7 Maret 2017
Katanya hari ini akan ada orang tua yang mau mengadopsi ku, ntah aku harus senang atau sedih. Bukannya ini yang memang aku inginkan? Seharusnya aku senang kan?
12 April 2017
Sudah sebulan aku tinggal disini, rumah baru, keluarga baru, senang rasanya memiliki orang tua, merasakan kasih sayang. Ayah dan Ibu sangan baik padaku, mereka mendukung apapun yang aku lakukan, senang ada yang mensupport ku seperti ini, Ternyata hidup tak melulu tentang sedih, ada bahagia juga.
one of the best moment in my life, worth the struggle, kamu hebat Julian bisa bertahan sampai saat ini.
Buku ini benar benar menceritakan kisah hidup Julian, Aku baru tau ternyata Julian seorang anak yatim piatu. Ku pikir dia dibesarkan oleh orang tua kandungnya. Aku juga tau kalau Julian korban bullying selama SD sampai SMP. Hidup di panti asuhan mulai dari kecil, aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku yang berada di posisinya dulu, apa aku akan sekuat Julian?
Bagaimana anak dengan berbagai tekanan itu bisa bertahan dengan sangat baik sampai saat ini? Dia benar benar tumbuh dengan baik, menjadi anak yang pintar, sopan dan disukai banyak orang, hebat sekali bisa bertahan..
Tak terasa air mata ku jatuh membasahi buku Julian ini. Seperti tamparan bagiku, aku yang kurang bersyukur dan kurang berusaha merubah diriku serta hidupku ini, bahkan ada yang lebih sulit hidupnya dari pada aku, kenapa aku pasrah saja dengan keadaan ini.
Julian berhasil bangkit dari masa terpuruknya, berhasil menata dirinya dengan baik dan bertahan di segala situasi. Ini kah yang mau ia tunjukan padaku?
Malam ini aku merenungkan semua perilaku dan hidup yang sudah kujalani di masa lalu. Tak terasa aku pun tertidur dengan keadaan sembab mata.
Besoknya aku terbangun dengan mata yang sedikit bengkak, mungkin setelah mandi nanti tidak terlihat. Aku pun bergegas mandi dan bersiap untuk sekolah. Setelah siap akupun keluar kamar menuju dapur kulihat hanya ada bibi, pembantu rumah tangga di rumah, beliau hanya bekerja setengah hari disini.
"Ah ayah dan ibu sudah berangkat rupanya" Ucapku sendiri
"Non Jelita, ini bibi sudah buatkan sarapan" Kata Bibi padaku.
"Ah terimakasih bi" Aku pun duduk menyantap sarapan.
"Bapak sama Ibu sudah ke kantor duluan, katanya ada keperluan mendesak, katanya juga hari ini nggak akan pulang karena ada perjalanan dinas" Kata bibi
Aku pun hanya mengangguk mendengar perkataan bibi, buat apa juga aku tau kegiatan orang tua ku, pikir ku begitu. Selesai menghabiskan sarapan aku pun langsung pamit pada bibi dan berangkat sekolah.
Sesampainya disekolah kulihat Fisy berlari menuju ke arahku.
"Jelita!" Sapa Fisy sambil berlari padaku.
"Ngapain lari lari"
"Nggak papa, haha ntar jangan ngilang kaya kemarin ya!" Ucapnya sambil menyenggol pundak ku.
"Iya iya, girang amat lo, tumben" Kata ku penasaran
"Lo lupa ya? lusa kan Ulang tahun gue! Nyokap Bokap suruh bikin party kecil kecilan di rumah"
"Makin tua lo ya! haha" ledekku pada sahabatku ini
"Ye namanya juga hidup mana ada makin muda! oh ya ntar pulang sekolah temenin gue cari baju ya"
"Buat apa? lo tau kan gue nggak betah shopping begituan, ajak temen kelas lo aja"
"Jahat banget lo sama gue, temenin aja kenapa si, gue traktir deh!"
"Yaudah yaudah" Ucapku mengalah
"Lo mah denger kata traktir aja lo baru ngeiyain" Sesalnya, aku pun hanya tertawa dibuatnya.
"Oh ya kayanya lo nanti harus makan sendiri deh" kata Fisy
"Kenapa lo?"
"Gue ada tugas kelompok mau ngerjain waktu jam istirahat, lo nggak papa kan?" jelasnya
"Oh oke, take ur time!"
Kami pun berpisah dikoridor sekolah, aku berjalan memasuki kelas. Kulihat meja Julian masih kosong, mungkin belum datang. Hari ini aku memutuskan untuk mengajak Julian bicara.
Beberapa menit kemudian kulihat Julian datang memasuki kelas, pagi pagi sudah tergambar aura senang di sekitarnya, memasuki kelas dengan tersenyum, menyapa teman teman nya, berbeda sekali denganku.
Bel masuk pun tiba, kami pun memulai pelajaran pertama hari ini. Aku harus semangat, Julian bisa bangkit kenapa aku tidak. Itu prinsip baru ku, ntah kenapa sedikit terbuka pikiranku, mungkin aku harus berterimakasih pada Julian nanti.
Bel istirahat pertama pun tiba, aku berniat mengumpulkan tugas Bu Zidan ke ruang guru. Setelah menyiapkan tugas tugas yang sudah ku kerjakan aku pun menuju ke ruang guru. Sesampainya di ruang guru kulihat disana Julian sedang berbicara dengan Bu Zidan.
"Permisi bu, saya mau mengumpulkan tugas matematika" Ucapku pada Bu Zidan
"Iya taruh saja disini, nanti akan ibu koreksi. Oh ya apa kondisimu sudah membaik?" Aku pun kikuk di buatnya, padahal kemarin aku sama sekali tidak sakit.
"Sakit bu?" jawab ku polos, namun beberapa detik kemudian baru aku ingat kalau Julian kemarin membuat alasan kalau aku meninggalkan kelas Bu Zidan karena sakit.
"Ah ya bu, Alhamdulillah sudah membaik" jawab ku, ku lirik Julian yang sedari tadi panik di sampingku.
"Baik kalau begitu, jaga kondisimu Jelita. Kalau begitu kamu boleh kembali ke kelas" Tutur Bu Zidan
"Oh ya, Julian tolong bagikan buku ini ke kelas" tambah bu Zidan pada Julian
Setelah itu kami pun berjalan berdampingan keluar dari ruang guru. Aku ingin sekali bilang kepada Julian untuk menemui ku nanti di istirahat kedua tapi aku bingung harus mulai dari mana, aku yang terlaku larit dalam pikiran tak sadar kan diri tiba tiba ada suara keras dari samping ku.
Buku buku yang Julian bawa tadi terjatuh, aku reflek membantunya.
"Sorry sorry gue buru buru" ucap anak yang menabrak Julian tadi, setelah mengatakan itu, anak itu langsung berlari lagi tanpa membantu kami membereskan buku yang berserakan.
"Gimana sih! bukannya bantu malah kabur!" Kesal ku
"Sorry ya Jul tadi gue nggak peka kalo lo lagi bawa buku banyak, sini gua bantuin bawa" kata ku pada Julian
"Eh nggak papa, gue aja lagian kelas kita kan deket" Tolak Julian
Aku pun tetap mengambil neberapa buku untuk ku bawa sendiri menuju kelas, nggak mungkin diam saja melihat ia membawa buku setumpuk tanpa membantunya.
"Dari pada jatuh lagi bukunya" Ucapku sambil mendahului langkah.
"Tunggu Jel!" Ucap Julian menyamakan langkah, berjalan di samping ku.
"Jul, ada yang mau gue omongin sama lo, bisa nggak istirahat ke dua temui gue di atap sekolah?"
"Atap? kenapa nggak ngomongin sekarang?" tanya nya penasaran.
"Nanti aja" Jawabku singkat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jelita & Julian
RomanceKarena hanya perbuatan dari hati yang bisa sampai ke hati lainnya