Empat Belas

323 31 12
                                        

"Titania!"

Tita menghentikan langkahnya, kemudian menoleh. Pintu mobil Gala terbuka. Pemuda itu memicingkan mata sebelah kanan sambil tersenyum. Tangannya mengarah ke kursi penumpang. Ia mempersilakan Tita untuk naik ke mobilnya.

Sambil menyilangkan tangan di depan dada, Tita menggelengkan kepalanya. Tatapannya tajam tanpa senyuman. Gala terkesiap, lalu bergegas mendekat ke posisi wanita itu berdiri.

"Kamu gak lihat penampilanku malam ini? Kemeja rapi gini, masa cuma nganter tugas?"

"Maksud kamu?"

"Gak mungkin aku biarin dosenku yang malam ini tampil memesona hanya menerima tugas dari mahasiswanya saja."

"Aku di-prank lagi?"

Gala hanya terkekeh sambil menangkupkan kedua tangannya. Tita berdecak kesal. Ia sudah telanjur malu di hadapan Gala tadi.

"Dasar, Galaksi tukang prank. Kualat kamu sama orang tua."

Tita memukul lengan Gala dengan tas selempangnya berkali-kali. Pemuda itu malah terbahak.

"Ampun, Bu. Aku kualatnya berubah status aja, deh."

Tita menghentikan pukulannya. Ia tidak paham dengan maksud Gala.

"Kualat berubah status?"

"Iya, mahasiswa yang sering nge-prank dosennya, akhirnya kualat. Statusnya berubah jadi calon suami."

Tita tergelak mendengar penuturan Gala. Ia menggelengkan kepala, merasa gemas dengan sikap pemuda yang selalu punya celah untuk bisa membuatnya tersipu itu.

"Sudah, cepat masuk. Kasihan itu lipstik kalau cuma dilihatin anak kos."

Tita mencebik mendengar Gala yang masih menggodanya. Namun, sedetik kemudian hatinya menghangat mendapati senyuman dan tatapan tulus pemuda di hadapannya. Tita pun mengangguk, kemudian menuju mobil. Mereka lalu menuju tempat yang sudah ditentukan Gala, sebuah restoran dengan konsep outdoor.

Mobil Gala sudah tiba di tempat parkir. Mesin sudah mati tetapi Tita belum juga beranjak dari kursinya.

"Ayo turun," ajak Gala sambil membuka seat belt-nya. "Mau dibukain juga?"

Tita menggeleng cepat.

"Kenapa harus restoran, Ga?"

"Kamu gak suka tempat ini?"

Tita menggelengkan kepala.

"Ya sudah kita cari tempat lain."

"Bukan, bukan gak suka, Ga. Ini terlalu berlebihan."

Gala merubah duduknya sedikit miring ke arah Tita. Ia kemudian menyunggingkan senyuman sambil menatap wanita yang juga sedang memandangnya itu.

"Menurutku ini pantas diberikan untuk orang yang spesial."

Tita terkesiap hingga bisa merasakan desiran halus pada hatinya atas ungkapan manis Gala.

"Aku gak masalah kamu ajak makan di pinggir jalan, kok. Atau mungkin kamu yang risih kalau harus makan lalapan?"

Gala manggut-manggut. Ia merasa yakin dengan wanita yang menjadi pilihan hatinya itu. Kesuksesan dalam karir memang sudah digenggamnya. Hal tersebut membuat beberapa wanita yang sempat dekat dengannya, hanya fokus pada materi saja. Namun, Tita wanita yang berbeda di matanya.

"Kamu mau makan lalapan? Gampang, next time," ujar Gala sambil mendekatkan tubuhnya ke Tita. Wanita yang selalu tampil rapi itu terkesiap.

"Eh, jangan macam-macam deh, Ga."

MEMINANG BU DOSENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang