#07

2.8K 175 32
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

..

"Apa yang kau lakukan, love?"

Suara laki-laki yang mengalun merdu didengarnya dari balik tubuhnya membuat perempuan cantik itu menoleh, tersenyum dengan manja sebelum memeluk lengan suami tercintanya.

"Aku menemukan benda-benda ini di ruang kerja bekas milik ayahmu," Mereka sama-sama memperhatikan beberapa potret yang bertebaran di lantai yang beralas karpet bulu tebal itu.

Laki-laki berperawakan tinggi tegap dengan rambut hitam kecoklatan itu tertawa kecil sambil menarik secarik kertas foto itu, menatap apa yang terpampang didalamnya, "Ah, ini ayahku dan teman-temannya. Hm, Pelahap Maut."

Hermione menatap Theo dengan wajah terkejut sebelum bergerak mendekat untuk melihat foto itu. Benar saja, disana sekumpulan penyihir yang baru ia ketahui sebagai ayah mertua dan teman-temannya atau bisa dikatakan sebagai Pelahap Maut pertama berfoto sambil menatap kamera.

"Aku— baru tau."

"Ya. Ah, kau belum pernah bertemu ayahku kan?" Tanya Theo.

"Hanya saat perang dulu," Jawab Hermione. Memang benar adanya, pertama dan terakhir kalinya ia bertemu dan berjumpa dengan ayah Theo adalah saat perang dunia sihir kedua berlangsung, tepatnya saat di Hogwarts beberapa tahun lalu.

"Dia mati disana dan aku tidak peduli," Theo mencebikkan bibirnya masih menatap kertas ditangannya.

Hermione mengelus lengan suaminya dan menarik kertas dari tangan laki-laki itu, menatap dan meneliti wajah wajah asing disana.

"Apa ini ayahmu?" Tunjuk nya saat melihat sosok laki-laki tampan dengan setelan jas abu-abu gelap dengan potongan rambut pendek yang rapi. Sekilas mirip sekali dengan Theo, dari cara duduknya, ekspresi wajahnya dan tatapannya.

Theo mendengus, "Ya, sialan sekali dia persis seperti ku."

Hermione menoleh, "Lebih tepatnya kau yang persis sepertinya."

Theo tertawa mendengar jawaban itu.

"Siapa saja mereka?—" Hermione menunjuk beberapa wajah.

"— sebentar, aku yakin dia adalah Malfoy," Hermione menatap laki-laki bersurai paling beda dari beberapa laki-laki disana, platina yang tampak familiar yang bahkan anak kecil pun akan tau dari mana asal rambut itu.

"Abraxas Malfoy, kakek Draco."

"Ah—" Hermione mengangguk, lalu mengernyit sebentar sebelum menyeletuk lagi, "Jauh lebih manis dari Lucius dan Draco."

Theo lagi-lagi dibuat tertawa oleh istri kesayangannya, dia mengacak rambut Hermione dan mengecupnya, "Kau terlihat benar-benar menyukainya."

"Tidak—" Hermione terkekeh, "Bukan seperti itu. Hanya saja tatapannya tidak seperti Malfoy yang ku kenal. Dia agak— hm, lembut? Kukira."

Sudden Changes : At the Mercy of EvilTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang