malam minggu.

346 75 23
                                        

Sudah lebih dari lima belas menit Arsyad duduk di atas motornya, lengkap dengan jaket kulit, sarung tangan, dan masker hitamnya. Ia menatap pergelangan tangan kirinya, mengikuti pergerakan jarum jam yang kini sudah menunjukkan pukul lima lewat di sore hari. Keningnya mengernyit, terlihat berpikir keras.

"Nggak jadi pergi, Mas?"

Arsyad menoleh ke asal suara dan mendapati Alena yang duduk di bangku teras sambil memakai sepatunya. Adiknya itu terlihat cantik, dandanannya juga terlihat tidak biasa. Rambutnya ditata keriting gantung, make-up nya terlihat sedikit berbeda karena warna bibirnya yang lebih merah dari biasanya. Ia mengenakan atasan model sabrina dan celana jeans yang menurut Arsyad terlalu membentuk tubuh itu.

"Mau kemana kamu?" tanya Arsyad dengan penuh selidik.

"Main sama temen," ucap Alena tanpa mengalihkan pandangannya dari tali sepatu putihnya. Sesekali matanya melirik ke arah ponselnya yang ia letakkan di atas meja.

"Kemana?"

"Tempat biasa."

"Tempat biasa tuh dimana?"

"Ada deket. Kenapa sih Mas banyak nanya kaya ujian aja," gerutu Alena lalu berjalan melewati Arsyad menuju pintu pagar.

"Sama siapa aja?"

"Mas mau tau banget."

"Ada cowok?"

"Apaan sih, Mas? Jangan lebay, deh!" Alena kesal karena merasa diinterogasi oleh Arsyad. Ia paling tidak suka kalau jiwa overprotektif Kakaknya itu keluar.

"Pake baju kaya gitu?"

"Emangnya kenapa?" tanya Alena cemberut. "Aku keliatan gendut?"

Sungguh, bukan itu maksud Arsyad. Namun, pertanyaan Alena barusan membuatnya tertawa, memancing emosi dari si Bungsu keluarga Dirgantara.

"Nggak, Le," ucap Arsyad disela-sela tawanya. "Cuma agak terbuka aja."

Alena memutar bola matanya dan mendecak kesal. "Bosen, komennya gitu mulu. Apa salahnya emang kalau pake baju kaya gini?"

Arsyad itu sangat sayang dengan Alena. Ia akan melakukan apapun untuk melindungi adiknya itu dari segala marabahaya yang ada di dunia. Untuk Alena, ia rela melanggar norma, peraturan, ideologi, dan adat jika hal itu dibutuhkan untuk menjaganya. Hal tersebut ia pelajari dari sang Ayah yang mengatakan bahwa ia sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga harus membantu Ayahnya dalam menjaga Bunda, Mbak Adin, dan Alena.

Namun, rasa sayangnya yang begitu besar membuatnya tak sampai hati untuk berlaku tegas pada Alena. Adiknya itu terkenal galak, tapi sangat mudah menangis jika dibentak. Dipelototi saja sudah ciut. Oleh karena itu, tidak pernah sekalipun Arsyad memarahi Alena atas perbuatannya yang cenderung lebih nakal daripada ia dan kakak sulungnya. Jika ia merasa Alena melakukan sesuatu yang kelewatan dan perlu diceramahi, ia akan meminta Mbak Adin untuk turun tangan karena Kakaknya itu tidak segan-segan memarahi sampai korban omelannya itu menangis sesenggukan.

"Kalau mau pake baju kaya gitu, seenggaknya pake jaket. Biar di jalan nanti nggak diliatin orang," ucap Arsyad mengalah.

Alena hanya manyun lalu menggeleng. "Males ah ngambil lagi ke dalem."

Arsyad menghela napasnya pasrah. Menghadapi Alena butuh kesabaran yang ekstra. Dengan terpaksa, ia melepaskan jaket kulit hitamnya dan memberikannya pada Alena.

"Nih, waktu di jalan harus dipake. Boleh dilepas kalo udah sampe tempat mainnya."

Senyum Alena merekah lebar. Ia mengambil jaket Arsyad lalu mengenakannya dengan cepat. Tubuhnya yang mungil membuatnya tenggelam dalam jaket tersebut.

The Warmest IceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang