"Kak Bii!" Metawin berteriak kencang sembari mempercepat langkah kakinya ketika ia melihat siluet sang kekasih.
Lelaki tampan itu menghentikan langkahnya, mencoba menunggu si manis yang kini semakin cepat berlari.
"Kak Bii, besok ngedate yuk!" Serunya semangat.
Bright diam, sama sekali tak berkeinginan merespon seruannya. Dia bahkan hanya menatap datar Metawin seakan terganggu dengan kehadirannya.
"Kak Bii? Besok kita date bare—"
"Win, kita putus."
Layaknya patung, Win hanya mampu membeku di tempat. Baru saja tadi pagi ia membuat list kunjungan untuk date mereka keesokan hari, ia seolah ditampar kenyataan bahwa semua itu hanya ilusi semata.
"K-kak?"
"Gue gak bisa jalanin hubungan kayak gini terus Win. Ini cuma dare dan peraturannya gue bisa berhenti setelah 3 bulan pacaran sama lo. Sekarang udah jalan 3 bulan kan? Jadi, ayo akhiri semuanya."
"T-tapi bukannya kakak udah suka—"
"Dari awal gue gak cinta sama lo, Win. Gue cuma anggep lo adek kelas, ga lebih."
"Ja-jadi kakak terpaksa pacaran sama Win?"
"Ya."
"Semua yang kakak lakuin, gandeng tangan Win, antar jemput Win, ajak jalan Win... Itu semua cuma b-bohongan?"
Anggukan singkat menjadi jawaban atas segala pertanyaan di benaknya. Pemuda manis ini tertunduk, tak mampu mengangkat kepala sekedar untuk menatap manik pekat di depannya. Benar ternyata, yang ia dapatkan tidak lebih dari sebuah khayalan. Dan itu... Menyakitkan.
"Kalau Win engga mau putus?"
"Gue bakal pindah ke Amsterdam beberapa Minggu lagi. Pergunakan waktu dengan baik buat ngelupain gue. Gue bukan buat lo begitupun sebaliknya. Kalo pun dipaksa ini gak akan berhasil, kita emang gak pernah ditakdirkan lebih dari teman."
Hari itu, hari dimana dia pergi sejauh mungkin untuk menghindar darinya. Sebuah kejadian kilat yang tidak lebih lama dari kedipan mata mampu membuat semuanya berubah.
Semestalah yang tahu seberapa pahit serta pedihnya perpisahan keduanya. Mungkin juga hanya waktu yang menjadi saksi bisu akan berakhirnya kisah mereka berdua.
Kedua matanya terbuka cepat diiringi napas memburu. Buliran keringat memenuhi pelipis serta membasahi seluruh tubuhnya.
"Hahhh... Mimpi itu lagi." Desah Win berat.
Dipijatnya pelan pelipis yang berdenyut menyakitkan, berusaha membuat keadaan lebih baik. Lantas kedua kaki telanjang Win bergerak menuruni ranjang berjalan pelan keluar kamar hanya dengan kemeja oversize transparan yang membalut indah tubuh rampingnya.
Sekarang sudah nyaris tengah malam dan keadaan rumah benar-benar hening. Sebersit rasa takut menyelinap pelan di lubuk hati, namun dengan cepat pemuda manis ini menampiknya. Mengacuhkan sekitar dan bergegas menuju dapur untuk melepas dahaga.
Tiba di hadapan sebuah lemari pendingin raksasa, Metawin dengan cermat melihat-lihat sebentar mencari sesuatu yang bisa ia makan. Pandangannya jatuh pada sebatang coklat yang masih terbungkus rapi dalam kemasan pink, merampas cepat kemudian beranjak mengambil gelas dan menuang air dingin hingga terisi setengah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Step Father
RandomTentang Win Metawin yang akan mempunyai seorang ayah tiri. Terdengar biasa, namun bagaimana jika lelaki yang akan dinikahi bundanya itu merupakan seseorang yang menjadi alasan atas masa lalunya yang menyakitkan?