Genre : Romance, Chicklit, Action, Thriller
Roseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa...
Sabtu pagi di Seoul biasanya menjadi waktu keramat bagi Rose untuk menebus jam tidurnya yang hilang selama sepekan bekerja. Namun, ketenangan itu hancur berantakan saat jarum jam baru menyentuh angka lima pagi.
Suara dentuman panci dan tawa melengking dari lantai bawah memaksa Rose menyeret langkahnya turun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Rambutnya berantakan, dan ia sudah bersiap untuk memarahi siapa pun yang berani mengganggu tidurnya.
"Astaga... Ibu? Somi? Apa-apaan ini?!" Rose membelalak melihat dapur yang sudah seperti medan perang. Tepung berceceran di mana-mana, dan meja makan penuh dengan bahan masakan. "Kalian sedang demo masak atau apa? Kenapa berisik sekali? Aku tidak mau ikut membereskan ini, ya!"
Rose berjalan gontai menuju kulkas, mengambil sebotol air dingin untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
"Ibu sedang menyiapkan jamuan spesial, Chae-young" sahut Ibunya sambil mengaduk adonan dengan penuh semangat. "Siang nanti calon suamimu dan keluarganya akan datang berkunjung."
BYUURRR!
Air yang baru saja masuk ke mulut Rose menyembur keluar begitu saja. Ia segera berlari ke arah wastafel sambil terbatuk-batuk hebat, dadanya terasa sesak karena kaget.
"Ibu! Kalau bicara tolong lihat keadaan!" protes Rose dengan wajah memerah. "Sakit sekali, tahu! Kenapa setiap aku makan atau minum, kalian selalu memberikan kejutan yang tidak masuk akal?"
Ibunya hanya mengedikkan bahu tanpa merasa bersalah. "Baru dua kali kamu tersedak, jangan berlebihan. Itu tandanya kamu harus lebih fokus."
Somi yang sedang mengupas bawang tertawa puas. "Benar, Tante. Untung aku tidak ikut menyembur, kalau iya, mungkin Rose sudah mengusirku dari rumah ini."
Keduanya kembali tenggelam dalam obrolan seru, mengabaikan Rose yang mendengus kesal dan memilih kembali naik ke lantai atas. Ia butuh hibernasi darurat untuk menghadapi drama siang nanti.
Tidur Rose kembali terusik. Kali ini bukan karena bunyi panci, melainkan gedoran pintu yang brutal.
Tok! Tok! Tok!
"Roseanne Park! Bangun kamu, pemalas! Cepat bangun sebelum aku mendobrak pintu ini!" teriak Somi dari luar.
Rose membuka pintu hanya beberapa senti, menatap Somi dengan mata menyipit tajam. "Somi, dengar ya. Aku mau tidur sampai malam. Jangan berani-berani mengganggu 'acara' hibernasiku atau kau akan tahu akibatnya. Pergi!"
Cklek. Pintu ditutup kembali tepat di depan hidung Somi.
"Dasar kamu ini! Kalau ada dukun, sudah kukirim santet untukmu!" umpat Somi kesal sambil menuruni tangga. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Jimin yang sudah tampil rapi dengan setelan jas yang membuatnya terlihat sangat tampan dan berwibawa.
"Dia tidak mau bangun," lapor Somi pada Jimin dengan nada mengancam. "Sekarang giliranmu. Kalau kamu menyuruhku naik lagi untuk membujuknya, aku akan mengambil pisau dapur dan menghabisimu duluan."
Jimin tertegun sejenak. "Seram sekali..." gumamnya pelan. Namun, ia memberanikan diri menuju kamar Rose, memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang itu.
Ancaman Manis Sang Calon Tunangan Rose merasakan ada seseorang yang masuk ke kamarnya. Ia menarik selimut lebih tinggi, mengira itu Somi yang kembali untuk mengganggunya.
"Rose, ayo bangun. Ini hari penting, tidak baik tidur sampai siang begini," suara bariton Jimin terdengar lembut. Ia duduk di tepi ranjang dan menggoyangkan lengan Rose perlahan. "Ayo, hibernasinya lanjut besok saja."
Jimin menghela napas, sebuah ide jahil terlintas di kepalanya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Rose, mengubah nadanya menjadi lebih rendah dan intim sesuatu yang belum pernah Rose dengar sebelumnya.
"Bangun sekarang, Sayang. Kalau kamu tidak membuka matamu dalam hitungan ketiga, aku akan benar-benar menciummu di sini."
Rose tersentak seolah tersengat listrik. Ia langsung melempar selimutnya dan duduk tegak dengan mata membelalak lebar. "Iya! Ini sudah bangun! Puas?!"
Jimin tertawa kecil melihat reaksi spontan Rose yang tampak sangat panik. Tanpa banyak bicara, ia menarik tangan Rose, menuntunnya keluar dari tempat tidur menuju kamar mandi. Rose yang masih setengah sadar secara refleks menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan, menatap Jimin dengan curiga.
"Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam," Jimin menahan tawanya agar tidak meledak. "Aku hanya ingin kamu mandi. Cepatlah."
"Sialan! Kamu benar-benar merusak otakku!" umpat Rose dengan wajah memerah padam.
Jimin berdiri di depan pintu kamar mandi, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan penuh penekanan. "Sepuluh menit. Kamu harus sudah ada di bawah dalam keadaan segar. Jika lewat satu detik saja, aku akan masuk kembali ke kamar ini dan melakukan ancamanku yang tadi sepuasnya."
"Pergi kamu, Jimin!" Rose membanting pintu kamar mandi dengan keras.
Di dalam sana, jantung Rose berdegup kencang bukan karena marah, melainkan karena ancaman Jimin yang terasa terlalu nyata. Sepertinya, Rose memang harus meminta bantuan Somi untuk mencarikan dukun atau mungkin, ia hanya perlu bersiap untuk jatuh lebih dalam ke pesona pria yang kini sedang menunggunya di luar sana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.