Naisila #Tigapuluhenam

1.3K 77 8
                                        

Awas banyak typo:!

"Bil, lo cinta sama Langit?"

Naisila menoleh, menatap heran ke arah Arvin. "Kenapa nanya itu?"

"Ga-papa sih, gua kepo aja," ujar Arvin sambil mengalihkan pandangannya ke arah Oma Ila yang masih tilertidur di atas brankar dengan selang infus yang menempel pada tangannya.

Naisila menghela nafas pelan. "Nai masih bingung," ungkap gadis itu yang membuat Arvin kembali menatapnya.

Sebelum Naisila kembali berbicara, layar ponselnya menyala karena sebuah panggilan. Arvin melirik ponsel gadis itu, disana terpampang nama seseorang yang meneleponnya, Gaga. Tanpa beranjak dari tempat duduknya, gadis itu mengangkat panggilannya. Arvin hanya mendengar Naisila menjawab dengan kata 'Iya'. Setelah itu, Naisila berdiri dan membukakan pintu.

Seorang laki-laki yang menurut Arvin tidak begitu asing memasuki ruangan sambil membawa satu kantong plastik berukuran sedang, yang Arvin yakini kalau plastik itu berisikan buah-buahan. Tatapan mereka bertemu, antara Arvin dan Alga, mata Alga memperhatikan penampilan laki-laki yang sedang duduk di sofa rumah sakit.

"Lo Arvin kan?" tanya Alga yang membuat sebelah alis Arvin terangkat.

"Lo Alga kan? Anak kelas sebelas? Lo siapanya Nabila?"

Alga mengerutkan keninggnya. "Nabila?"

Arvin menghela nafas, laki-laki sudah terbiasa dengan nama gadis itu yang sering ia ganti. "Maksud gua Naisila."

"Sahabat, gua sahabat Naisila dari kecil," jawab laki-laki itu cepat. Sedangkan Arvin yang mendengar jawaban laki-laki itu menatap Ragu.

"Yakin cuma sahabat?"

Naisila menatap tajam Arvin. "Apin kok kaya wartawan sih, banyak nanya!" sahut Naisila yang sedari tadi diam.

"Yaelah Bil, pelit banget, dah lah, gua mau cabut." laki-laki itu kemudian berdiri dan langsung merapikan kaos hitam polosnya yang agak kebesaran di badan laki-laki itu.

"Jangan pergi dulu," Sergah Alga yang membuat langkah Arvin terhenti. Laki-laki itu menatap penuh tanda tanya.

"Lo tungguin Oma Ila bentar, gua mau bicara sama Naisila."

Arvin mendelik ke arah Alga. "Ogah," cetus laki-laki itu.

Naisila kemudian memegang pergelangan tangan Arvin, laki-laki kemudian menghela nafas panjang. Karena Ia tahu kalau gadis itu akan memohon padanya. Arvin yang enggan melaihat hal itu langsung saja kembali duduk di atas sofa.

"Kalian gua kasih waktu 5 menin," ucap Arvin yang mendapatkan pelototan dari Alga.

"30 Lah," tawar Alga. Laki-laki yang sedang duduk itu menggeleng. Dan berakhirlah mereka dengan aksi tawar menawar waktu. Yang pasti, Arvin dengan sikap yang keras kepalanya itu menang dengan waktu yang diberikan selama 10 menit untuk Alga yang akan berbicara dengan Naisila.

Arvin menempelkan punggungnya ke arah sofa, laki-laki itu menghela nafas panjang dengan tangan yang ia rentangkan. Arvin merasa begitu dekat dengan keluarga Naisila, padahal laki-laki itu adalah orang asing yang beruntung bertemu dengan gadis itu. Beruntung? Bisa saja, Ia merasa ketika dekat dengan Naisila, dirinya selalu ingin melindungi gadis itu, entah apa yang membuat dirinya selalu pasrah ketika berdekatan dengan Naisila.

Dengan Oma Ila, dirinya kembali merasakan hangatnya seorang Oma yang sayang pada Cucunya. Arvin merasakan itu, apalagi ketika bersama Arvan, Ia seperti begitu akrab dengan beliau. Kedekatan itu membuatnya merasa nyaman, kenyamanan dengan orang lain yang baru saja ia rasakan bersama Oma Ila.

NAISILA  [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang