Beberapa tahun berlalu, Sandra tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan mandiri. Anneth dan Deven merasa bahagia melihat perkembangan Sandra yang semakin pesat. Namun, jauh di lubuk hati mereka, ada keinginan untuk menambah anggota keluarga lagi. Mereka ingin Sandra memiliki seorang adik untuk bermain dan berbagi cerita.
Suatu malam, Anneth merasakan beberapa gejala yang tidak asing lagi. Ia merasa mual di pagi hari, mudah lelah, dan mengalami keterlambatan menstruasi. Ia curiga bahwa ia sedang hamil lagi.
"Deven, kayaknya aku hamil lagi deh," kata Anneth saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga.
Deven menatap Anneth dengan tatapan terkejut dan bahagia. "Serius, Neth? Kamu yakin?" tanya Deven.
Anneth mengangguk sambil tersenyum. "Aku ngerasa kayak waktu hamil Sandra dulu. Tapi biar lebih pasti, besok kita periksa ke dokter ya," jawab Anneth.
Keesokan harinya, Anneth dan Deven pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kondisi Anneth. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter kandungan memberikan kabar gembira. Anneth positif hamil dan usia kandungannya sudah memasuki minggu kedelapan.
Anneth dan Deven merasa sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Mereka berpelukan erat dan mengucapkan syukur kepada Tuhan atas karunia yang telah diberikan kepada mereka.
"Aku seneng banget, Neth. Akhirnya Sandra punya adik," kata Deven dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Deven. Aku juga seneng banget. Semoga anak kita sehat dan lahir dengan selamat," jawab Anneth sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.
Mereka segera memberitahukan kabar bahagia ini kepada Sandra. Sandra sangat senang mendengar bahwa ia akan memiliki seorang adik.
"Yeay! Aku mau punya adik! Aku mau adik laki-laki!" seru Sandra dengan gembira.
Anneth dan Deven tertawa mendengar celotehan Sandra. Mereka berharap, Sandra akan menyayangi adiknya seperti mereka menyayanginya.
Selama masa kehamilan, Anneth menjaga kesehatannya dengan baik. Ia mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, berolahraga ringan, dan menghindari stres. Deven selalu setia mendampingi Anneth, memberikan perhatian dan dukungan penuh.
Sandra juga ikut berpartisipasi dalam menjaga kesehatan ibunya. Ia sering mengingatkan Anneth untuk minum vitamin, makan buah-buahan, dan beristirahat yang cukup. Ia juga sering mengelus perut ibunya dan berbicara dengan calon adiknya.
"Hai, adik! Aku Sandra, kakak kamu. Aku sayang banget sama kamu. Kamu harus sehat ya di dalam perut Mama," kata Sandra sambil mencium perut Anneth.
Anneth merasa terharu melihat perhatian Sandra kepada calon adiknya. Ia berharap, Sandra dan adiknya akan menjadi saudara yang akur dan saling menyayangi ...
Beberapa bulan kemudian, saat usia kehamilan Anneth memasuki bulan kesembilan, mereka kembali memeriksakan kandungan untuk mengetahui jenis kelamin calon bayi mereka. Dokter kandungan memberikan kejutan yang menyenangkan.
"Selamat ya, Anneth, Deven. Kali ini anaknya laki-laki," kata dokter kandungan sambil tersenyum.
Anneth dan Deven merasa sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Mereka sudah lama menginginkan seorang anak laki-laki untuk melengkapi keluarga mereka.
"Alhamdulillah! Akhirnya Sandra punya adik laki-laki," kata Deven dengan wajah berseri-seri.
"Iya, Deven. Aku seneng banget. Semoga anak kita sehat dan tampan," jawab Anneth sambil mengelus perutnya.
Mereka segera memberitahukan kabar bahagia ini kepada Sandra. Sandra sangat senang mendengar bahwa ia akan memiliki seorang adik laki-laki.
"Yeay! Aku punya adik laki-laki! Aku mau kasih nama dia Geri!" seru Sandra dengan gembira.
Anneth dan Deven tertawa mendengar celotehan Sandra. Mereka setuju dengan nama yang dipilih oleh Sandra.
"Oke, Sandra. Kalau anak kita laki-laki, kita kasih nama Geri," kata Anneth.
Saat hari persalinan tiba, Anneth merasa lebih tenang dan siap dibandingkan saat melahirkan Sandra dulu. Ia sudah memiliki pengalaman dan tahu apa yang harus ia lakukan.
Proses persalinan berjalan lancar dan Anneth berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan tampan. Tangisan pertama bayi itu memecah keheningan ruang persalinan.
Anneth dan Deven merasa sangat bahagia dan terharu. Mereka tidak bisa menahan air mata kebahagiaan saat melihat bayi laki-laki mereka untuk pertama kalinya.
"Selamat datang ke dunia, Geri," bisik Anneth sambil mencium kening Geri.
"Papa sayang sama kamu, Nak," kata Deven sambil menggendong Geri dengan hati-hati.
Sandra juga sangat senang menyambut kehadiran Geri. Ia menggendong Geri dengan hati-hati dan mencium pipinya.
"Hai, Geri! Aku Sandra, kakak kamu. Aku sayang banget sama kamu," kata Sandra dengan senyum lebar.
Keluarga kecil Anneth dan Deven kini semakin lengkap dan bahagia. Mereka memiliki dua orang anak yang sangat mereka sayangi. Mereka siap untuk menghadapi babak baru dalam kehidupan mereka, membesarkan Sandra dan Geri dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mereka yakin, dengan cinta, mereka bisa memberikan yang terbaik bagi kedua anak mereka. Keluarga mereka akan selalu bahagia dan harmonis, melewati segala suka dan duka bersama.
...
Seiring bertambahnya usia, Sandra dan Geri menunjukkan minat dan bakat yang berbeda. Sandra semakin tertarik pada dunia seni, khususnya musik dan tari. Ia mengikuti les piano dan balet, serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang berhubungan dengan seni. Sementara Geri lebih tertarik pada dunia sains dan teknologi. Ia suka membaca buku-buku tentang ilmu pengetahuan, membuat eksperimen sederhana di rumah, dan bermain game komputer yang edukatif.
Anneth dan Deven berusaha untuk mendukung minat dan bakat kedua anak mereka. Mereka membelikan Sandra alat musik dan kostum tari yang ia butuhkan, serta mendaftarkannya ke berbagai kompetisi seni. Mereka juga membelikan Geri buku-buku sains dan peralatan eksperimen, serta mengajaknya mengunjungi museum sains dan pameran teknologi.
Anneth dan Deven menyadari bahwa setiap anak memiliki keunikan dan potensi masing-masing. Mereka tidak ingin memaksakan kehendak mereka kepada Sandra dan Geri. Mereka ingin Sandra dan Geri tumbuh menjadi individu yang bahagia dan sukses dengan cara mereka sendiri.
Suatu hari, Sandra mengikuti kompetisi piano tingkat kota. Ia berlatih keras selama berbulan-bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tersebut. Anneth dan Deven selalu memberikan dukungan dan semangat kepada Sandra.
Saat hari kompetisi tiba, Sandra merasa gugup dan cemas. Ia takut melakukan kesalahan dan mengecewakan orang tuanya. Anneth dan Deven berusaha untuk menenangkan Sandra.
"Kamu jangan takut, Sandra. Mama dan Papa sayang sama kamu, apapun hasilnya. Yang penting, kamu sudah berusaha semaksimal mungkin," kata Anneth sambil mencium pipi Sandra.
"Iya, Sandra. Kamu itu hebat dan berbakat. Kami bangga sama kamu," timpal Deven.
Sandra menarik napas dalam-dalam dan naik ke atas panggung. Ia memainkan lagu yang telah ia latih dengan sempurna. Penonton terpukau dengan penampilan Sandra yang memukau.
Setelah semua peserta tampil, juri mengumumkan pemenang kompetisi. Sandra berhasil meraih juara pertama. Anneth dan Deven merasa sangat bangga dan terharu. Mereka berlari ke atas panggung dan memeluk Sandra dengan erat.
"Selamat ya, Sandra. Kamu hebat sekali," kata Anneth.
"Kami bangga sama kamu," timpal Deven.
Sandra tersenyum bahagia. Ia merasa sangat senang dan bersyukur atas dukungan dari Anneth dan Deven.
Beberapa waktu kemudian, Geri mengikuti olimpiade sains tingkat sekolah. Ia juga berlatih keras untuk mempersiapkan diri menghadapi olimpiade tersebut. Anneth dan Deven selalu memberikan dukungan dan semangat kepada Geri.
Saat hari olimpiade tiba, Geri merasa percaya diri dan siap untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan. Ia mengerjakan soal-soal tersebut dengan teliti dan cermat.
Setelah semua peserta selesai mengerjakan soal, juri mengumumkan pemenang olimpiade. Geri berhasil meraih juara kedua. Anneth dan Deven merasa senang dan bangga dengan prestasi Geri.
"Selamat ya, Geri. Kamu pintar sekali," kata Anneth sambil mengelus rambut Geri.
"Kami bangga sama kamu," timpal Deven.
Geri tersenyum bahagia. Ia merasa sangat senang dan bersyukur atas dukungan dari Anneth dan Deven.
Anneth dan Deven terus memberikan dukungan dan kasih sayang kepada Sandra dan Geri. Mereka ingin Sandra dan Geri tumbuh menjadi anak-anak yang bahagia, sehat, sukses, dan berakhlak mulia. Mereka yakin, dengan cinta, mereka bisa memberikan yang terbaik bagi kedua anak mereka. Keluarga kecil mereka akan selalu bahagia dan harmonis, melewati segala suka dan duka bersama. Mereka adalah bukti nyata bahwa cinta tak pernah salah, dan cinta sejati akan selalu membawa kebahagiaan dan kedamaian.
Jangan lupa vote dan comen bye love you all 😘♥️🤗.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Cinta Tak Pernah Salah (Terbit)
RomansaAnneth, seorang mahasiswi yang menghadapi kesulitan finansial yang mengancam pendidikannya. Terlilit masalah SPP yang tak kunjung bisa dibayar, Anneth merasa putus asa. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Deven, seorang dosen yang ternyat...
