09

7 8 1
                                    

Aku punya sepupu laki-laki dan perempuan yang rumahnya tidak jauh dari rumah ku, saat itu kami sedang bermain di pinggir tebing yang berada dekat rumah. Kami berdiri di pinggirnya aku berdiri di samping sepupu laki-laki hingga saat aku hendak berbalik, dia terjatuh kebawah sana aku syok melihat nya yang terduduk di bawah sana sepupu perempuan ku segera menghampirinya dia menuduh ku melakukannya padahal jelas bukan aku yang melakukannya, mereka berniat untuk mengatakannya pada ibu ku dan dalam sekejap darah ku seakan berhenti mengalir aku menebak semua kemungkinan yang akan terjadi padaku. Mereka pulang dan mengadukan nya pada ibuku, aku dapat melihat matanya yang menyiratkan akan kebencian kemarahan rasa malu aku segera masuk ke kamar aku takut tidak ada satupun orang di sana yang percaya bahwa aku bukan pelakunya.

Lagi lagi dia memukul ku dia melemparkan semua barang padaku, aku menangis karena semua ini tidak lah benar dia menyuruh ku meminta maaf sedangkan itu bukan lah kesalahan ku, berkali-kali aku katakan padanya bahwa itu bukan perbuatan ku! Tapi tetap saja dia menghajar ku habis habisan melemparkan barang barang pada ku aku di seret untuk meminta maaf dan karena aku rasa aku sudah lelah aku pasrah dan pergi ke rumah sepupuku untuk meminta maaf, setelah kejadian itu seperti nya ibu semakin tidak suka pada ku.

Hari berikutnya aku yang hendak mandi pun merasa takut lagi karena Ibuku ikut masuk ke kamar mandi seakan ibuku adalah mesin penyiksa yang siap kapan saja jika moodnya tidak baik, aku segera mandi agar tidak berlama-lama dengan nya di dalam sana ku bersih kan tubuhku sebersih bersihnya namun tetap saja jika tidak tepat di hatinya makan dia tidak akan puas dan kini tubuhku pun dipegangnya lagi dia membersihkan tubuhku sambil menyubit paha ku ini daerah yang sangat sakit jika di cubit, dia juga mengomel oke aku sudah yakin bahwa mood nya lagi lagi tidak bagus dan aku adalah tempat yang bagus untuk melampiaskan amarahnya begitu kesalnya dia hingga membentur kan kepala ku ke tembok pusing namun aku tidak biasa apa apa lagi yang aku bisa hanya menangis diam diam lagi menahan tangis dan suara agar tidak terdengar oleh telinganya, karena apa bila dia mendengarkan isak tangis ku ini hukuman yang dia berikan akan semakin menyakitkan dari ini. ')

PENANTIAN (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang