Setelah percakapan yang jujur dan melegakan dengan Deven di taman kampus, Anneth merasa sedikit lebih ringan. Beban di hatinya sedikit terangkat, meskipun pertanyaan-pertanyaan tentang masa depannya masih berputar di benaknya. Ia tahu, ia membutuhkan waktu untuk merenungkan semua ini, dan ia juga membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Langkah pertama yang Anneth ambil adalah menghubungi sahabat-sahabatnya, Joa dan Charissa. Ia mengajak mereka bertemu di sebuah kafe langganan mereka di daerah Depok.
"Jadi, apa yang mau lo ceritain, Neth? Muka lo kusut banget kayak cucian belum disetrika," celetuk Joa, sahabatnya yang selalu ceria, sambil menyeruput es tehnya.
Charissa, yang lebih kalem, menimpali dengan nada khawatir, "Iya, Neth. Lo kenapa? Ada masalah di kampus?"
Anneth menghela napas panjang. "Ini soal Deven," jawabnya.
Joa dan Charissa saling bertukar pandang. Mereka tahu Anneth dan Deven memiliki sejarah panjang sebagai sahabat sejak kecil. Mereka juga tahu Deven baru saja kembali dari luar kota.
"Deven? Kenapa sama Deven?" tanya Charissa penasaran.
Anneth menceritakan semua yang terjadi, mulai dari pertemuan kembali mereka, hingga lamaran Deven yang tiba-tiba. Joa dan Charissa mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan atau komentar.
"Gila! Deven ngelamar lo? Seriusan?" seru Joa tak percaya.
"Terus, lo jawab apa, Neth?" tanya Charissa.
"Gue bilang gue butuh waktu untuk mikirin ini semua," jawab Anneth.
"Menurut gue sih, lo harus pertimbangin baik-baik, Neth," kata Charissa bijak. "Deven itu cowok baik, perhatian, dan sayang banget sama lo. Lo nggak akan nemuin cowok kayak dia lagi."
"Tapi, gue masih bingung, Cha. Gue masih pengen mengejar karir gue. Gue takut kalau menikah, gue nggak bisa meraih cita-cita gue," keluh Anneth.
"Neth, lo bisa kok meraih cita-cita lo sambil menikah. Banyak kok perempuan yang sukses dalam karir dan rumah tangganya. Yang penting, lo dan Deven saling mendukung dan saling mengerti," timpal Joa.
"Iya, Neth. Yang penting itu komunikasi. Lo harus bicarain semua kekhawatiran lo sama Deven. Kalau dia benar-benar sayang sama lo, dia pasti akan berusaha untuk mencari solusi bersama," tambah Charissa.
Anneth merasa lega bisa berbagi cerita dengan sahabat-sahabatnya. Ia merasa mendapatkan dukungan dan masukan yang berharga.
"Makasih ya, Jo, Cha. Kalian emang sahabat terbaik gue," kata Anneth tulus.
"Santai aja, Neth. Kita kan selalu ada buat lo," jawab Joa sambil merangkul Anneth.
...
Sementara itu, di tempat lain, Deven juga sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, William dan Clinton. Mereka sedang bermain basket di lapangan dekat rumah Deven.
"Jadi, gimana, Ven? Anneth nerima lamaran lo?" tanya William penasaran.
Deven menggeleng. "Dia bilang dia butuh waktu untuk mikirin ini semua," jawab Deven.
"Yah, sabar aja, Ven. Anneth emang gitu orangnya. Dia butuh waktu untuk mengambil keputusan," kata Clinton menenangkan.
"Gue sih yakin, Anneth pasti nerima lo, Ven. Lo kan udah lama suka sama dia. Lo juga cowok baik dan perhatian. Siapa sih yang nggak mau sama lo?" timpal William.
"Gue juga berharap gitu, Will. Tapi gue nggak mau maksa Anneth. Gue pengen dia nerima gue karena dia benar-benar cinta sama gue, bukan karena kasihan atau merasa berhutang budi," kata Deven.
"Lo emang cowok gentle, Ven. Gue salut sama lo," kata Clinton sambil menepuk pundak Deven.
Deven tersenyum. Ia tahu, ia memiliki sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya.
Selain sahabat-sahabatnya, Deven juga memiliki keluarga yang sangat ia sayangi. Ia memiliki tiga orang kakak perempuan, Amel, Samuel, dan Devano. Amel sudah menikah dengan Winston dan memiliki dua orang putri, Alzera dan Senaya. Samuel berpacaran dengan Joa, sahabat Anneth. Clinton berpacaran dengan Charissa, sahabat Anneth. Devano sudah menikah dengan Naura dan memiliki seorang anak perempuan bernama Neona. Naura adalah kakak pertama Anneth.
Deven sangat dekat dengan kakak-kakaknya. Mereka selalu memberikan dukungan dan nasihat kepadanya. Ia juga sangat menyayangi keponakan-keponakannya.
Suatu sore, Deven mengunjungi rumah Devano dan Naura. Ia ingin meminta nasihat dari kakaknya tentang hubungannya dengan Anneth.
"Gimana, Ven? Anneth udah kasih jawaban?" tanya Naura sambil menyuguhkan teh hangat kepada Deven.
Deven menggeleng. "Belum, Kak. Dia bilang dia butuh waktu untuk mikirin ini semua," jawab Deven.
"Sabar aja, Ven. Anneth emang gitu orangnya. Dia butuh waktu untuk mengambil keputusan. Tapi gue yakin, dia pasti nerima lo," kata Devano menenangkan.
"Gue juga berharap gitu, Bang. Tapi gue nggak mau maksa Anneth. Gue pengen dia nerima gue karena dia benar-benar cinta sama gue," kata Deven.
"Gue ngerti perasaan lo, Ven. Tapi lo juga harus percaya sama diri lo sendiri. Lo itu cowok baik, perhatian, dan sayang banget sama Anneth. Lo pasti bisa bikin dia jatuh cinta sama lo," kata Devano.
"Makasih ya, Bang, udah kasih gue semangat," kata Deven.
"Santai aja, Ven. Kita kan keluarga. Kita selalu ada buat lo," jawab Devano sambil menepuk pundak Deven.
Deven tersenyum. Ia merasa beruntung memiliki keluarga dan sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya. Ia tahu, ia tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini.
Ini adalah kisah tentang perjalanan menemukan cinta sejati. Kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan harapan. Kisah tentang "Karena Cinta Tak Pernah Salah". Dan kini, kisah Anneth dan Deven semakin kompleks dengan hadirnya lingkaran sahabat dan keluarga yang memberikan warna dan dinamika dalam perjalanan cinta mereka.
Anneth menghabiskan beberapa hari berikutnya dengan merenung dan mencoba memahami perasaannya. Ia berbicara dengan orang tuanya, Bu Chelsy dan Pak Damanik, meskipun tidak secara spesifik mengenai lamaran Deven. Ia lebih banyak bertanya tentang pernikahan, komitmen, dan bagaimana menyeimbangkan karir dengan kehidupan berkeluarga. Orang tuanya memberikan jawaban bijak, menekankan pentingnya komunikasi, saling pengertian, dan dukungan dalam sebuah hubungan.
Suatu sore, Anneth memutuskan untuk mengunjungi Naura, kakak pertamanya. Ia ingin bermain dengan Neona, keponakannya yang lucu, dan juga ingin berbicara dari hati ke hati dengan Naura.
"Kak, menurut Kakak, nikah itu kayak gimana sih?" tanya Anneth sambil menggendong Neona.
Naura tersenyum. "Nikah itu kayak naik roller coaster, Neth. Ada saatnya naik, ada saatnya turun. Ada saatnya seneng, ada saatnya sedih. Tapi yang penting, kita nggak naik roller coaster itu sendirian. Ada pasangan kita yang selalu ada di samping kita," jawab Naura.
"Tapi, Kak, aku takut kalau nikah, aku nggak bisa meraih cita-cita aku," keluh Anneth.
"Nggak ada yang bilang nikah itu gampang, Neth. Tapi kalau kamu punya pasangan yang support kamu, kamu pasti bisa meraih cita-cita kamu. Aku aja bisa kok jadi ibu sekaligus berkarir. Yang penting, kamu bisa mengatur waktu dan prioritas kamu," kata Naura sambil mengelus rambut Anneth.
"Makasih ya, Kak, udah kasih aku semangat," kata Anneth.
"Santai aja, Neth. Aku kan kakak kamu. Aku selalu ada buat kamu," jawab Naura.
Setelah menghabiskan waktu bersama Naura dan Neona, Anneth merasa sedikit lebih yakin dengan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari bahwa pernikahan bukanlah akhir dari segalanya. Pernikahan bisa menjadi awal dari petualangan baru, asalkan ia memiliki pasangan yang tepat dan saling mendukung.
Sementara itu, Deven juga tidak tinggal diam. Ia berusaha untuk menunjukkan kepada Anneth bahwa ia adalah pria yang tepat untuknya. Ia sering mengajak Anneth jalan-jalan, makan malam, atau sekadar ngobrol di taman. Ia selalu berusaha untuk membuat Anneth merasa nyaman dan bahagia.
Suatu malam, Deven mengajak Anneth ke sebuah restoran romantis di daerah Puncak. Setelah makan malam, Deven mengajak Anneth berjalan-jalan di taman restoran.
"Neth, aku pengen kamu tahu, aku sayang banget sama kamu. Aku nggak akan pernah nyakitin kamu. Aku akan selalu ada buat kamu, apapun yang terjadi," kata Deven sambil menggenggam tangan Anneth.
Anneth menatap Deven dengan tatapan penuh haru. Ia tahu Deven benar-benar mencintainya.
"Deven, aku juga sayang sama kamu," kata Anneth dengan suara bergetar. "Tapi aku masih butuh waktu untuk memikirkan semua ini."
Deven tersenyum lembut. "Aku ngerti, Neth. Aku akan sabar menunggu sampai kamu benar-benar yakin dengan perasaanmu," jawab Deven.
Anneth memeluk Deven dengan erat. Ia merasa beruntung memiliki Deven di sisinya. Ia tahu, ia harus segera mengambil keputusan. Ia tidak ingin menggantungkan harapan Deven terlalu lama.
Ini adalah kisah tentang perjalanan menemukan cinta sejati. Kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan harapan. Kisah tentang "Karena Cinta Tak Pernah Salah". Dan kini, Anneth berada di ambang keputusan yang akan menentukan arah hidupnya. Apakah ia akan menerima lamaran Deven dan memulai petualangan baru bersamanya? Atau ia akan menolak lamaran Deven dan fokus pada karirnya? Waktu akan menjawabnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Cinta Tak Pernah Salah (Terbit)
RomanceAnneth, seorang mahasiswi yang menghadapi kesulitan finansial yang mengancam pendidikannya. Terlilit masalah SPP yang tak kunjung bisa dibayar, Anneth merasa putus asa. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Deven, seorang dosen yang ternyat...
