Matsukawa mendekat ke arah Hanamaki, berjongkok lalu melihat luka itu lebih dekat.
Matsukawa mengambil botol minumnya, meletakkan senjata api yang ia bawa ke tanah. Matsukawa mencuci tangannya, merobek sedikit kain bajunya dan membasahi dengan air minum.
"Lepaskan tanganmu"
Matsukawa mengelap luka Hanamaki dengan lembut. Dimata Hanamaki pemuda itu berubah drastis, dari awal bertemu mereka terus berselisih paham, Matsukawa adalah pria dingin yang sangat menjengkelkan, tapi kali ini pemuda itu tampak sangat baik dan perhatian.
Pemuda beralis tebal itu menarik lengan baju Hanamaki perlahan, memperlihatkan luka Hanamaki semakin jelas.
Matsukawa sedikit mengangkat keatas lengan Hanamaki lalu menyiram lukanya dengan air minum tadi, Hanamaki sedikit meringis menahan rasa sakit. Matsukawa mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, ternyata isi kotak tersebut adalah perban kecil yang ia simpan untuk jaga-jaga.
Dengan telaten Matsukawa membalut luka Hanamaki. Tak ada yang mau memulai pembicaraan, Matsukawa fokus mengobati luka Hanamaki, sedangkan sang empu cuma memperhatikan Matsukawa dalam diam.
"Terbiasa dengan ini ?" tanya Hanamaki memecah keheningan di antara mereka.
"Begitulah" Matsukawa selesai membersihkan luka Hanamaki, ia bangkit lalu memantau keadaan sekitar.
"Kau selalu sial begini ?"
Hanamaki menoleh, ia tahu pernyataan itu di tujukan untuknya. Hanamaki menyandarkan kepalanya di batu, menghela napas panjang. Mata hazel itu terpenjam, melemaskan otot-ototnya sebentar.
"Hidupku selalu sial dari lahir." terdengar tawa remeh setelah kalimat itu.
"Kita istirahat dulu"
Perubahan sikap Matsukawa membuat Hanamaki bingung, bagai memiliki dua kepribadian berbeda. Tapi kalau memang Matsukawa pengidap D.I.D mana mungkin masih menunjukkan aura sombong begitu.
"Kau tipe orang yang suka tebar pesona ?" kaos turtleneck hitam dibalut coat coklat muda, belum lagi skinny jeans yang ia kenakan. Walaupun sederhana Hanamaki tahu harganya pasti mahal. Dulu Hanamaki juga pernah kaya dan memiliki apa yang ia mau, tapi setelah membuat kesepakatan dan pergi dari rumah semuanya hilang tak tersisa.
"Tidak"
"Kau pasti bohong."
"Untuk apa ?" iris segelap malam itu melirik Hanamaki.
"Nona meminta kalau bersamanya harus pakai baju santai saja. Dia akan marah kalau aku mengenakan baju terlalu formal ketika di sampingnya." terbesit di benak Hanamaki tentang hubungan Matsukawa dan Harumi. Entah mengapa Hanamaki merasa bahwa Matsukawa memiliki perasaan dengan adiknya atau sebaliknya.
"Kau dan nonamu sangat dekat ya" kalimat singkat Hanamaki membuyarkan lamunan Matsukawa. Hanamaki sedikit cemburu karena ada orang lain yang lebih mengenal adiknya ketimbang dirinya yang notabene kakak kandung.
"Dia pasti senang punya kau di sisinya" tanpa sengaja perkataan Hanamaki terdengar ambigu. Matsukawa terkekeh, tuturan Hanamaki sedikit mengundang tawa. Pemuda aneh ini ternyata bisa menarik juga. Matsukawa akui pertemuan mereka benar-benar tidak di sangka.
Biasanya Matsukawa tidak banyak bicara dan selalu bekerja sendirian, namun kali ini pemuda yang bahkan belum memberitahu namanya itu, sedikit meramaikan pekerjaan Matsukawa.
"Makki, itu namamu ?"
"Ha ?"
"Aku tidak sengaja melihat foto di dompetmu" jantung Hanamaki langsung berdebar, apa Matsukawa sudah tahu siapa dia sebenarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save Her [Matsuhana] ✔
Fanfiction[Tamat] Hanamaki Takahiro, anak sulung keluarga mafia yang memilih tinggal sendirian melupakan ke gemerlapan harta dan tahta. Namun suatu ketika secara tidak sengaja mendengar sang adik di culik ke sebuah tempat yang bisa mengancam nyawanya. Tanpa...
![Save Her [Matsuhana] ✔](https://img.wattpad.com/cover/269125327-64-k507062.jpg)