Satu minggu telah berlalu sejak insiden "sayang" yang memalukan itu, namun bagi Park Jimin, rasanya luka di harga dirinya masih basah. Sementara bagi Rose, hidup barunya di Seoul mulai terasa seperti rutinitas yang menyenangkan.
Pukul 07.15 pagi, kediaman keluarga Park mendadak geger. Suara gedoran pintu kayu yang brutal mengguncang kamar Rose. Chanyeol berdiri di sana dengan wajah jahil yang sudah mencapai level maksimal. "Chae-young! Bangun! Kamu mau jadi fosil di dalam sana?" teriak Chanyeol. Tidak ada sahutan. Hanya keheningan yang menyebalkan.
Chanyeol memutar otak. Sebuah ide cemerlang sekaligus licik melintas. "Wah, gila! Jimin sudah ada di bawah, Dek! Dia membawakan sarapan buat kamu!"
Cklek!
Pintu terbuka dalam waktu kurang dari tiga detik. Rose muncul dengan rambut berantakan mirip sarang burung, mata yang masih setengah terpejam, dan sisa kantuk yang menggelantung di wajahnya. "Mana? Jimin di mana, kak?" tanyanya panik sambil sibuk mengusap sudut bibirnya.
Chanyeol meledak dalam tawa hingga harus memegangi perutnya. "Hahahaha! Dasar kamu! Bilang saja kalau sudah jatuh cinta. Disebut nama Jimin saja langsung melek. Bagaimana kalau dia datang melamar? Mungkin kamu langsung pingsan di tempat!"
Rose menyadari keningnya baru saja dijitak pelan oleh kakaknya yang menyebalkan itu. Ia mengerucutkan bibir, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal. "Sakit, ih! Kakak jahat banget!"
"Sudah, cepat mandi. Jangan sampai hari ini kamu telat lagi," ucap Chanyeol sambil mendorong adiknya kembali ke dalam kamar.
Di ruang makan, suasana terasa jauh lebih tenang dan hangat. Aroma sup hangat dan roti panggang memenuhi ruangan. Rose turun dengan seragam yang sudah rapi, wajahnya kini jauh lebih segar.
"Selamat pagi!" sapa Rose ceria.
"Pagi, Sayang," jawab sebuah suara berat yang sangat dirindukannya.
Rose terbelalak. "Ayah? Kapan Ayah pulang?" Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari dan memeluk pria paruh baya yang selalu sibuk dengan urusan bisnis di luar kota itu. Sang Ayah tertawa hangat sambil mengusap kepala putrinya. "Tadi malam. Kamu sih, terlalu asyik menonton drama di kamar sampai Ayah masuk ke rumah pun kamu tidak tahu."
Chanyeol menyahut sambil mengunyah rotinya dengan santai. "Benar itu. Kakak sudah menggedor pintumu semalam, tapi suara tertawamu dari dalam malah makin kencang. Dasar anak drama."
Rose hanya bisa menyengir tanpa dosa sementara Ibunya menuangkan susu ke gelas masing-masing. Kehangatan meja makan itu terasa lengkap pagi ini.
Suasana kelas pagi itu benar-benar kacau. Rose masuk dan disambut oleh pemandangan Lisa yang sedang bersimpuh di depan meja Jisoo dengan wajah memelas.
"Jisoo! Temanku yang paling cantik sedunia! Tolong aku, bagi jawaban PR Kimia dong! Aku lupa mengerjakannya semalam karena ketiduran!" rengek Lisa.
Jisoo menutup novelnya dengan gaya elegan, lalu memberikan tawa mengejek. "Makanya, pasang alarm yang kerasnya seperti suara toa sekolah supaya satu komplek bangun. Rasakan itu panikmu sekarang."
"Jahat banget! Ayo dong, Jisoo, sebelum si Bapak Botak masuk kelas!" Lisa hampir menangis. Rose yang merasa tidak tega akhirnya menyodorkan bukunya ke arah Lisa. "Nih, pakai punyaku saja kalau kamu mau."
Mata Lisa seketika berbinar seolah melihat malaikat turun dari langit. "Aaa! Rose! Kamu benar-benar penyelamatku!" Lisa langsung menyambar buku itu dengan kecepatan cahaya. Tak lama, Jennie datang dengan napas terengah-engah dan langsung ikut bergabung dalam "lingkaran ilegal" menyalin PR tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
ECHOES OF ROSEANNE | JIROSÉ [END]
Chick-LitGenre : Romance, Chicklit, Action, Thriller Roseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa...
![ECHOES OF ROSEANNE | JIROSÉ [END]](https://img.wattpad.com/cover/243090635-64-k346828.jpg)