Daun-Daun Menghijau, Burung-Burung Bahagia

2 1 0
                                    


Weekend berlalu seperti Angin musim semi yang berhembus dengan tenang. Berjumpa lagi dengan hari Senin. Satu minggu menuju perayaan HUT SMA Nusantara.

"Praba. Bukannya kemarin kamu cuma terluka dibagian dagu? Ko nambah di dahi juga?"

Aku terkejut karena Praba benar-benar babak belur. Entah apa yang terjadi dalam dua hari ini. Kupikir masalah dengan Kak Bilal tidak separah itu. "Kamu dikeroyok gengnya Kak Bilal?" Tanyaku penasaran. "Emang ada masalah apa sih Kamu sama Kak Bilal kok sampe segitunya dia ke Kamu?"

"Biasa Yan, dia merasa tersaingi sama kegantengan Aku ini." Jelasnya singkat. Entah apa yang dimaksud, tapi setauku meskipun dikenal dengan kelakuan yang serampangan dan semaunya, tidak pernah tersiar gosip kalau Praba suka ghosting ke cewe-cewe di sekolah. Ya, masuk akal juga si, apa yang dibilang sama Praba. Dari perkapan mereka yang kuingat saat berkelahi kemarin, bisa jadi Kak Bilal berfikir Praba bakalan merebut pacarnya, yang suka godain Praba. Resiko orang tampan nih.

"Tapi, ini bukan karna Kak Bilal Kok. Karena kurang hati-hati aja, jadi Aku kepeleset di depan Asrama kemarin. Hehehhe."

Aku iya-iya saja sambil memberinya anggukan kecil. Meskipun Aku bertanya, tapi Aku sendiri tidak terlalu fokus mendengarkan jawaban Praba. Persiapan HUT Sekolah terlalu banyak, apalagi untuk di kerjakan seorang diri sebagai satu-satunya Sekretaris kegiatan.

"Ada yang bisa Aku bantu Yan?" Tanya Praba, berusaha mencairkan suasana.

....

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Sedangkan Aku masih sibuk menyelesaikan berkas berkas yang diperlukan dalam acara minggu ini. Aku bahkan tidak sadar, semua anak sudah pergi meninggalkan kelas, hanya menyisakan Aku dan Praba yang sedari tadi masih menatapku.

"Yan, keluar, kita ke ruang OSIS." Lo itu Axel tadi yang manggil. Kok ketus amat nadanya. Dia juga tak menyapa Praba sama sekali.

Seperti biasa, Axel memimpin rapat OSIS. Tapi, ada yang berbeda. Dia terlihat tak ceria, dan raut wajahnya juga tidak ramah. Apa dia sedang ada masalah? Mukanya kok.. ada yang aneh sama Axel hari ini.

Diskusi berjalan sangat menegangkan karena Axel yang biasanya membawakan rapat dengan penuh semangat dan candaan kali ini begitu diam, suram dan mencekam. Wahh... ada apa gerangan dengan Axel? Apa dia sedang ada masalah?

Seusai rapat Aku berusaha mendekati Axel. Aku harus tahu dia ada masalah apa? Jangan-jangan ini soal Pingkan lagi. "Xel, kamu ada masalah?" Hening. Tak ada jawaban. "Xel, kalau ada apa-apa cerita aja yaa. Aku siap dengerin kok." Masih saja hening. Aku tak mengerti dia kerasukan setan apa Nampak-nampaknya. "Oiya, kamu udah ketemu Praba. Dia kasihan banget lo, mukanya jadi babak belur gitu. Menurutmu mungkin ga kalau dia emang jatuh?"

Axel masih tidak menjawab, tapi pandangannya berubah. Dia menghentikan aktivitasnya dan menatapku tajam-tajam, sampai-sampai bola matanya seperti akan keluar mengejarku.

"Dian, kamu tahu kan aku peduli sama kamu. Aku ga suka siapapun yang bikin kamu skit, sedih, apalagi sampe terluka kaya gini."

Aku tahu, Axel sedang marah padaku karena peduli padaku. Untuk menenangkannya seperti biasanya Aku hanya bisa mengangguk dan mengiyakan semua omelannya. Aku bersandar dibahu kurusnya. Axel memang tidak terlalu tinggi, dan badannya tidak sebagus badan Praba kelihatannya. Tapi Aku masih nyaman bersandar di bahunya. Bertahun-tahun bersahabat dengan Axel aku nyaman setiap kali berada di sisinya, merasa aman karena dia pasti akan menjagaku dari apapun masalah yang bisa menghampiriku. "Kenapa si kalian ga pacarana aja?" Pertanyaan yang Widya selalu lontarkan padaku.

Aku tidak tahu, perasaan ini apakah memang benar rasa nyaman antara dua sahabat, atau lebih. Apakah Axel bagiku hanya sebatas sahabat, atau aku melihatnya sebagai laki-laki. Aku tidak tahu. Dan Aku tidak ingin di rumitkan dengan masalah itu. Yang Aku tahu. Aku ingin selalu berada didekatnya untuk sementara ini.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Hari pertama perayaan HUT SMA Nusantara, akan diisi dengan perlombaan olahraga sesuai dengan yang diumumkan beberapa waktu lalu. Akan ada pertandingan Voli untuk Putri dan Bulutangkis untuk Putra. Praba yang masih sedikit memar, memaksakan dirinya mengikuti pertandingan bulu tangkis mewaikili XII IPS 2. Yah, Praba memang tidak sepandai Axel dalam bidang akademik, tapi dibidang olahraga dia bisa dong di adu hehe.

Praba berhasil mencapai babak seperempat final. Pertandingan akan dilaksanakan sebentar lagi setelah istirahat. Aku dan Axel yang sejak pagi sibuk mondar-mandir memastikan acara berjalan lancar akhirnya merasa lelah juga. Kami berdua duduk dibawah pohon beringin yang berdiri kokoh di depan GOR Gatotkaca yang digunakan untuk acara perlombaan hari ini.

"Yan, kenapa si kamu ga mau pacarana sampai sekarang? Apa belum ada cowok yang pas buat kamu?" Tiba-tiba saja Axel melontarkan pertanyaan yang sangat mengejutkan. Aku tidak menjawab, mataku tertuju pada mata Axel, Aku terkejut dengan pertanyaannya. "Engga, maksudku, apa kamu ga pengen ada laki-laki yang jagain kamu. Ya, bisa di ajak pesiar bareng, atau jalan bareng pas long weekend gitu?" lanjut Axel yang sedikit gugup.

"Bukannya ga mau si Xel, ya tapi belum ada yang cocok aja. Lagian kan Ada kamu hehe." Jawaban aman, karena Axel pasti tidak akan memperpanjang percakapan ini.

"Yan kamu tau ga? Adelia, adik kelas kita itu? Sudah beberapa waktu ini aku dekat dengannya. Aku juga intens chatingan sama dia. Tapi Aku ragu mau serius sama dia. Apa ga usah aku lanjutkan aja ya??"

Aku tak menjawab, dan hanya menaikkan kedua alis tebalku. Sambil mengikat rambutku yang mulai berantakan tertiup angin, Aku mengucapkan beberapa kata pada Axel. "Ya kalau suka sampaikan aja, kalau tidak juga sampaikan. Cewe itu gasuka digantung."

"Menurutmu begitu Yan? Kalau Aku sama Adel, kamu gimana?"

Aku tidak tahu, kenapa rasanya seperti tercekik. Ada udara panas yang mengalir dari dalam tubuhku menuju ke wajahku. Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang absurd ini. "Ak uke GOR dulu ya, mau lihat kelasku menang nih... hahaha.. bye.."

Praba Nampak begitu keren dengan setelan olahraganya yang ketat. Dengan tubuh yang tinggi dan lengan besarnya dia terlihat begitu sexy. "Wah, ternyata Praba boleh juga tuh." Celotehan cewe-cewe dibelakangku. Entah kenapa Aku merasa terganggu. Suara teriakkan bergema untuk mendukung Praba yang bermasil menang di Babak semi final.

"Yan, gimana permainanku? Bagus kan?" Dengan wajah yang penuh keringat, Praba menghampiriku dan membuat pandangan cewe-cewe tadi langsung tertuju padaku.

"hehe.. bagus.. semoga menang ya nanti di babak final!! Fighting!" Aku memberinya semangat. Dan ...

Apa itu tadi? Dengan wajah manisnya itu, Praba memberikan senyuman padaku dan mengelus rambutku. "Doakan Aku ya!"

Aku spontan memegang rambutku saat Praba berbalik menuju kelapangan. Cuma penasaran aja, jangan-jangan di kepalaku mulai tumbuh bunga-bunga yang bibitnya bersarang dalam hatiku. Perasaan ini permah muncul saat Axel mengusap dahiku beberapa waktu lalu.

Sepanjang pertandingan Aku hanya melamun dan tak fokus pada pertandingan.

Tiba-tiba sorakan seisi GOR membangunkanku dari lamunan. Praba berhasil menang dalam pertandingan final dengan skor yang sangat bagus. Aku menatapnya, Praba berlari menghampiriku dan memelukku lekat-lekat. Semua orang bersorak. Aku terdiam membisu. Aku tidak mengerti harus bagaimana. Aku hanya melirik ke sisi kanan dan kiri, ada teman-teman sekelasku yang mengelilingi kami. Untunglah mereka hanya fokus pada kemenangan Praba dan bukannya pada pelukan Praba padaku tadi. Saat Aku menolehkan pandanganku ke ujung GOR, Aku melihat Axel. Dia tak berekspresi, kemudian tanpa senyuman dan lambaikan tangan dia keluar GOR.

Musim Bunga di Ladang KaktusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang