Selasa

2 1 0
                                    

"Chit, please...."

Masih pagi, kira-kira siapa yang sudah berhasil merusak hariku?

Tentu saja si kadal cilik Sam.

"Gak," aku menyahut singkat sembari mengangkat tumpukan bantal dan selimut yang belum sempat kurapikan--masih berusaha mencari keberadaan karet rambutku yang entah ada di mana.

"Chit, ya ampun. Lo pelit banget, sih?"

Aku tetap diam, malas membalas. Apa pun yang dia lakukan aku tetap tidak mau memenuhi permintaannya. Jadi lebih baik aku fokus menyusuri seisi kamarku untuk menemukan karet rambut yang sudah tinggal satu-satunya itu.

"Chit."

Aku mencoba menggrataki meja riasku yang isinya tidak seberapa ini--hanya sebuah tabung kaca berisi sisir dan jepit rambut serta beberapa botol losion yang sepertinya sudah kadaluarsa karena terlalu jarang aku pakai.

"Chitraa!!?"

Menyerah, aku menghela napas kasar. Aku mengambil salah satu jepit dari tabung kaca, lantas menjepit dua jumput rambut dari sisi kanan dan kiri kepalaku setelah menyatukannya ke belakang. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya--terlalu apa ya, seperti bukan aku saja. Tapi karena tidak ada pilihan lain--aku tidak suka membiarkan rambutku tergerai begitu saja--sepertinya tidak ada salahnya aku mencoba tatanan rambut yang agak berbeda.

Aku bersiap keluar kamar setelah mengambil ransel sekolahku, tetapi si kadal cilik itu langsung menghadang langkahku. Aku mengangkat sebelah alisku tinggi melihat wajahnya yang antara melas dan maksa itu.

"Chitra, ayolah," paksanya, lagi.

Aku memutar mataku, lantas bersidekap. "Gue gak mau, Sam. Bagian mananya yang lo gak ngerti, sih?"

"Tapi gue butuh banget, Chitra!"

"Cari orang lain sana."

"Gak ada."

"Bukan gak ada, lo yang gak mau keluar duit. Iya 'kan?" todongku langsung, lalu melangkah melewati tubuhnya keluar kamar.

"Chit, bukan gitu juga." Ternyata dia masih gigih--tertebak sih, tidak mungkin justru kalau dia menyerah secepat itu. Dia mengekoriku yang baru saja meletakkan ransel di bangku makan dan mencari celemek dari laci meja dapur. "Sumpah, masalahnya kita cuma butuh satu orang. Biasanya kalo nyewa orang 'kan, mesti rame gitu."

"Teori dari mana, anjir?" aku terkekeh pelan sembari mendekati Mama yang sedang mengeluarkan kaleng sarden dari lemari gantung. "Mama udah masak nasi?" tanyaku.

"Masih ada sisa semalem, Bang Jo masak," jawab Mama sembari menyusun bahan-bahan masakan yang sudah dia keluarkan. Kemudian pandangannya beralih pada Sam. "Kamu ngapain, Sam? Kok belom siap-siap jam segini? Bukannya udah mandi tadi?"

"Udah kok," jawabnya singkat, masih fokus padaku. "Chit, serius gue. Lagian mau nyari di mana juga gue bingung. Mana ada gue kenalan dancer gitu."

Aku hanya diam, fokus mencuci lalu mengupas bawang bombay dan bawang merah yang sudah dikeluarkan Mama.

"Ini ada apa, sih? Kamu ngapain buntutin Chitra terus?" Mama masih kepo, memperhatikan Sam sementara tangannya sibuk memotong tomat.

"Ini, Ma--"

"Ngadu, deh," sinisku.

"Chitra, jangan suka motong omongan orang," tegur Mama.

"Makanya lo bantuin dong, Chit."

"Apa, sih? Bantuin apa?" Mama tambah kepo.

"Temen Sam 'kan mau rilis lagu, Ma. Nah dia mau bikin video clip. Konsepnya nanti ada satu dancer nari di ruang kosong gitu. Nanti cuma keliatan item doang kok, jadi kayak bayangan. Nah Sam mau minta tolong Chitra jadi dancer-nya, tapi dia gak mau."

Jurnal ChitraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang