prolog

1.3K 61 9
                                        

"Gimana rasanya kalau cinta datang di saat yang paling tidak terduga?"

Mungkin seperti itulah yang kurasakan saat ini. Namaku Anneth, seorang mahasiswi kedokteran di Universitas Indonesia. Cita-citaku sederhana, menjadi seorang dokter yang bisa membantu banyak orang, seperti yang selalu diimpikan oleh kedua orang tuaku. Aku selalu berusaha keras untuk meraih impianku. Bersama sahabat-sahabatku, Joa, Charissa, dan Nashwa, kami saling menyemangati, berbagi suka dan duka, serta berjuang bersama di kerasnya dunia perkuliahan.

Tapi, hidup tak selalu berjalan mulus. Masalah finansial datang menghantam, membuatku hampir menyerah pada pendidikan yang selama ini kuperjuangkan. Tumpukan tagihan SPP yang belum terbayar rasanya seperti gunung yang siap runtuh dan menimpaku. Setiap hari adalah perjuangan untuk mencari tambahan uang, berjualan online, bahkan sampai bekerja paruh waktu di sela-sela kuliah.

Di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukanku kembali dengan seseorang dari masa lalu. Deven, sahabat kecilku yang dulu selalu menemaniku bermain layangan di gang belakang rumah, kini hadir sebagai seorang dosen muda yang penuh perhatian. Pertemuan itu bagaikan setitik cahaya di tengah kegelapan, membangkitkan harapan baru dalam hatiku.

Namun, aku tahu, cinta tak selalu datang dengan mudah. Ada banyak hal yang harus kuhadapi, banyak pilihan sulit yang harus kuambil. Antara persahabatan, pengorbanan, dan mimpi-mimpi masa depan, manakah yang akan kupilih?

Dan dia ternyata adalah teman kecil gue—yang dulu suka main layangan di gang belakang rumah, yang dulu bilang, "Kalau kita udah gede, kita harus jaga satu sama lain, ya?"Gue pikir pertemuan itu cuma masa kecil yang udah tenggelam di waktu. Tapi ternyata, takdir punya rencana lain. Sekarang kami dipaksa menikah. Bukan karena cinta. Tapi karena keadaan.Tapi ternyata, Deven bukan sekadar dosen Matematika yang bikin pusing. Dia juga seorang dokter spesialis jantung dan kanker. Iya, seserius itu. Di balik wajah dingin dan suara tegasnya, dia ternyata adalah seseorang dengan banyak luka, banyak rahasia... dan mungkin, banyak cinta yang belum sempat dikatakan.Pernikahan kami bukan berawal dari kata "sayang". Tapi dari pengorbanan. Dari masa lalu. Dan dari janji yang pernah terlupakan.Gue gak tahu ini akan berakhir bahagia atau justru menyakitkan.Tapi satu hal yang pasti: ini bukan kisah cinta biasa.Gue adalah Anneth. Dan ini adalah cerita tentang perjodohan yang tak pernah gue inginkan, tapi perlahan... mungkin mulai gue pahami.Kalau kamu penasaran sama kelanjutannya, siap-siap jatuh cinta, nangis, kesel, bahkan senyum-senyum sendiri.Karena kadang, cinta sejati datang... dari masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. 💫Rumah sederhana di ujung gang sempit itu tampak semakin suram. Hujan gerimis sejak pagi menambah muram suasana hati Pak Damanik, yang duduk di kursi kayu reyot menghadap jendela. Matanya menatap kosong pada surat tagihan yang berbaris di meja. Tagihan listrik, air, dan yang paling menyakitkan: SPP Anneth yang sudah tiga bulan tertunggak.

"Dam, ini SPP Anneth belum kita bayar lagi, ya?" tanya Bu Chelsy pelan, membawa secangkir teh yang sudah tak lagi hangat.Pak Damanik hanya mengangguk, tanpa menoleh. "Aku sudah coba semuanya, Chels. Tapi proyek terakhir nggak dibayar penuh. Aku nggak tahu lagi harus gimana..."Istrinya duduk di sebelahnya, menggenggam tangan sang suami. "Aku kasihan sama Anneth. Anak itu sudah belajar mati-matian. Dia dapat ranking satu terus. Tapi kita malah kayak begini."Tangis menahan kecewa menggantung di sudut mata Chelsy, tetapi ia menahannya. Tak ingin menambah beban.Di kamar kecil di belakang rumah, Anneth sedang belajar. Kertas-kertas anatomi dan buku-buku kedokteran tersebar di lantai. Dia tahu, orang tuanya sedang dalam masa sulit. Dia mendengar semua. Tapi Anneth memilih diam dan terus berusaha. Belajar adalah satu-satunya cara yang ia punya untuk mengubah nasib.Namun sore itu, sebuah panggilan telepon dari pihak kampus membuat semuanya berubah."Pak Damanik, kami paham situasi Bapak. Tapi pihak yayasan sudah menetapkan aturan yang ketat. Jika bulan ini tidak ada pelunasan, Anneth tidak bisa mengikuti ujian semester dan terancam cuti kuliah."Ucapan itu seperti petir di siang bolong. Damanik hanya bisa terdiam. Lalu, perlahan-lahan, ia mengangguk—meski tahu, ia tak punya jawaban.

...

Malam harinya, saat semuanya tidur, Damanik membuka album foto tua di meja. Jari-jarinya berhenti di satu foto. Seorang remaja laki-laki dengan seragam putih abu-abu tersenyum di samping Anneth yang masih mengenakan seragam biru putih. Foto itu diambil saat acara perpisahan SMP.

Deven. Namanya masih ia ingat.Sahabat masa kecil Anneth yang dulu sering bermain bersamanya di kompleks perumahan mereka. Putra dari keluarga terpandang yang sangat baik dan perhatian. Damanik tidak menyangka, mungkin harapan itu bisa menjadi satu-satunya jalan keluar.Dengan rasa malu, keesokan harinya, Damanik memberanikan diri menghubungi Deven. Deven kini bekerja sebagai dokter muda di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Usianya baru 25 tahun, tapi karirnya sudah sangat gemilang.

Deven memandang lelaki paruh baya itu dengan mata terkejut."Pak Damanik? Lama sekali nggak ketemu."Damanik tersenyum getir. "Deven... Aku minta maaf datang tiba-tiba begini." "Tak masalah, Pak. Ada apa ya?"Dengan suara pelan dan penuh beban, Damanik menceritakan semuanya. Tentang kondisi keluarganya, SPP Anneth yang belum dibayar, dan ancaman cuti kuliah yang membayanginya.Deven terdiam beberapa saat. Ia menatap keluar jendela, lalu menoleh kembali pada pria yang dulu sering menyambutnya dengan senyuman hangat dan cerita-cerita lucu tentang Anneth."Aku bisa bantu, Pak."Mata Damanik membelalak. "Apa... apa maksudmu?""Aku mau bantu bayar semua tunggakan Anneth. Aku nggak mau dia sampai berhenti kuliah karena masalah ini. Tapi... dengan satu syarat."

"Syarat?"

Deven menunduk, lalu menghela napas. "Aku ingin... mendekati Anneth. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku ingin... menjadi bagian dari hidupnya."

Damanik terdiam. Sekujur tubuhnya membeku. "Tapi... dia masih kuliah, Deven. Dia punya mimpi yang ingin dia raih...""Aku tahu. Aku nggak akan memaksanya. Aku hanya ingin diberi kesempatan. Aku ingin mendukungnya. Dari dulu, aku selalu kagum padanya. Dan sekarang, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi seseorang yang bisa diandalkan olehnya."Air mata hampir jatuh dari mata Damanik. Ia tak pernah menyangka, remaja yang dulu sering bermain dengan Anneth kini datang menawarkan pertolongan sekaligus harapan baru untuk putrinya.

...Dua hari kemudian, Anneth sedang berada di perpustakaan kampus bersama Joa, Charissa, dan Nashwa. Mereka sedang berdiskusi tentang materi kuliah yang akan diujikan minggu depan.

"Gue stress banget nih sama anatomi. Kayaknya nggak bakal bisa masuk ke otak gue deh," keluh Charissa sambil memijat kepalanya.

"Sabar, Cha. Kita belajar bareng aja. Lo kan pinter gambar, jadi coba bikin catatan visual yang lebih gampang diingat," saran Joa.

"Betul tuh. Atau kita minta bantuan Deven aja? Dia kan dokter, pasti jago anatomi," usul Nashwa.

Anneth tersentak mendengar nama Deven disebut. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia berusaha bersikap biasa.

"Nggak usah lah. Deven kan sibuk. Lagian, gue juga nggak enak ganggu dia," jawab Anneth.

"Yaelah, Neth. Dia kan sahabat lo dari kecil. Pasti dia seneng kok bantuin lo," timpal Joa.

Tiba-tiba, seorang pria menghampiri meja mereka. Pria itu tersenyum ramah dan menyapa Anneth.

"Anneth?"

Anneth mendongak dan terkejut melihat Deven berdiri di depannya.

"Deven? Lo ngapain di sini?" tanya Anneth.

"Gue lagi ada urusan di sekitar sini. Tadi gue lihat lo di perpustakaan, jadi gue samperin deh," jawab Deven. "Gue denger lo lagi belajar anatomi? Mau gue bantuin?"

Anneth terdiam sejenak. Ia menatap sahabat-sahabatnya yang kini menatapnya dengan tatapan menggoda. Ia menghela napas dan akhirnya mengangguk.

"Boleh deh. Tapi jangan lama-lama ya. Gue nggak mau ngerepotin lo," kata Anneth.

Deven tersenyum. "Tenang aja. Gue seneng kok bisa bantuin lo."

Deven pun ikut bergabung dengan Anneth dan sahabat-sahabatnya. Ia menjelaskan materi anatomi dengan sabar dan mudah dipahami. Anneth terpukau dengan pengetahuannya. Ia menyadari bahwa Deven tidak hanya tampan dan perhatian, tapi juga sangat cerdas.

Saat mereka sedang belajar, Joa berbisik kepada Anneth, "Neth, kayaknya Deven suka deh sama lo."

Anneth tersipu malu. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

...Di dalam hati Anneth, badai mulai berputar. Ia masih bingung dengan perasaannya. Tapi satu hal ia tahu: langkah kecil malam ini akan menentukan masa depannya.Dan ia tidak bisa lari lagi.

Ini adalah kisah tentang perjalanan menemukan cinta sejati. Kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan harapan. Kisah tentang "Karena Cinta Tak Pernah Salah".

Karena Cinta Tak Pernah Salah (Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang