Beberapa hari kemudian.
Alen yang baru saja membuka pintu seketika menampakkan ekspresi wajah takjub, melihat apa yang sekarang dilakukan oleh sang Papa dikamarnya.
Penglihatan matanya seketika langsung disambut oleh dekorasi yang membuat kamar yang sedari dulu terlihat hampa menjadi lebih menarik untuk dihuni, ada penghangat ruangan yang juga terpasang dipojok sana, hingga suhu tidak akan lagi terlalu lembab atau dingin.
Tangan Abi mulai mengukur tembok, niat ingin membuatkan jendela dikamar sang putra, agar cahaya matahari bisa masuk.
“Papa bakalan buat jendela yang gede buat Alen. Katakan sama Papa mau se-gede apa? Atau mungkin mau pindah kamar aja?” tanyanya.
Alen hanya tersenyum tipis seraya berjalan menuju kearah tempat tidurnya, semua yang dilakukan sang Papa sekarang, terlihat terlalu berlebihan. “Ini semua udah lebih dari cukup kok, Pa.”
Lagian selama ini ia juga tak meminta apa-apa lagi, bisa tinggal seatap dengan Abi dan dapat melihat wajahnya setiap saat, sudah membuatnya merasa senang.
“Kok gitu?”
Alen yang saat ini sudah duduk di ranjangnya hanya terkekeh.
“Coba katakan sama Papa, Alen mau apa hm? Papa akan coba berikan apapun itu.” Abi berganti mencium pipi tirus milik sang putra. Tangannya mengelus pelan pucuk kepala Alen yang terpasang kupluk, bibir pucat anak ini tak henti mengukir senyum.
“Rambut Alen udah mulai rontok, Pa," ucap Alen kemudian, sontak mengalihkan pembicaraan.
Abi mangut-mangut sebentar. “Hem, Papa tau."
Alen tersenyum hambar. “Gimana kalau Ale jadi botak?" tanyanya.
“Masih tetap ganteng kok, anaknya Papa masih jadi yang paling ganteng walaupun harus botak sekalipun.” Sebisa mungkin Abi ingin merangkul pundak rapuhnya, agar jangan sampai anak ini mengatakan ingin menyerah. “Atau Ale mau ga?” Tawar Abi kemudian.
Alen berdeham.
“Papa juga botakin kepala Papa.”
“Buat apa?”
“Biar samaan, ga cuma Alen aja.”
Alen terkekeh mendengarnya, karena tiba-tiba saja mengingatkannya pada kartun dari negeri Jiran kesukaannya itu. “Ga usah, Pa. Entar malah jadi kembar botak lagi.”
Abi terbahak. Receh sekali.
Ucapan putranya yang ada ada saja, tapi memang ada benarnya juga. Sedetik kemudian Abi ikut memperhatikan sebuah album foto ditangan Alen yang entah dari mana anak itu dapatkan, padahal Abi pun lupa dimana ia menyimpannya.
“Bunda itu pintar ambil foto ya. Kalau Mama pintar pakai make up.” Celetuk Alen mengganti topik pembicaraan.
“Kok tau?”
“Iya, cita-cita Bunda kan jadi fotografer profesional, kalau Mama kan model.” Alen menunjuk salah satu halaman album yang berisi foto-foto lama.
Ada satu foto Aline yang terselip, wanita berambut panjang namun dikuncir kuda itu terlihat tersenyum manis bepose sedikit canggung, dengan kamera yang tergantung dilehernya.
“Pa...” Alen memanggil ketika teringat akan sesuatu.
"Kenapa, sayang?"
“Ale bisa minta sesuatu ‘kan?”
“Tentu, katakan." Abi mengangguk seraya tersenyum tipis.
“Ale bisa minta Papa agar jadi orang yang lebih baik ga? Kalau Papa lagi kacau ingat Allah, dekatkan diri lagi sama Allah. Bukan malah minum-minuman keras di bar.” Alen memandangnya tak biasa. Entah mengapa Abi merasa hatinya tercubit sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alleen (End)
Teen Fiction[Halal Area] BUKAN lapak bl atau b×b👊 Alleen hanya ingin menjadi yang terbaik. Apa pun cara akan ia lakukan agar mereka dapat menerima kehadirannya. Ia yang tak pernah diharapkan dari lahir, seharusnya tak perlu hidup dan menanggil lelaki yang hidu...
