikutin ceritaku terus yaa.
Jazakallahu khairan assalamualaikum :)

Hujan Di Langit KajangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang