Hari-hari berlalu, dan Anneth semakin merasa tertekan dengan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Ia mencintai Deven, itu pasti. Namun, rasa cintanya itu seperti apa? Apakah cinta seorang sahabat, atau cinta seorang kekasih yang siap membangun rumah tangga? Ia terus bertanya pada dirinya sendiri, mencari jawaban di setiap sudut hatinya.
Suatu malam, Anneth tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke balkon kamarnya. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, namun ia tidak memperdulikannya. Ia menatap langit yang bertaburan bintang, mencoba mencari petunjuk dari alam.
Tiba-tiba, ia teringat percakapannya dengan Naura beberapa hari yang lalu. "Nikah itu kayak naik roller coaster, Neth. Ada saatnya naik, ada saatnya turun. Tapi yang penting, kita nggak naik roller coaster itu sendirian."
Kata-kata Naura itu seolah menyentuh hatinya. Ia menyadari bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah petualangan yang bisa dinikmati bersama orang yang dicintai. Ia juga menyadari bahwa ia tidak harus mengorbankan cita-citanya demi pernikahan. Ia bisa meraih cita-citanya bersama Deven, asalkan mereka saling mendukung dan saling mengerti.
Anneth menarik napas dalam-dalam. Ia merasa hatinya mulai tenang. Ia tahu, ia sudah menemukan jawabannya.
Keesokan harinya, Anneth menghubungi Deven dan mengajaknya bertemu di taman kampus, tempat mereka pertama kali bertemu kembali setelah sekian lama berpisah.
Deven datang dengan senyum cerah di wajahnya. Ia tahu, hari ini adalah hari yang penting bagi mereka berdua.
"Neth, ada apa? Kamu kelihatan serius banget," tanya Deven.
Anneth menggenggam tangan Deven dengan erat. "Deven, aku udah mikirin semua ini baik-baik. Aku udah tahu apa yang harus aku lakuin," kata Anneth.
Deven menatap Anneth dengan tatapan penuh harap. "Jadi, apa keputusan kamu, Neth?" tanya Deven.
Anneth menarik napas dalam-dalam. "Deven, aku... aku mau jadi istrimu," kata Anneth dengan suara bergetar.
Mata Deven membulat sempurna. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kamu... kamu serius, Neth?" tanya Deven.
Anneth mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Deven. Aku serius. Aku sayang sama kamu. Aku mau menghabiskan sisa hidupku bersamamu," jawab Anneth.
Deven langsung memeluk Anneth dengan erat. Ia merasa sangat bahagia. "Aku juga sayang banget sama kamu, Neth. Aku janji akan selalu membahagiakan kamu," kata Deven sambil mencium kening Anneth.
Anneth membalas pelukan Deven dengan erat. Ia merasa lega dan bahagia. Ia tahu, ia telah membuat keputusan yang tepat.
Setelah berpelukan cukup lama, Deven melepaskan pelukannya dan menatap Anneth dengan tatapan serius. "Neth, aku pengen kita segera merencanakan pernikahan kita. Aku pengen kita segera menjadi suami istri," kata Deven.
Anneth tersenyum. "Aku juga pengen gitu, Deven. Tapi kita harus bicarain ini sama orang tua kita dulu," jawab Anneth.
Deven mengangguk. "Kamu benar, Neth. Kita harus minta restu dari orang tua kita," kata Deven.
Mereka berdua sepakat untuk memberitahukan kabar bahagia ini kepada orang tua mereka masing-masing. Mereka berharap, orang tua mereka akan memberikan restu dan dukungan untuk pernikahan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Cinta Tak Pernah Salah (Terbit)
RomansaAnneth, seorang mahasiswi yang menghadapi kesulitan finansial yang mengancam pendidikannya. Terlilit masalah SPP yang tak kunjung bisa dibayar, Anneth merasa putus asa. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Deven, seorang dosen yang ternyat...
