Kehilangan

966 191 0
                                        

Welcome to my world! 📖✨ Terima kasih sudah menyimpan cerita ini di perpustakaanmu. Hope you enjoy the journey as much as I enjoyed writing it.

Setahun telah berlalu setelah kehilangan kontak terakhir dengan jimin, dan kedua orangtua jimin juga mengalami kecelakaan setelah mendengar kabar dari anak satu-satunya yang menghilang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setahun telah berlalu setelah kehilangan kontak terakhir dengan jimin, dan kedua orangtua jimin juga mengalami kecelakaan setelah mendengar kabar dari anak satu-satunya yang menghilang. rose mulai mengurung diri di rumah pribadinya.

​Chanyeol berdiri di depan pintu kayu berwarna putih yang sudah tertutup rapat selama hampir dua puluh empat jam. Ia menghela napas, mengetuk pelan dengan buku jarinya.

"Chaeyoung-ah, keluar sebentar. Kamu sendiri yang memintaku sering mampir, tapi saat aku datang, kamu malah mengunci diri." ​Hening. Chanyeol baru saja hendak mengetuk lagi ketika terdengar suara kunci diputar.

​Cklek.

​Pintu terbuka sedikit. Rose muncul dengan kaos kebesaran dan rambut yang diikat asal-asalan. Bukannya wajah sembab penuh air mata yang ditemukan Chanyeol, melainkan tatapan bingung yang sangat polos.

​Chanyeol terperanjat, hampir melompat mundur. "Akhirnya kamu keluar juga!"

​"Ada apa sih kak Chanyeol?"

​"Tentu saja kita semua khawatir karena kamu mengurung diri! Kami pikir kamu sedang meratapi nasib atau semacamnya."

​Rose tertawa kecil, menyandarkan bahunya di kosen pintu. "Aku sedang maraton drama, tahu! Kakak kan tahu aku hanya akan menangis kalau itu menyangkut kalian. Kalau soal pria itu... aku sedang mencoba mengalihkan dunia."

​Chanyeol terdiam sesaat, lalu wajahnya memerah karena kesal. "Astaga, kamu benar-benar keterlaluan! Kami semua hampir terkena serangan jantung karena khawatir, sementara kamu asik menonton akting orang lain? Rasanya aku ingin sekali menyentil keningmu!"

​"Ampun kak! Habisnya ceritanya sedang seru, ini sudah episode terakhir!"

​"Tidak ada episode terakhir hari ini! Cepat ganti baju, ikut aku ke kafe!" Chanyeol menarik lengan adiknya tanpa ampun.

​"Tapi aku sedang malas bergerak!" keluh Rose.

​"Tidak ada penolakan! Ayo!"

​"Iya, iya! Tapi biarkan aku ganti baju dulu! Masa aku ke kafe pakai piyama bergambar anak ayam begini?"

​Chanyeol melepaskan tarikannya, lalu mengibaskan tangan ke arah kamar. "Sana, cepat! Hus... hus!"

​"Kamu mengusirku seperti mengusir anjing saja," gerutu Rose, namun kakinya tetap melangkah cepat ke dalam kamar dengan senyum tipis yang mulai muncul.

​Suasana kafe sore itu cukup tenang dengan iringan musik jazz instrumental. Rose duduk di depan Chanyeol sembari menopang dagu, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa rasa malas.

​"Sebenarnya kita mau apa di sini? Menumpang Wi-Fi? Di rumah kan koneksinya lebih cepat. Kakak benar-benar tidak modal," ledek Rose.

​Chanyeol yang sedang menyesap Americano-nya hampir tersedak. "Tutup mulutmu. Kita sedang menunggu seseorang. Johnny akan datang."

​Seketika, kelesuan di wajah Rose menguap. Matanya berbinar terang. "Apa? Benarkah? Kak Johnny sudah kembali dari Chicago?"

​"Itulah gunanya keluar rumah sesekali. Kamu jadi tahu kabar dunia," sindir Chanyeol telak.

​Bel di atas pintu berdenting, menarik perhatian seluruh pengunjung kafe. Seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap dan senyum lebar melangkah masuk. Rose langsung berdiri dari kursinya.

​"Kak John!" Rose berlari kecil dan menghambur ke pelukan pria itu.

​"Heh, santai sedikit! Kamu hampir membuatku jatuh," Johnny tertawa rendah, membalas pelukan Rose dengan hangat sebelum mengacak rambutnya. "Aku pikir kamu sudah lupa padaku karena terlalu sibuk mengurung diri. Aku hampir merasa patah hati."

​"Maaf, aku hanya... sedikit sibuk," jawab Rose pelan sembari melepaskan pelukan.

​Johnny kemudian duduk bergabung dengan mereka. Atmosfer langsung berubah ceria saat mereka bertukar cerita pendek. Namun, dasar Chanyeol, ia tidak bisa membiarkan suasana menjadi terlalu serius.

​"Bicara soal kembali, kapan kamu akan membawa pasangan ke hadapan kami? Ingat umur, John. Kamu sudah bukan remaja yang bisa tebar pesona di klub malam lagi," ledek Chanyeol telak.

​Johnny menghela napas panjang, tampak lelah dengan pertanyaan itu. "Belum ada yang menarik perhatianku, Yeol."

​"Kenapa? Jangan-jangan kamu... tidak suka wanita?" tanya Chanyeol dengan wajah sangat polos namun mematikan.

​"Sialan kamu, Chanyeol! Aku masih sangat normal, tahu! Mau aku pukul sekarang juga?" balas Johnny dengan nada bercanda yang tajam.

​Chanyeol terkekeh, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Bercanda, jangan dimasukkan ke hati."

​Keheningan singkat terjadi saat pesanan kopi Johnny datang. Namun, raut wajah Johnny perlahan berubah lebih serius saat menatap Rose. "Btw... bagaimana keadaanmu, Chae-young? Ada kabar terbaru tentang Jimin?"

​Senyum di wajah Rose yang tadinya merekah, perlahan memudar. Ia menunduk, memainkan sedotan di dalam gelasnya. "Belum ada, Kak. Tim pencari masih terus bekerja, tapi hasilnya masih belum membuahkan hasil."

​Ruangan seolah mendingin seketika. Johnny mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Rose dengan lembut, memberikan kekuatan yang tidak bisa diwakili kata-kata. "Sabar ya. Jangan berhenti berharap."

​"Selalu, Kak," jawab Rose singkat. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis sebuah topeng yang sudah ia latih dengan sangat baik di depan orang-orang yang ia sayangi.

Cerita ini murni fiksi dari imajinasi penulis. Seluruh karakter, tempat, dan peristiwa di dalamnya adalah hasil rekaan tanpa ada maksud menyinggung siapa pun. Selamat membaca!

ECHOES OF ROSEANNE | JIROSE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang