22. Tweeëntwintig

4.1K 178 2
                                        

“.... Kankernya udah jalan sampai stadium akhir."

Sendi kaki Abi melemas, seakan ada anak panah yang menghunjam tepat mengenai jantungnya. Terduduk didepan ruangan dimana Alen dirawat, Abi menunduk, isak tangisnya tak bisa ia tahan lagi.

Sehebat apapun seorang dokter, tetap mereka bukanlah Tuhan yang dapat menentukan setiap hidup dan mati para pasiennya. Mereka juga hanyalah manusia yang tak akan pernah bisa menghalau ketika maut menghampiri mereka. Dan sudah secanggih apapun alat medis sekarang, tak akan pernah mempan mengubah takdir pasien jika memang sudah waktunya untuk berpulang.

Abi tanpa aba-aba berlutut dihadapan Gala yang juga menundukkan kepala, merasa optimisnya selama ini juga harus ikut patah dan disadarkan secara paksa. Meskipun dokter, ia hanyalah manusia.

Kedua tangan Abi, ia satukan tanda memohon. “Tolong selamatkan anak gue, Gal, apapun caranya. Gue mohon, gue ga mau kehilangan dia secepat ini."

Beberapa kali terucap mohon dari bibirnya, Abi merasa putus asa sekarang. Air matanya tak henti mengalir. Ia belum akan pernah sanggup jika harus kehilangan putra semata wayangnya.

“Abi!" Gala membantu temannya untuk berdiri. “Bangun, ga enak dilihat orang lain." Sambungnya, karena Abi masih kekeh dengan posisinya. Lalu mengajaknya untuk duduk dikursi tunggu.

“Kenapa harus dia, Gal?” Abi lirih.

“Kenapa harus dia yang merasa tersiksa karena perbuatan gue?! Belum cukup hampir seumur hidupnya gue siksa dan sekarang... " Tenggorokan Abi kembali tercekat ingin berucap 

“Kenapa bukan gue aja yang merasakannya?” Sambungnya semakin parau.

************

Sejak tadi Abi hanya termenung, melihat dari celah pintu yang ruang rawat milik Alen. Memikirkan jika setelah ini putranya pasti akan bertanya bagaimana kondisinya sekarang.

Dada Abi terasa sesak, bahkan tak sangup hanya sekedar menatap senyuman yang mengambang indah wajahnya, apalagi menyampaikan semua yang sebenarnya ia alami saat ini.

Sudut bibir Abi terangkat, mengukir senyuman tipis, ketika melihat Alen yang menatap selembar foto sang bunda yang ia keluarkan dari kantong piyama rumah sakit yang ia kenakan, terlihat remaja itu yang mulai berbicara sendiri, seperti biasa.

Klek!

Abi akhirnya memutuskan untuk masuk, saat melihat Alen yang sedikit kesusahan menyelimuti kakinya karena terhalang selang infus yang ia kenakan.

"Biar Papa bantu." Alen tersenyum, saat Abi membantunya.

Abi membalas senyumannya, dan mengelus surai kecoklatan milik Alen dengan pelan.

"Gimana keadaan Ale sekarang, Pa?" tanya Alen seperti dugaan awal, bertanya tentang keadaannya.

Namun, bukannya menjawab, tanpa aba-aba Abi malah memeluknya erat. Membuat senyuman Alen kembali terbit.

"Tambah parah ya?" Seolah dapat menebak, Alen kini bertanya dengan suara semakin samar.

Abi meggeleng, masih memeluk putranya erat, merasa tak kuat. Air mata Abi sudah menetes begitu saja tanpa Alen sendiri sadari.

"Tidak, putranya Papa kuat, jadi sekarang udah mau sembuh." Dusta Abi memutarbalikkan fakta.

Andai jika ucapan yang barusan terlontar keluar dari bibirnya benar-benar nyata. Namun naas ini hanyalah 'andai'. Mengapa kenyataan terkadang sangat menyakitkan?

"Serius, Ale beneran bakalan sembuh, Pa?" tanya Alen jadi antusias, raut wajahnya tiba-tiba tampak sumringah. Spontan dibalas oleh anggukan kepala sang Papa yang mengiyakan.

Alleen (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang