Chapter 2

636 27 3
                                        

Pukul 3 Sore, pukul dimana murid-murid berteriak kesenangan sampai ada yang jingkrak-jingkrak karena sudah waktunya mereka untuk pergi pulang kerumah mereka masing-masing. Namun tidak dengan pemeran utama kita, tebak apa itu? Yap, dia piket dengan tampang nesu dan penuh paksaan untuk membersihkan apa yang teman-temannya suruh. Uraraka yang masih bertengger setia menemani Akane hanya menggeleng-gelengkan kepalanya wajar.

LandakTsund - Kiri - Kami - Bocil Anggur - Kang Ngefly - dan Akane lah yang hari ini menjadi bagian kebersihan kelas di Sekolah Pahlawan Akademi. Sebenarnya ada empat lelaki dan satu gadis perawan, cuma author agak ga tega kalau ngebiarin Akane sendirian.

"Oi cebol, bersihkan yang bener." Katanya dengan tiba-tiba dan dengan nada yang sedikit di tinggikan.

"Oi landak sarkas, kau tak lihat apa yang kulakukan ini hah?! Mending kau kembali menyapu saja sana!"

Ah tidak, memang rival sejati satu ini sering sekali bertengkar tentang masalah sepele. Harus segera dicegat sebelum si 'Landak' yang dimaksud tidak meledak di tempat. Uraraka takkan ikut campur, biarkan saja teman-teman sekelasnya yang mengurus mereka berdua. Uraraka sudah lelah denganーtapi tunggu sebentar... Uraraka tiba-tiba teringat dengan sesuatu yang Akane lakukan di UKS tadi.

'Kenapa dia tiba-tiba mencekik dirinya sampai hampir kehabisan Oksigen? Lalu apa yang dimaksud dari tatapannya yang ketakutan? Apa Akane sedang ada masalah? Kenapa tidak pernah cerita?', begitulah isi pikiran Uraraka saat ini. Namun pikiran tersbut telah terbuyarkan karena Uraraka diteriaki minta tolong oleh teman sohib sehidup sematinya si 'Landak'.

"Naon?" 

"Daripada lo diem kaga ngapa-ngapa, mending bantuin piket." 

"Mana yang harus dibersihkan? Terus napa lu nyuruh gua?"

"Lo gue suruh karena gue gamau ganggu perdebatan ga pentingnya mereka. Dah ayo buru"

Sedang Uraraka sibuk bercanda gurau dengan Kirishima atau teman sohib 'Landak Tsundere', mereka berdua masih saja mempeributkan hal yang tidak begitu penting untuk diributkan. Ntah apa isi pikiran mereka sampai bisa debat seperti itu. Dan setelah melewati jam Setengah Tiga Sore, akhirnya mereka berhenti berdebat karena teman-teman sekelas mencegah mereka untuk melanjutkan peributan yang tidak penting itu sedari-tadi. Dan kegiatan bersih-bersih kelas juga sudah selesai, meski Uraraka ikut dilibatkan bersih-bersih padahal bukan jadwal piketnya dia.

Secara tiba-tiba, Akane merasa tubuhnya saat ini benar-benar tidak beres. Quirk-nya kambuh ingin mengusili orang-orang sekitar dengan berkata bahwa muncul perasaan tidak enak, dan Akane terkapar dilantai yang tentu saja mengundang orang sekitar untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan Otak Uraraka yang masih sibuk mencerna maksudnya apa.

"Eh, kenapa? Apa yang terjadi?"

"Bawain Akane kerumah dong, pingsan nih."

"Lo tau arah rumahnya?"

"Tau, sekomplek sama Saya bang. Beda belokan tikungan doang"

"Eh tapi piket belom kelar su."

"Lo sendiri ya, duluan."

. . . .

"Anjim"

Berjalan dipinggir kota bersuasana langit senja dan sedikit angin sepoi-sepoi yang tengah membantu membisikkan sesuatu pada kita bila ada masalah, dengan ramainya mobil yang juga sedang berlalu-lalang serta mulai sedikit berkurangnya pejalan kaki ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Berjalan dipinggir kota bersuasana langit senja dan sedikit angin sepoi-sepoi yang tengah membantu membisikkan sesuatu pada kita bila ada masalah, dengan ramainya mobil yang juga sedang berlalu-lalang serta mulai sedikit berkurangnya pejalan kaki yang dari kantoran maupun dari sekolah. Uraraka dan satu lelaki kekar yang saat ini tengah menyamankan dirinya menggendong badan Akane yang terbilang ringan menuju kerumahnya. Suasana begitu sunyi diantara mereka.

"Hey a-anu, Uraraka?" Tanya lelaki berambut merah itu pada sang sahabat karib sehidup sematinya Akane. Dengan balasan tolehan sementara dari lawan bicara, ia melanjutkan apa yang sebelumnya telah ia potong.

"Apa Akane, ada masalah? P-pada dirinya maupun masalah keluarganya? A-a-anu, maaf bila pertanyaanku sedikit kurang nyaman didengar."

Sunyi kembali menyelimuti mereka berdua.

"Aaah, kalau itu... Ada."

Kagetnya sang lawan bicara lelaki yang tiba-tiba menjawab pertanyaannya membuat sang lawan bicara perempuan tersenyum cerah. Sang lelaki kembali menyibukkan dirinya untuk menyamankan sang putri yang saat ini masih terlelap pingsan, atau tidur? Namun saat si lelaki ini sedang sibuk, sang tuan putri terbangun, yang tentu saja mengagetkan temannya yang saat itu juga sedang menatapnya terlelap.

"... Loh ...? Sudah pulang?" Tanya Akane lemas ala-ala bangun tidur.

"Yo, Akane. Mau turun?"

"Ah? Halo Kirishima, sejak kapan kau menggendongku? Apa kamu tidak merasa tubuhku berat bagimu?"

Kirishima, lelaki yang sudah rela meninggalkan jadwal piketnya lalu memilih membawakan Akane pulang kerumah. Kirishima menggeleng, namum dalan hati ia berkata, "Sejujurnya, kamu ringan banget, serasa lagi nggendong adek. Namun, semakin kesini rasanya kamu semakin menggemaskan."

"Asem, jadi nyamuk aku."

"BU-BUKAN SEPERTI ITU URARAKA!!-"

"Rumahku disitu" Kata Akane sambil menunjuk menunggunakan jari jempolnya yang kecil. "Turunin disini aja gapapa."

Kirishima menggeleng, "gapapa, kamu kumpulin nyawamu dulu aja." Dan anggukan dari Akane sebagai jawabannya, meski Kirishima sang lawan jawaban tidak dapat melihatnya. Namun dapat ia rasakan kalau Akane kembali menyandarkan kepalanya ke tengkuk leher miliknya adalah suatu jawaban yang sudah cukup baginya.

Sedang sang teman perempuan hanya bisa tertawa gemas melihat hubungan Kirishima dan Akane yang sangat tidak bisa diutarakan.

"Akane, lihat. Temanmu sedang perlu dikompres." 

Dari posisi kepala yang sedang terbaring nyaman, diganti menjadi posisi terangkat meski dagunya masih setia bertengger di lehernya. Dan dari mata yang masih setia tertutup dan tangan yang juga masih bertengger memeluk tubuh Kirishima, berubah menjadi mata yang terbuka melihat si lawan bicara yang dimaksud, namun dengan tatapan polos serta tangannya yang ia angkat satu untuk mengecek dahi si teman perempuan.

"Tapi Uraraka ngga panas tuh." Tertawa lantang dan tidak memedulikan kondisi sekitar adalah respon Uraraka ketika dirinya sudah tak sanggup menahan kegemasan yang diulah oleh Akane. Sedang sang Akane hanya diam terpaku, masih tak mengerti maksudnya apa.

"Udahan woi, dah nyampe nih. Kuturunin ya? Sanggup berdiri?" Tentu respon anggukan adalah jalan ninja tokoh utama kita.

"Tasku, dimana?"

. . .

"Jangan bilang masih ketinggalan?"

. . .

"Punya temen kok ga becus."

TERTUSUKK-

Ada satu hal yang sempat Akane lupakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada satu hal yang sempat Akane lupakan.

"Tadi aku ... pingsan kenapa ya?"

Lemon [Todoroki x Reader]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang