Makna tersembunyi dari bunga Dandelion itu, terlihat rapuh namun nyatanya sangat tangguh, indah, dan memiliki arti yang mendalam. Berani menentang angin, terbang tinggi dan menjelajah angkasa.
Kelihatannya memang tak ada yang terkesan luar biasa, ia memang bukanlah tanaman hias yang berharga, ataupun istimewa yang tumbuh dipekarangan rumah. Akan tetapi, Dandelion hanyalah bunga yang hidup liar, tanpa dirawat, tumbuh disekeliling rumput dan ilalang.
Tatkala angin berhembus, kelopaknya akan berguguran, dengan membawa harapan, tak tau arah ketika angin menerbangkannya. Dimana angin membawanya disanalah ia akan tumbuh menjadi kehidupan yang baru.
"Dandelion adalah sosok yang kuat, meskipun tampak rapuh."
Alen tersenyum, ditangannya ada setangkai bunga Dandelion yang ia ambil disekitaran ia duduk.
Sebegitu miripnya kehidupannya dengan Dandelion? Dirinya seakan bisa melihat gambaran kehidupan seorang Alen dulu, hanya dengan melihat pemandangan bunga dandelion yang tumbuh tak terawat disekitaran ilalang.
“Huhhh...”
Alen meniupnya pelan, kelopak kecil itu kini mulai berterbangan karena terbawa angin.
Senyuman manis Alen kini kembali mengambang. "Kita lihat, kali ini angin bakalan bawa kalian kemana," gumamnya menatap kelopak yang kini mulai berterbangan tak tau arah.
“Al...”
Fokus Alen seketika dibuyarkan saat Abi memanggil namanya. Lelaki itu sengaja tak masuk kantor lagi beberapa hari ini, hanya untuk sang putra dan menghabiskan waktu bersamanya.
Mereka kesini karena keinginan keras kepala Alen sendiri. Sebuah taman objek wisata yang memiliki daya memenangkan.
“Papa tahu?” Mata Alen yang sedari tadi puas mengamati langit senja kini menatap kearah sang Papa. “Senja itu penghujung waktu tau."
Jemari kurusnya berusaha ingin mengapai sesuatu dilangit yang mulai nampak berwarna jingga. Salah satu ciptaan Allah yang Maha dahsyat indahnya.
"Setelah senja ada malam yang datang menyapa. Ada bintang yang bakalan jadi penerang di malam yang remang. Biar angkasa ga hanya gelap.”
Abi menggubris. “Ale udah jadi bintang yang paling terang di kehidupannya Papa. Jadi Papa gak pernah merasa malamnya Papa selalu gelap.”
Alen berganti tersenyum tulus menatap kearah Abi. “Tapi-- kalau nanti Alen redup gimana?” balasnya.
Seketika senyuman Abi perlahan memudar, disambut oleh Alen.
Tes!
Alen menyentuh hidungnya, cairan merah itu kembali merembes keluar. Abi yang melihatnya seketika dibuat panik.
"Tunggu ya, Papa ambil tisu dimobil.” Panik Abi, secara spontan menyeka darah itu tanpa memikirkan kalau telapak tangannya sudah dilumuri oleh cairan amis.
Melihatnya Alen tersenyum tipis, ia selalu membuat semua orang merasa khawatir, ya?
“Kita pulang aja ya, sayang? Udah mau Maghrib.” Putus Abi kemudian, mengingat keadaan putranya yang tidak memungkinkan lagi.
Alen menggangguk mengiyakan. “Iya, Alen mau pulang, Pa," ujarnya samar.
Tubuh Alen yang tiba-tiba menjadi sangat lemas, kini dibantu oleh Abi untuk berdiri. Sendiri kakinya terasa nyeri dan sedikit susah digerakkan, membuat dirinya tertatih untuk berjalan.
“Alen bisa berjalan sendiri kok, Pa," ucapannya lemah, masih berusaha untuk kuat.
Dirinya sebenarnya sudah tahu akan segera tumbang, pusing luar biasa kini mulai menjalar dikepalanya, pandangannya mengabur perlahan menggelap. Alen tak sanggup lagi hanya untuk sekedar berjalan beberapa langkah lagi, sampai....
KAMU SEDANG MEMBACA
Alleen (End)
Teen Fiction[Halal Area] BUKAN lapak bl atau b×b👊 Alleen hanya ingin menjadi yang terbaik. Apa pun cara akan ia lakukan agar mereka dapat menerima kehadirannya. Ia yang tak pernah diharapkan dari lahir, seharusnya tak perlu hidup dan menanggil lelaki yang hidu...
