Kesedihan Jiang Cheng

2.9K 377 19
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Upacara pemakaman Wen Qing di sebuah tempat pemakaman taman pemakaman Highgate yang terletak disisi utara kota London pun dilangsungkan, dan peti jenazah Wen Qing pun diturunkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Upacara pemakaman Wen Qing di sebuah tempat pemakaman taman pemakaman Highgate yang terletak disisi utara kota London pun dilangsungkan, dan peti jenazah Wen Qing pun diturunkan.

Tampak keluarga Wen sangat bersedih dan menangis kehilangan anggota keluarga yang sangat mereka cintai, Wen Chao, Wen Yangzi, Wen Zi Tao, Wang Lingjao dan juga Jiang Cheng.

Mereka kehilangan istri, ibu, keponakan, bibi dan juga saudara sepupu yang telah lama bersama mereka selama ini, air mata tak henti2nya mengalir dipipi Wen Yangzi.

Semua anggota keluarga tampak hadir, dan Wei Wuxian, Lan Wangji, Lan Xichen pun juga turut hadir untuk menghargai mendiang dari istri Jiang Cheng tersebut.

Wen Chao terdiam dan murung sepanjang acara, begitupun Wang Lingjiao dan Wen Zi Tao, sedangkan Jiang Cheng jangan ditanya, air mata tidak pernah berhenti mengalir di pipinya, Lan Xichen merangkul pundak Jiang Cheng sepanjang acara ceremony pemakaman untuk menenangkan, hingga akhirnya Wen Qing pun dimakamkan.

Dan pendeta pun mengucapkan kalimat "Yang Terhormat para tamu undangan yang hadir di pemakaman ini, izinkanlah saya atas nama keluarga Wen mengajak kita sekalian menaikan Puji dan Syukur ke hadirat Bapa di Sorga, karena atas kemurahan Nya yang melimpah atas kita sekalian, sehingga kita dapat berkumpul ditempat ini, dalam suasana perkabungan berkenaan dengan berpulangnya istri, ibu, bibi, menantu, dan saudara sepupu kami. Ditengah cuaca yang cukup cerah hari ini, engkau akan kembali kepada Tuhanmu, dari tanah kembali menjadi tanah, debu kembali menjadi debu, semoga Tuhan mengampunimu, beristirahatlah dalam damai disisi Tuhan, Amin" kata pendeta mengakhiri.

Lalu para tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan pemakaman, kini hanya tinggal Jiang Cheng dan Lan Xichen yang berdiri dipemakaman, Jiang Cheng tetap menggenggam erat payung hitamnya, tatapannya kosong menatap kearah nisan Wen Qing yang berbentuk salib itu.

Tanpa terasa hujan gerimispun turun, Lan Xichen masih setia berada disisi Jiang Cheng sambil terus merangkul pundaknya, dan Jiang Cheng sudah tidak bisa menangis lagi, air matanya terasa sudah kering, matanya sudah sembab karena menangis dari kemarin, hari ini Jiang Cheng hanya bisa terdiam dan menatap kosong.

"A Cheng, Wen Qing tidak suka jika kau terus seperti ini, kau tau, Wen Qing ingin kau bahagia, jika kau terus menerus seperti ini, dia tidak akan tenang meninggalkanmu seperti ini, ikhlaskan dia, sayang" kata Lan Xichen dengan lembut menggenggam tangan Jiang Cheng.

.

.

.

Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah sebulan sejak kematian Wen Qing dan Jiang Cheng sejak saat itu menjadi pendiam dan tertutup, meskipun dirinya kini tetap tinggal dirumah sakit untuk menjalani terapi perawatan untuk mengembalikan ingatannya kembali.

Disamping itu anak Jiang Cheng juga masih berada didalam ruang inkubator karena bobotnya yang kecil, namun kini anak Jiang Cheng sudah berukuran normal dan diberi nama Jiang Wenqi oleh Jiang Cheng.

Lan Xichen tetap dengan setia menemani Jiang Cheng dirumah sakit sedangkan Wei Wuxian dan Lan Wangji hari ini akan kembali pulang kenegaranya karena sudah sebulan lamanya meninggalkan rumah untuk menemani Jiang Cheng.

"Xiongzhang" kata Lan Wangji menghampiri Lan Xichen diruang rawat inap Jiang Cheng

"Xichen ge, A Cheng" kata Wei Wuxian, Jiang Cheng hanya menoleh namun kembali menatap kearah luar jendela dan melamun

"Wangji, adik Wei? kalian akan kembali hari ini?" kata Lan Xichen

"benar, sudah lama kami meninggalkan anak2, sudah sebulan disini" kata Wei Wuxian

"baiklah kalian tak perlu khawatir karena aku akan menjaga A Cheng baik2 disini dan aku janji takkan mengulangi kesalahanku padanya" kata Lan Xichen.

"Aku pegang kata2mu kakak ipar" kata Wei Wuxian

"tentu saja" kata Lan Xichen tersenyum

"kalau begitu kami pamit pulang dulu" kata Wei Wuxian

"Wangji pamit" kata Lan Wangji

"hati2 dijalan adik Wei, Wangji" kata Lan Xichen tersenyum

"ya kakak ipar" kata Wei Wuxian

"mn" kata Lan Wangji mengangguk dan mereka berdua pun keluar dari ruangan rawat inap Jiang Cheng dan pulang kenegaranya.

.

.

.

Dimansion kediaman keluarga Lan, karena Wei Wuxian dan Lan Wangji berada dilondon selama sebulan, maka Wei Wuxian menitipkan anak2nya pada pengawasan ketiga kakak2nya dan saat ini ketiga kakak2 Wei Wuxian berkunjung bersama pasangan2 mereka masing2 dan berada diruang keluarga mansion keluarga Lan.

"Zhanzhan keponakanku yang imut, dari tadi kau bermain game terus, apa kau sudah mengerjakan PRmu?" kata Luo Binghe

"sudah kok" kata Lan Xiao Zhan masih fokus bermain game diponselnya

"palingan juga Yibo yang buatin PRnya lagi" kata Lan Jingyi yang mendapat tatapan tajam dari Lan Xiao Zhan

"the power of bucin ya? hahaha! persis papanya Zhanzhan dulu" kata Huacheng

"memangnya bagaimana dulu papa mendekati mama? ceritakan dong!" kata Lan Xiao Zhan meletakkan hpnya dan mendekati ketiga pamannya dengan sorot mata ingin tau.

"Benar tuh aku juga penasaran kok bisa papa yang dingin seperti kulkas mau sama mama?" kata Lan Mei Li

"Li'er tidak sopan" kata Lan Li Zhu

"dulu papa kalian sampe rela menjadi guru hanya untuk mendekati mama kalian bahkan mama kalian saat itu adalah idol superstar yang paling terkenal dan papa kalian mengikutinya kemanapun" kata Moran

"seperti stalker?" kata Lan Mei Li dan Moran mengangguk.

"Tapi mama duluan kok yang saat itu datang kemansion ini, aku masih ingat banget saat pertama kali mama datang, ya kan A Yi?" kata Lan Sizhui membela Lan Wangji dan Lan Jingyi mengangguk

"wajar sih kan dulu Wei gege memang aktor terkenal siapapun akan terpesona padanya termasuk paman Wangji" kata Wang Yibo

"dan aku sampai sekarang masih tak menyangka A Xian yang terlihat manly dan maskulin itu ternyata uke juga seperti kita" kata Shen Qingqiu tertawa terkikik sambil mengibaskan kipasnya.

"Benar, padahal dulu kan A Xian kan terkenal playboy dan gayanya juga manly abis, siapa sangka dia rela dibawahnya tuan Lan?" kata Chu Wanning tertawa pelan

"ya dan tak ada yang menyangkanya bukan? padahal ketiga kakaknya posisinya diatas semua menjadi seme, ternyata adiknya menjadi uke sendirian, sama seperti kita bertiga" kata Xie Lian dan mereka bertiga pun tertawa terkikik bersama2.

Sedangkan Moran, Huacheng dan Luo Binghe cemberut mengingat adiknya diposisi bawah Lan Wangji, sedangkan Lan Sizhui, Lan Jingyi dan Lan Li Zhu merah merona mendengarkan percakapan itu.

Beda halnya dengan Wang Yibo yang tertawa menyeringai, sedangkan Lan Mei Li yang polos dengan hal itu, juga Lan Xiao Zhan yang jauh lebih polos hanya menatap sambil mengedip2kan mata kepada ketiga bibinya tersebut karena tak mengerti apa yang mereka bicarakan.

The Immortal CultivatorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang