Jejak 10 "Teman Hantu"

3 0 0
                                    

Aku sudah berteman dengannya cukup lama. 10 tahun bisa dibilang. Akan tetapi aku tidak pernah bertanya seperti apa pengalamannya saat pertama kali menjadi hantu.

"Kita sudah berteman lama tetapi aku penasaran seperti apa pengalaman pertamamu menjadi hantu," kataku padanya.

Dia nampak diam sejenak, memikir-mikirkan memori lamanya. 

"Jadi begini. Setelah mati mula-mula aku tidak akan ingat apapun, tidak merasakan apapun, jadi seperti pingsan dan pergi ke alam mimpi hanya saja kita berada di kegelapan total dan seolah melayang-layang dikegelapan itu. Aku sebut tempat itu adalah void.

Mungkin bagi setiap orang, dan kepercayaan memiliki nama dan penjelasan yang berbeda tetapi aku akan menjelaskan versi ku dan caraku," katanya.

Aku menuangkan teh chamomile pada nya, dia masih suka minuman itu saat dia masih hidup. Dia menyesapnya lalu kembali bercerita.

"Setelah berada di Void, maka kamu akan terbangun tiba-tiba. Kamu akan terbangun ditempat kamu mati atau disekitarnya, jika aku mati didalam sumur dan aku terbangun diluar sumur.

Pertama kali yang dirasakan setelah dari Void adalah merasakan rasa sakit dari kematianmu. Misalnya orang ditembak diperutnya maka dalam momen itu dia akan merasakan rasa sakit dari luka tembak diperutnya. Jika aku mati tenggelam jadi selama momen itu aku terus terbatuk-batuk air sumur dan seperti orang asma parah."

"Oh berarti jika orang yang mati bunuh diri gantung diri berarti akan merasakan rasa sakit di momen itu?" tanyaku.

Dia menganguk, "Bisa dibayangkan betapa orang seperti itu harus menanggung rasa sakit pada momen tersebut. Kalau ditanya berapa lama itu aku tidak tau pasti, tetapi setiap jiwa akan berbeda-beda dan karena hantu tidak terikat ruang dan waktu maka tidak bisa dihitung dengan sistem waktu manusia, tapi aku rasa memang cukup lama."

"Jadi yang pertama adalah Void, lalu momen rasa sakit itu akan disebut apa biar mudah?" 

"Mmm, bagaimana kalau The Last Pain."

"Kok rasa sakit yang terakhir kali?"

"Aku rasa karena step yang berikutnya.

Setelah momen rasa sakit itu berakhir maka yang dirasakan adalah kehampaan. Yang semula rasa sakit itu terasa sekarang samasekali tidak, seperti hal nya orang yang ditembak itu, setelah momen The Last Pain nya berakhir maka dia tidak akan merasakan sakit dari perutnya, walau luka diperutnya dipegang-pegang atau bahkan peluru nya diambil, dia tidak akan merasakan sakit. Jadi, benar-benar 'Rasa sakit yang terakhir kali' karena setelahnya kamu tidak akan pernah merasakan rasa sakit lagi."

"Bolehkah aku memberi nama momen itu menjadi Tasteless? Menurutku karena sudah tidak bisa merasakan apa-apa, seolah makan sesuatu yang tak ada rasanya." Candaku.

Dia meringis, "Ah baiklah, ada-ada saja." Kemudian dia melanjutkan ke langkah berikutnya.

"Selanjutnya kamu akan cenderung untuk mondar-mandir. Pada momen itu, jiwa kita sedang mendownload kembali memori-memori hidup kita sebelumnya. Biasanya mereka akan mondar-mandir disekitar tempat kematian mereka, mereka belum akan ingat identitas mereka. Kalau aku mondar-mandir sekitar sumur, karena sumur itu terletak dihutan maka aku mondar-mandir dihutan lalu kembali lagi ke sumur."

"Loh, bukannya saat momen The Last Pain itu juga memori kehidupan muncul?" tanyaku.

Dia menggeleng, "Beda, disaat itu kita hanya mengingat kenapa kita mati. Jika kita dibunuh maka kita hanya ingat kita itu dibunuh dengan cara apapun yang membuat kita mati, tapi siapa yang membunuh itu belum teringat."

Aku hanya ber oh panjang. "Okay, Proceed."

"Kalau dalam hitungan sistem waktu manusia, mungkin momen mondar-mandir itu bisa berlangsung beberapa hari. Setiap hantu pasti berbeda. Setelah berhari-hari mondar-mandir, ingatanku kembali sedikit demi sedikit. 

Selama menunggu semua ingatanku kembali, setiap hari aku melihat tubuhku, melihat kedua tanganku sambil mondar-mandir. Terkadang aku melihat tanganku sedikit tembus pandang saat waktu siang, tapi aku masih bisa menyentuh tubuhku seolah masih solid. Terlihat sedikit tembus pandang tapi aku masih solid.

Dan akhirnya semua ingatanku kembali, bahkan rumah kecil didekat sumur itu aku ingat. Dinding kertas yang aku robek-robek masih ada, bahkan parang yang digunakan untuk membuat kepalaku bocor sebelum masuk sumur masih tergeletak didekat sumur, yang sekarang sudah karatan dan menghitam."

"Itu rumah ayah angkatmu kan," kataku.

"Iya." Dia nampak tidak senang saat mengingat ayah angkatnya yang membunuh dan menceburkannya ke dalam sumur.

"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"

"Itu sih tergantung, jika kamu masih punya urusan maka kamu akan selesaikan urusanmu. Ada juga yang memilih untuk menikmati 'hidup' baru nya. Kamu tau kan hantu-hantu energi negatif dan agresif itu?"

"Ah iya, kenapa memangnya?"

"Beberapa dari mereka adalah dari jiwa-jiwa yang tidak terima dirinya mati dan memutuskan untuk menghantui siapa saja karena kemauannya, atau biasanya hanya orang-orang yang terlibat. 

Sama seperti manusia, hantu juga masih bisa merasakan rasa tak puas. Mereka juga masih ingin menakut-nakuti karena mereka sudah senang dengan hal tersebut ada pula yang memilih untuk berhenti."

"Kalau kamu, bukannya dulu kamu mengutuk banyak orang ya?"

"Iya, itu sih masa lalu. Sekarang aku ingin let go saja sepertimu."

Kami tertawa.

"Zan'nen'na, sungguh disayangkan jika diriku ini tidak seberuntung dirimu," ucapku muram. 

"Ah iya, kamu terjebak diantara hidup dan mati, terlepas dan tergantung-gantung di ruang dan waktu sehingga kamu tidak tau sejatinya apa yang terjadi padamu." Dia nampak kasihan.

Mungkin dia adalah hantu, tapi diriku....

Aku tidak tau.

Aku pernah mati, 

tapi aku 'dihidupkan' kembali....

Dan rasanya tidak pernah sama sebelum kematian 1 tahun lalu itu.


Selesai.

Eyes of Jane, The Short Compilation of Horror SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang