"Itu depan belok kiri, trus lurus aja" Ucapku mengarahkan.
"Ini?" Kata Julian berhenti di depan rumah ku.
"Makasih Jul"
"Aku balik dulu ya, bye!" Pamit Julian
Aku pun memasuki rumah, kulihat ayah dan ibu sudah pulang. Tidak seperti biasanya mereka jam segini sudah dirumah, karena kesibukan mereka pada pekerjaan sampai sampai mereka jarang sekali dirumah. Sekalinya dirumah pasti selalu ada saja omelan omelan yang dilayangkan untukku.
"Baru pulang kamu?" Kata Ibu dari arah dapur
"Iya" Jawab ku, langsung masuk ke kamar.
Sejenak ku meluruskan punggung di kasur ku, ah aku teringat memo di buku ku tadi. Ku berjalan ke arah meja belajar dimana tas ku berada. Memo kuning? dari siapa?
Jel, ini tugas dari Bu Zidan, lalu ada PR di buku paket, sudah ku beri tanda dengan sticky note disana. Nggak usah khawatir dengan Bu Zidan, beliau sudah ku atasi
siapa? misterius banget.
Aku pun berjalan ke kamar mandi, membersihkan diriku agar lebih tenang saat mengerjakan tugas, banyak sekali tugas dari Bu Zidan. Setelah selesai mandi aku langsung mengerjakan tugas tugas ku yang menumpuk.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam, ah aku belum makan. Aku pun keluar kamar menuju dapur, kudapati Ayah sedang duduk di depan televisi. Kulirik kesana kemari mencari ibu, ah ternyata ada di ruang kerjanya.
"Bagaimana sekolah mu?" Ucap Ayah padaku
"Biasa saja, tidak ada yang spesial" jawabku sambil menyuapkan sesendok nasi kedalam mulut.
"Kamu tau kan kamu sekarang sudah kelas 11, banyak yang harus kamu persiapkan untuk menghadapi kelas 12 nanti, jangan sampai nilai mu turun, nilai segitu saja sudah pas-pasan, kalau bisa tingkatkan lagi. Kalo di teruskan dengan nilai seperti itu mau jadi apa kamu?" Tutur ayah,
"Kamu lihat tuh anak Tante Siwi, dia bahkan bisa meraih berbagai prestasi dan kejuaran sambil menyiapkan kelas 12 nya, sedangkan kamu? Seperti tidak ada gairah untuk sekolah? Contoh itu anak anak pintar. Jangan buat malu keluarga" Ibu pun juga ikut menuturi ku meskipun mata dan tangannya masih berkutat pada laptop didepannya itu.
"Kenapa diam?" Tanya Ayah
"Iya yah"
"Apanya yang iya?!" Bentak nya
"Jelita berusaha lebih lagi" Ucapku lemas, makanan yang ku kunya seperti tidak ada rasanya lagi, hambar. Kalau tau seperti ini lebih baik aku menahan lapar saja dari pada harus mendapat omelan mereka.
Benar benar frustasi di buatnya, di banding banding kan disana sini, mereka hanya menuntut ku saja untuk berbuat lebih tapi tak ada support moral apapun yang kurasa. Aku terkadang iri dengan mereka yang sudah orangtua nya menerima apadanya, memilih apapun yang ingin dilakukan, selalu disupport, ah aku merasa ini semua tidak adil bagiku.
Aku pun cepat cepat menyelesaikan makan ku sebelum mereka mengomeliku lagi. Lebih baik di dalam kamar saja. Ya begini lah setiap kali dirumah, kamar adalah tempat ternyaman dan sekaligus benteng ku dari omelan mereka.
Ku buka ponsel ku, banyak pesan masuk dari Fisy. Tiba tiba telepon masuk darinya.
"Jel? Lo kemana aja tadi? Gue cari ke kelas tadi nggak ada, gue nungguin sampe bel masuk tapi lo nggak balik balik, tadi juga pulang sekolah gue balik ke kelas lo juga ga ada. Sebenernya lo kenapa? kemana? ini udah di rumahkan?" Ucap Fisy balik telepon
"Satu satu tanyanya, gue kan bingung mau jawab yang mana haha" Ucapku sambil menatap keluar jendela kamarku.
"Lagian si lo pake ngilang segala, mana nggak ngabarin lagi, hobi banget lo bikin khawatir orang" Omelnya lagi
"Sorry lagi suntuk aja gue tadi"
"Lo sakit apa? gue cari ke UKS tadi juga nggak ada, padahal Julian bilang lo ada di UKS" jelasnya
"Apa? Julian bilang gitu ke lo?"
"Bukan si, waktu jam pelajaran tadi gue lewat depan kelas lo, trus waktu Bu Zidan absenin nama lo si Julian bilang kalo lo sakit, makanya gue langsung melipir ke UKS, tapi lo nggak ada di sana juga" Ucap Fisy
Kenapa Julian nggak bilang aja kalo gue cabut kelas? kenapa sampe bohong ke Bu Zindan. Bodo amat lah yang penting sekarang aman dari Bu Zidan.
Akhirnya pun kami bercerita, mengobrol kan hal hal yang tidak perlu dengan Fisy salah satu healing buatku. Kami pun mengakhiri pembicaraan setelah telepon hampir satu jam lebih. Biasanya setelah telepon dengan Fisy aku langsung mengantuk, namun kali ini aku sama sekali tidak mengantuk. Mungkin karena banyaknya pikiran akhir akhir ini.
Aku memutuskan untuk membaca-baca buku, ku baca buku seni yang tadi di berikan oleh Kakek Julian, ntah kenapa dari sekian banyaknya buku disana aku paling tertarik dengan buku ini dan ini pertama kalinya aku tertarik terhadap sesuatu. Tak terasa sudah hampir setengah buku ini kubaca tapi kantuk tak kunjung datang, mungkin karena isi nya terlalu menarik untuk di baca sampai sampai tak bisa menjadi pengantar tidurku.
Ah, aku baru mengingat masih ada satu buku yang belum ku buka, buku biru milik Julian, mungkin aku bisa mengantuk kalau membacanya. Aku pun mengambil buku biru milik Julian yang tadi di berikan padaku, buku ini sudah lusuh, sampul biru yang terlihat memiliki bercak bercak kekuningan di berbagai sisi, ku buka isi nya pun sama lembar demi lembar kertasnya sudah mulai menguning.
Aku pun penasaran kenapa buku ini diberikan padaku. Tertulis di bawa sampul nya Julian Halim Prakoso, aku baru tau nama lengkap Julian, padahal selama ini absen kami selalu bersebelahan.
14 Juli 2014
Hari ini teman teman mengejekku lagi, mereka bilang aku anak pembawa sial, padahal aku tidak berbuat apa apa kepada mereka.
Aku mengerti sekarang, ini adalah buku diary Julian. Tapi 2014 kan sudah lama sekitar 6 tahun yang lalu, kenapa ini di berikan padaku?
Kubaca halaman demi halaman, benar benar setiap kata yang tertulis disana seperti tervisualisasi di kepala ku, seperti aku berada dalam situasi Julian saat itu.
26 Desember 2016
Iri rasanya melihat teman teman ku mereka memiliki orang tua, Ayah dan Ibu. Sedangkan aku, aku saja tak tau orang tua ku berada dimana, bahkan wajahnya saja aku tak ingat. Tapi tak apa aku sudah cukup senang tinggal disini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jelita & Julian
RomanceKarena hanya perbuatan dari hati yang bisa sampai ke hati lainnya