3. who?

1.6K 145 25
                                        

Sudah seminggu sejak tahun ajaran baru dimulai. Semua siswa dan siswi SMA Pelita kembali ke rutinitas mereka seperti biasa, tak ada yang berubah, semuanya terasa sama, begitu juga dengan Saveri yang masih belum juga menampakkan batang hidungnya.

Pagi itu suara deru mesin motor Ninja memecah keheningan gerbang sekolah.
Seorang pria dengan helm full-face hitam melaju cepat memasuki area SMA Pelita, lalu berhenti mulus di parkiran. Ia melepas helmnya perlahan—dan seketika, udara di sekitar seperti ikut menahan napas.

Beberapa siswa yang melihatnya langsung terpaku. Wajah itu terlihat begitu familiar, dan begitu memikat untuk dilupakan.
Beberapa bahkan menutup mulut mereka, seolah takut salah menyebut nama yang mulai terlintas di kepala.

Tanpa basa-basi, laki-laki itu berjalan santai menuju ruang kepala sekolah. Ia membuka pintu tanpa mengetuk, lalu duduk di kursi tepat di depan guru yang menatapnya tajam.

“Ckk… gak ada sopan-sopannya kamu!” seru sang guru kesal.

Bukannya menjawab atau apa, lelaki itu malah bersedekap dada sambil menatap guru di depannya.

Guru itu mendengus kesal, lalu mengambil setumpuk kertas.

“Kerjain semua soal ini. Ibu kasih waktu seminggu. Kumpulin ke ibu nanti.”

“Gak bisa pertanyaan lisan aja, Bu? Malas baca” ujarnya dengan nada malas yang sukses membuat guru itu ingin melempar penghapus ke mukanya.

“Udah ngilang lama, gak ada kabar, balik-balik banyak maunya lagi kamu ini!” gerutunya.

Akhirnya, dengan napas panjang penuh pasrah, guru itu memberi ujian lisan.
Dan anehnya, semua pertanyaan berhasil dijawab dengan sempurna.

“Otak kamu masih bekerja dengan baik ternyata,” kata guru itu, separuh kagum separuh jengkel.

Laki-laki itu hanya mengangkat sebelah alis lalu berdiri, keluar tanpa pamit.
Langkahnya ringan tapi tegas. Ia menuju rooftop tempat yang dulu jadi markasnya.
Ia tahu, hari ini namanya akan kembali  menjadi bahan gosip seluruh sekolah.
Sampai di rooftop, ia menjatuhkan diri di sofa favoritnya, lalu merogoh ponsel dari saku.

---

Tepat pukul 06.45, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang sekolah.
Giaera turun, seperti biasa is diantar oleh supir keluarganya. Terlihat sekolah sudah ramai oleh siswa - siswi, bel pertanda masuk sebentar lagi juga akan berbunyi.

“Gi!”
Teriakan ceria itu datang dari Chelestia, disusul Meara yang melambaikan tangan.

Ketiganya berjalan bersama menuju kelas, menebar senyum ramah pada siapa pun yang menyapa. Tapi suasana di sekolah pagi ini terasa sedikit berbeda...

Di dalam kelas, sekelompok siswi sudah berkumpul, tampak sedang antusias membicarakan sesuatu.
Karena penasaran, Giaera dan kedua sahabatnya pun bergabung dengan mereka. Apa yang terjadi hari ini?

“Ada apa nih? gue liat dari tadi sekolah rame banget kayak ada gosip besar,” tanya Meara.

“Gue denger dari adek kelas, katanya ada cowok ganteng banget masuk sekolah. Terus ada yang bilang... itu Saveri!” jawab salah satu siswi dengan mata berbinar.

Tiga sahabat itu langsung saling pandang, tentu sajaa mereka begitu terkejut tapi mencoba tetap tenang.

“Tapi katanya juga itu cuma gosip aja, udah beberapa kali beredar kabar Save balik, tapi gak pernah terbukti juga tuh,” lanjut gadis itu.

Giaera cuma mengangguk kecil.
Entah kenapa mendengar berita simpang siur itu membuat dadanya terasa sedikit berdebar.
Bel masuk berbunyi, dan semua dengan gerakan cepat kembali ke bangku.
Guru fisika masuk, dan seperti biasa, pelajaran favorit sejuta umat itu sukses membuat separuh kelas ingin migrasi ke planet lain.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SAVEGIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang