[01] Perang Pagi

144 17 0
                                    

Johnny yang baru saja selesai mandi menatap istrinya yang duduk terdiam di meja makan.

"Sayang, kamu kenapa?" tanya Johnny lembut dan mengambil duduk di depan istrinya.

Ia mengelus tangan istrinya pelan sampai istrinya mendongak dan menatap Johnny.

"Kamu nangis kenapa? Cerita ke aku, kamu kenapa sayang?" tanya Johnnya khawatir.

"Aku hamil."

Perkataan istrinya membuat Johnny benar-benar speechels. Istrinya hamil.

"Kamu waktu itu nggak minun pil sayang?" tanya Johnny dan istrinya menggeleng pelan.

"Gimana ini babe, dokter bilang rahim ku lemah. Kita nggak boleh punya anak soalnya-"

"Hei, siapa yang bolehin kamu ngomong gitu? Dia itu berkat dari Tuhan buat kita. Gapapa, kalau Tuhan sudah memberikan baby itu berarti kita sebagai orang tua harus menjaganya." potong Johnny.

"Tapi rahimku lemah John, aku takut." istri Johnny kembali menangis dan dengan segera Johnny menarik istrinya ke dalam pelukan.

"Sayang, ada banyak orang di luar sana yang berusaha untuk punya bayi. Dan kita sudah diberikan berkat sama Tuhan, kita harusnya bersyukur bukannya malah mengeluh. Gapapa, Tuhan pasti beri kamu kekuatan lebih. Ingat tidak ada yang mustahil okay. Cup-cup"

Pagi itu suasana rumah Johnnya benar-benar mengharukan.

...

Sedangkan itu di rumah Mark mereka sedang bertengkar hebat.

"Kamu kenapa nggak pernah bantuin cuci piring sih Mark! Aku tuh capek ngurus anak kita. Kamu itu nggak pernah perhatian tau gak!" ujar istri Mark dengan raut kesalnya.

Mark yang ada di depan istrinya berusaha menenangkan istrinya yang sedikit garang itu.

"Slow down babe, nanti si kembar bangun. Iya-iya aku bakal cuci piring ini habis aku buat satu lagu bentar ya, bentar lagi selesai kok. Okay, jangan marah lagi ya." Mark mengelus lengan istrinya pelan. Berusaha untuk menengankan istrinya.

"Awas aja ya, habis aku belanja piring masih numpuk. Siap-siap aku robek itu kertas!" kesal istri Mark dan segera keluar dengan tas belanja yang ada di tangannya.

Mark menghela nafas dan mengacak rambutnya yang nampaknya sudah lama tidak keramas itu.

"Gini banget punya istri, gapapa Mark gitu-gitu dia keren bisa lahirin anak buat lo!" ujar Mark pada dirinya sendiri.

"Lo juga harusnya peka, dia capek jagain anak lo yang kembar terus rumah berantakan gini."

Mark memakai sarung tangan cucinya dan mulai mencuci piring yang tumpukannya sudah hampir segunung.

Mark meghela nafas pelan dan segera mencuci piring dengan siulan di pagi hari.

...

Selain Mark jangan lupakan Doyoung yang juga sedang berperang hebat dengan anaknya. Siapa lagi kalau bukan Dean.

"Papa sekarang gantian dong!" ujar anaknya yang masih 10 tahun itu.

"Sabar dong nak, ngalah sama papamu ini yang gapernah main ginian. Dulu itu om Haechan yang sering main terus gamau gantian sama papa." curhat Doyoung kepada anaknya yang sudah cemberut dengan bibir 1 meter itu.

"Doy, gantian aja kenapa sih. Sama anak masih aja nggak mau kalah. Terus kenapa kamu nggak siap-siap hah?!" ujar istri Doyoung yang baru saja selesai menyiapkan makanan.

"Yaampun sayang, bentar dong habis ini selesai suer deh!"

"Gaada habis ini, sekarang siap-siap Doy. Udah mau jam 9 pagi!" balas istrinya.

"Ih kamu tuh selalu bela anakmu, kamu udah gak sayang aku ya?!" kesal Doyoung lalu berdiri dari tempat duduknya.

"Jangan kekanakan Doy, dia itu anakmu sendiri. Dean itu cepet main, habis ini makan ya sayang." ujar istri Doyoung sambil mengelus rambut anaknya pelan.

Doyoung masih tidak terima dan menatap sinis istrinya. Ya, Doyoung masih tidak berubah. Masih saja tidak mau kalah.

"Nggak usah sinis gitu, cepet siap-siap. Habis ini kita mau mampir ke rumah Jaemin."

"Y"

Istri Doyoung tertawa melihat kelakuan Doyoung yang masih saja kekanakan itu. Sungguh menggemaskan tapi menyebalkan di waktu yang sama.

...

ehehehe

Gimana guys, suka sama ceritanya nggak? Kalau suka jangan lupa komen sama vote ya, biar aku makin semangat!

Sampai ketemu di keluarga NCT selanjutnya!

AFTER MARRIEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang