2. Ethereal without leader

1.6K 156 47
                                        


Hari ini tepat genap satu tahun sejak Saveri ketua geng motor Ethereal dilarikan ke luar negeri setelah insiden penusukan malam itu.
Satu tahun sejak sosok yang mereka segani, pemimpin mereka, menghilang dari dunia yang penuh kebisingan dan luka.

Tak banyak yang tahu ke mana Saveri pergi. Bahkan anggota Ethereal sendiri kehilangan jejaknya. Kedua orang tuanya sengaja merahasiakan segalanya, mereka takut ada mata-mata di antara anggota geng tersebut, hal ini akan membahayakan proses penyembuhan Saveri. Sejak malam berdarah itu, nama Saveri Khares Lecester hanya tinggal bisikan samar di antara lorong-lorong sekolah.

Di rooftop SMA Pelita, tiga orang lelaki duduk bersandar di tembok, membiarkan angin sore mengacak- acak rambut mereka.
Damar, Daniel, dan Dafa tiga inti dari Ethereal. Biasanya, bolos dan tawuran adalah agenda wajib mereka, tapi kini tanpa Save, semuanya terasa kehilangan arah tujuan.

“Save gak ada kabar sejak tiga bulan lalu. Terakhir gue denger dia masih koma.”
ujar Damar pelan, suaranya serak menahan rindu yang bahkan enggan diakui.

Bayangkan saja harus kehilangan kabar dengan sahabat yang mungkin masih berjuang antara hidup dan mati. Mereka bertiga tumbuh bersama Saveri. tertawa, canda, perkelahian, dan kesedihan selalu mereka lewati bersama. Kini, semua itu hanyalah sebuah kenangan indah yang berputar tanpa ujung.

“Ethereal gimana? Anak-anak pasti bertanya-tanya, ke mana Save hilang selama ini,” gumam Dafa sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Gimana pun Kita harus tetap pertahanin Ethereal apa pun yang terjadi, Save udah nitipin Ethereal sama kita semua, jangan bikin dia kecewa,” jawab Daniel tegas.

Dua sahabatnya mengangguk mantap. Namun kenyataannya, Ethereal kini tak lagi sekuat dan sekompak dulu bahkan anggotanya mungkinn sudah tak menginjak seratus orang. Reputasi mereka menurun, dihina, diremehkan. Orang-orang merasa hilangkan Save sama seperti Ethereal yang punya nama tanpa jiwa, ada tapi tak hidup, dan banyak pula yang percaya Saveri sudah meninggalkan dunia ini.

“Ngitar ayo!” seru Damar tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana.
Dua teman lainnya langsung berdiri, setidaknya cuci mata bisa sedikit menghapus kekosongan yang telah merasakan rasakan selama tiga bulan terakhir ini.

Ketiganya melangkah menuruni rooftop, berjalan menyusuri koridor sekolah.
Tatapan kagum mengikuti ke mana pun mereka pergi. Tiga laki-laki yang cukup terkenal di kaum wanita SMA Pelita .
Beberapa siswi bahkan berbisik sambil menahan senyum malu-malu, berharap salah satu dari mereka menoleh.

“Bidadari kalau jalan nyantai aja tetep cakep ya, auranya gilak banget sumpah! ” ujar Dafa sambil melirik ke depan. Daniel mengangkat wajah, mengikuti arah pandangan Dafa.

“Gue masih gak nyangka sih dia ternyata masuk ke sekolah ini. Orangnya juga baik banget lagi.”

“Semoga Save masih bisa ketemu dan ngucapin makasih ke cewek ini,” gumam Damar lirih.

Nama gadis yang sedari tadi menjadi topik perbincangan mereka adalah Giaera Naomi Ananthara, Primadona SMA Pelita. Gadis dengan sejuta pesona yang mampu membuat para pria dalam sekali tatapan jatuh ke dalam pesonanya menawan, selain itu Giaera juga gadis yang sangat cantik, cerdas, pengertian , dan punya hati yang lembut seolah Tuhan sengaja menciptakan gadis ini tidak ada kekurangannya.

Giaera mengingat jelas siapa tiga laki-laki itu. Tapi ia juga mengingat sesuatu yang jauh lebih menggetarkan. Malam satu tahun lalu, ketika ia membantu seorang laki-laki yang sedang sekarat dengan luka tusuk di tubuhnya. Ia tak pernah tahu siapa namanya, tapi entah menapa bayangan wajah pucat itu masih menempel di ingatannya sampai saat ini.
Giaera hanya bisa berharap lelaki itu baik baik saja sekarang.

SAVEGIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang