Sluitend | Pergi

9.2K 492 40
                                        

1 Tahun kemudian...

Cerita kehidupan tak akan ada penghujung, senantiasa memulai babak baru, sebelum diberi penutup oleh kematian.

Lika-liku hidup yang penuh dengan ujian, takdir yang tak akan pernah henti bermain, menghadapkan banyak tantangan dan ujian, sebelum ia sendiri yang akan mengatakan, bahwa ini adalah waktunya untuk pulang.

Awal dari musim hujan di bulan Oktober, tanah yang seharusnya sedikit gersang, kini terlihat becek dan lengket, meninggalkan jejak ketika dilalui dengan telapak kaki.

Pemuda gagah berkemeja batik dan celana dasar hitam, kini berjongkok disamping sebuah makam.

Semilir angin menerpa lembut wajahnya. Nisan itu tertulis nama seseorang manusia tangguh, ALLEEN ABIYASA A.M.

Pemuda yang tak lain adalah Ikbal meraba sekilas nama itu seraya tersenyum. “Gimana kabar lo di sana, bro?”

Ikbal kemudian terkekeh pelan. “Gue baik-baik aja di sini.”

Pemuda yang baru saja merayakan ulang tahun ke delapan belasnya itu kini memulai sesi curhatnya. “Maaf karena udah jarang datang ke sini, gue ga akan pernah lupa sama lo kok, bahkan sampai sekarang.”

Ia mohon, jangan sampai ada setetes air mata pun yang jatuh sekarang.

“Ternyata hidup lumayan sulit ya? Sesuatu hal gak bisa gue dapatkan tanpa ada yang namanya usaha.” Ikbal menarik napas sejenak, saat rasa sesak itu kembali menjalar, seperti biasa.

“Gue sekarang udah buktikan sama lo, Al. Gue udah bisa melakukan beberapa hal tanpa lo, gue bisa karena kemampuan gue sendiri. Tanpa contekan lo, tanpa ceramah lo. Dan sekarang gue bisa jadi kebanggan bokap gue, karena sesuatu yang gue peroleh sendiri.” Suara Ikbal terdengar memelan. “Walau nilai ujian kelulusan gue, standar sih.” Lanjutnya, samar

"Al ... gue dinyatakan lulus pantukhir pusat Taruna Akademi Kepolisian. Gue berhasil, Al! Tinggal selangkah lagi mimpi gue sekarang udah bisa gue capai.” Tanpa diberi aba-aba air matanya perlahan meluruh.

“Tapi kenapa gue merasa selalu ada yang kurang?” Suaranya mulai terdengar serak. “Gue butuh pencerahan sekarang, kenapa gue malah gak bahagia di saat apa yang selama ini gue impikan hampir gue dapatkan?” 

Biasanya dulu, Alen akan mulai menceramahinya dengan dalil ataupun hadits tentang nikmat apa yang ia dustakan.

Satu tahun memang sudah berganti, namun, apa yang terjadi, entah kemarin atau esok hari, semuanya belum bisa berubah secara utuh. Waktu memang sangat cepat sekali berlalu, namun, kenangan tak akan pernah hilang semudah itu.

Tak pernah terbayangkan jika seseorang yang baru saja akan Ikbal kenal lebih jauh dan ia anggap sebagai sahabat, kini telah pergi, tanpa bisa kembali.

Pernah terucap janji akan selalu bersama mengejar mimpi, bergelut dalam menaklukan dunia yang penuh dengan kekejaman yang begitu tampak di depan mata. Namu, ternyata dia sudah terlampau lelah, dan memilih mengakhiri semuanya di saat mereka belum sempat memulai langkah pertama.

Ikbal menghapus jejak air matanya, ingin menyudahi semuanya. “Bentar lagi gue masuk pendidikan. Maaf kalau nanti gue bakalan jarang banget datang ke sini.”

Pemuda itu beranjak berdiri dari posisinya. Netranya kembali menatap makam itu untuk keberapa kalinya, namun kali ini diikuti dengan seulas senyum tipis.

“Gue pamit ya, Al, yang tenang di sana, gue bakalan selalu ingat lo di sini.”

Langkah kaki Ikbal mulai menjauh, bersama dengan rasa sakitnya yang perlahan terobati. Ia sekarang merasakan bagaimana rasanya berjuang sendiri, tanpa adanya seorang sahabat.

Kini dirinya harus kembali berlari tanpa ditemani, berpetualang akan sulitnya mengejar mimpi.

“Jangan pernah lupakan gue ya, Bal. Jangan lupa kalau ada manusia sok tangguh kayak gue yang dulu pernah lo kenal.

“Gue ga akan pernah lupa, Al .... sampai kapan pun itu," ujarnya tersenyum. Saat semilir angin kembali menerpa lembut wajahnya, seolah membawa sebuah kabar.

Sahabatnya itu sudah tenang di sana.

***********

Jangan pernah mengatakan kuat jika sebenarnya sedang berada di titik terendah.

Jangan mengatakan baik baik saja jika sebenarnya sedang berada di ambang kata menyerah.

Lelah hal biasa karena semua manusia pasti pernah merasakannya.

Tapi, pernahkan kalian merasakan sebuah kata lelah seumur hidup, namun didoktrin agar selalu bertahan dan bersikap layaknya tak terjadi apa apa?

Mengukir senyum yang pada dasarnya sedang terluka?

Memendam luka dan mengakan kalau ia tengah baik baik saja?

Dan ini adalah kisah Alleen, seseorang yang pandai menyimpan luka tanpa tahu bagiamana cara mengobatinya

“Jangan pernah berpikir ingin hidup kayak gue, ya. Gue memilih pergi disaat gue belum terlalu mengenal apa arti dari kata bahagia. Jadi gue harap, berbahagialah selagi kalian masih bisa.”

—Dari gue untuk kalian semua, Alleen.

Alleen (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang