3

8 1 0
                                    


Terlalu asik membaca sampai tak sadar aku sudah duduk di lantai sambil membaca buku ini, novel bergambar yang ntah kenapa setiap kali ku baca aku makin hanyut tenggelam kedalam ceritanya. aku pun yang kaget ternyata sedari tadi Julian sudah duduk di sebelah ku.

"Sejak kapan lo disini?" Ucapku

"Dari tadi, liatin lo asik banget bacanya jadi gua nggak mau ganggu" Jawab Julian

Bertatapan, mata ke mata, aku pun tersadar dan langsung berdiri mengembalikan buku ke rak nya dan berjalan menuju pintu masuk. Wajah ku panas ntah kenapa, suasana pun menjadi canggung.

"Kek, jul langsung balik ya, bukunya sudah ketemu" Katanya sambil memasukkan buku nya ke dalam tas nya.

"Baru juga bentar, oh ya nak jelita nggak mau ambil buku yang tadi? kakek liat kayak nya kamu suka seni rupa ya? sampai senyum senyum sendiri kakek liat tadi"

"Saya? senyum senyum sendiri? ha-ha nggak mungkin kek" Ucapku kikuk

"Ambil saja untuk nak jelita, gratis dari kakek" Ucapnya mengambil buku yang tadi belum selesai ku baca dan memberikan padaku.

"Eh kek jangan seperti ini, saya jadi nggak enak dengan kakek" Jawab ku sungkan.

"Nggak papa, sebagai gantinya sering sering lah kemari, kakek suka kalo ada yang berkunjung kemari"

"Terimakasih kek, maaf merepotkan" Jawab ku sambil menerima buku itu.

"Kalo gitu Julian sama Jelita pamit ya kek, terimakasih banyak kek!" Ucap Julian sambil tersenyum

Kami pun melanjutkan perjalanan yang entah kemana tujuannya aku juga tak tau. selama di jalan tak ada yang membuka pembicaraan. Aku pun enggan membuka pembicaraan terlebih dahulu. Tak lama kami tiba di sebuah cafe, bernuansa 90' an tapi cukup nyaman untuk di singgahi.

"Mau ngapain?" Tanyaku

"Makan" Jawabnya sambil menggandeng tangan ku, memaksa ku masuk ke dalam cafe

Kami duduk di kursi dekat dengan jendela, tak lama pelayan pun datang mendatangi kami. setelah selesai memesan kami pun kembali terdiam. Dia mengeluarkan buku biru dari tasnya yang dia ambil di toko buku kakek tadi.

"Hmm maaf ya Jel, dan makasih udah mau nurutin gue yang tingkahnya absurb gini" Ucapnya menunduk sambil menatap buku birunya.

"Jadi tujuan lo ngajak gue apa?" tanya ku tanpa basa basi

"Gue cuma mau ngasih ini ke lo" julian menyidorkan buku biru yang sudah terlihat lusuh jtu padaku.

"Ngapain di kasi ke gue?"

"Buat lo baca, siapa tau nanti lo berubah pikiran dan pandangan lo jadi lebih terbuka" Jelasnya

"Jul, kalo lo cuma pingin kasihani gue, gue gaperlu itu. Jadi ini buku gua kembaliin ke lo, gue nggak butuh ini" Julian menggeleng dan mengembalikan buku itu ke genggaman ku

"Lo butuh ini, gue yakin" Bujuknya

Aku diam, sungguh mencerna kalimatnya, buat apa aku menerima ini? apa pentingnya?

"Jel tau nggak kenapa gue begini ke lo? karena gue liat diri gue yang dulu di lo" Timpalnya lagi

"Maksud lo? bisa nggak to the point aja?"

"Lo baca aja sendiri ntar juga paham apa yang gue maksud" Ucapnya sambil tersenyum kearah ku.

"Oh ya dan satu lagi gue nggak ada niatan kasian atau pun caper ke lo, ini pure karena gue yang mau" Jelasnya lagi

Aku hanya terdiam, mencerna semua kata kata yang ia ucapkan, butuh proses untuk menyambungkan semua teka teki yang ia berikan hari ini. Mungkin aku memang yang terlalu menutup diri, sampai orang berbuat baik pun ku anggap berniat jahat.

"Kenapa lo kaya gini ke gue? kalo lo begini cuma buat dapetin simpati anak kelas karena kasiani gue itu gabakal terjadi, yang ada gua makin di bully di kelas, lo tau sendiri kan tadi?" tak habis pikir saja semua tingkah nya kali ini benar benar membingungkan.

"Gue nggak peduli sama omongan anak anak, dan nggak akan gue biarin mereka bully lo lagi, gue bakal bantu" Ucapnya tenang

"Bisa apa lo? Gue udah begini dari dulu, cuek, jutek, kasar, kenapa lo buang buang waktu cuma buat belain gue" Sesalku

"Maka dari itu biar gue buktiin ke lo dan anak anak bahwa lo bisa berubah, gue akan tanggung resikonya"

"Gue cuma nggak mau orang yang deket gue jadi kena bully, jadi please lo pikir sekali lagi"

"It's ok Jel, I can handle it, gue udah terbiasa" Ucapnya meyakinkan

"Apanya yang terbiasa?! mana ada lo di bully? secara lo pinter, banyak yang suka, ramah, nggak usah ngorbanin apa yang udah lo punya cuma buat bantu gue Jul" Ucap ku menggebu gebu

"Udah percaya sama gue, yang harus lo lakuin sekarang cuma baca buku biru ini, selain itu biar gue yang handle. Ok? Gue yakin setelah lo baca buku ini pasti lo bakal ngerti perasaan gue dan semua kata kata gue tadi"

Aku hanya menarik nafas panjang, ragu melangkah, apa benar seperti katanya? Sudah terlalu larut dalam pikiran ku, sampai lupa pesanan kami sudah tiba di meja. Ku tengok jendela samping ku, rintik hujan menempel pada kaca kaca jendela.

Kami pun memutuskan untuk menunggu hujan reda, di selimutin kesunyian antar kami berdua, aku bergelut dengan pikiran ku, ntah bagaimana dengan laki laki di depan ku ini memikirkan apa, ia menatapku lekat sesekali tersenyum.

Setengah jam kami menunggu akhirnya hujan mulai mereda, aku merasa sudah amat merepotkannya akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri.

"Jul, gue pulang sendiri aja ya" Ucap ku tiba tiba

"Lah ngapain? Gue yang ngajak lo, gue juga yang harus tanggung jawab anter lo pulang sampe rumah" Timpalnya kaget

"Gue nggak mau ngerepotin lo"

"Apanya yang repot, ini juga kemauan gue"

Aku pun menurut, ntah kenapa setiap dia berbicara sulit untuk di tolak. Seperti seharian ini, Aku sudah menolak mentah mentah setiap pintanya namun nihil, lawan ku terlalu keras kepala dan terus menerus membujukku sampai mengiyakan pintanya itu.

"Yaudah" Balas ku pasrah, ku lihat dia tersenyum puas.

Sekarang aku tau kenapa banyak anak anak perempuan di sekolah ku sangat mengagumi Julian, sikapnya yang tenang dan dewasa ntah mengapa bisa membuat kita tenggelam di dalam pesonanya.

Jelita & JulianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang