IV

53 5 0
                                    

1 bulan mereka lewati bersama sama, dan itu tidak semulus yang di perkirakan. pasti banyak saja masalah yang seakan akan menghadang mereka untuk berjalan ke jenjang yang lebih serius, seperti menentang takdir. mereka tetap menerobos apa itu yang di namakan masalah, sampai pada akhir nya seorang Park Jisung sedang menunggu mempelai nya di atas Altar. dan Zhong Chenle yang tengah melawan rasa gugup nya, sebelum di bawa oleh sang Baba menuju Altar. menemui calon suami nya, yang mungkin akan menjadi sang pemimpin keluarga kecil nya nanti beberapa menit lagi

"sudah siap sayang?" menghela nafas dengan tenang, lalu mengangguk secara mantap "kemari" menuntun sang anak untuk memeluk lengan nya,Tn. Zhong pun berjalan ke arah Altar. dimana ada calon menantu nya yang sedang menunggu sang anak di sana

decak kagum dapat Chenle dengar dengan baik, dan itu cukup membuat diri nya merasa tenang walau tidak sepenuh nya. setidak nya ia tidak perlu gugup lagi karena takut jika penampilan nya ada yang kurang, mengangkat kepala nya secara perlahan saat sang Baba berhenti menuntun nya untuk berjalan. dapat ia lihat raut wajah Jisung yang menatap nya dengan penuh kekaguman, menunjukan sebuah senyuman manis nya saat menatap Chenle. membuat hati Chenle menghangat melihat nya

"Jisung, jaga anak Baba baik baik. jangan pernah membuat nya meneteskan air mata terkecuali air mata kebahagiaan, berikan ia kebahagiaan melebihi kebahagiaan yang telah kami berikan" pesan Tn. Zhong, lalu menarik secara lembut tangan Chenle untuk menerima uluran tangan Jisung

"pasti Baba, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk itu. terimakasih sudah memberikan kepercayaan kalian ke saya" Tn. Zhong mengangguk sekilas, lalu pergi saat melihat Jisung membawa Chenle ke hadapan Pendeta

Pendeta memulai kalimat yang akan di teruskan Jisung dan Chenle nanti nya, mengucapkan janji suci

“Zhong Chenle, aku Park Jisung mengambil engkau menjadi suami ku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus”

“Park Jisung, aku Zhong Chenle menerima engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus”

menatap satu sama lain, lalu menunjukan senyum yang tulus di masing masing bibir

"Jisung, cepat bawa Chenle pulang. lihat, ia terlihat sangat mengantuk. ia harus beristirahat, jangan langsung meminta jatah kepada nya" sahut Ny. Park secara blak blakan, membuat Jisung dan Chenle melotot tak percaya dengan ucapan Ny. Park, kenapa begitu blak blakan? benar benar mampu membuat wajah Chenle mengeluarkan semburat merah

"benar, Chenle terlihat sangat mengantuk dan lelah. sampai wajah nya merah seperti itu, cepat Park Jisung bawa Park Chenle ini pulang" goda Ny. Zhong, paham mengapa wajah anak nya tiba tiba saja mengeluarkan semburat merah

"berhenti menggoda Chenle, seharus nya kalian yang cepat pulang" bela Tn. Park "kalian sudah tua, bahaya kalau besok tidak bisa melayani suami kalian yang tampan ini" lanjut Tn. Zhong

"apa?! tua?!" pekik Ny. Park dan Ny. Zhong bersamaan, tidak terima di katai tua "dan apa tadi? kalian? tampan? tjih pede sekali" cibir Ny. Park

baru ingin melayangkan protesan, Tn. Park kembali mengantupkan bibir nya saat melihat Chenle hampir tersungkur saking mengantuk nya. untung ada Jisung yang sigap menangkap badan mungil itu

"aish,kalian itu sama sama tua. sama sama tampan dan cantik, jadi tidak perlu saling menyahuti. kami duluan, kasian Chenle terlihat sangat lelah" jadi ini lelah atau mengantuk? kedua dua nya saja, keempat orang tua itu sebenar nya ingin protes lagi. apalagi Jisung mengatai mereka semua itu tua, tapi saat melihat tatapan tajam Jisung. mereka lebih memilih untuk diam saja

membiarkan Jisung yang mulai jalan menjauhi mereka sambil membawa Chenle di gendongan nya

"tidur lah, kau pasti sangat lelah kan" dapat Jisung rasakan Chenle hanya mengangguk di gendongan nya

"apa masih jauh?" tanya Chenle, merasa sudah berjam jam di dalam mobil. namun tidak sampai juga di rumah yang akan di tempati nya nanti

"hm lumayan, kau tidur lah lagi" Chenle hanya menganggukan kepala nya, dan berharap ketika ia bangun nanti sudah sampai di rumah baru nya itu

menyalakan musik, lalu bersenandung kecil saat sebuah lagu terdengar. melihat orang di sebelah nya, lalu tersenyum kecil "cantik" gumam nya, kembali lagi pada sepi nya jalan malam itu. mengendarai mobil nya, beberapa menit kemudian akhir nya ia sampai dan memakirkan mobil nya itu di sebuah garasi di samping rumah yang terbilang cukup mewah

"Chenle"

"...."

"Chenle, kita sudah sampai. apa kau tidak ingin masuk?"

"sudah sampai?"

"iya sudah, mari. kita masuk"

"badan ku serasa hancur, pegal sekali" rintih Chenle saat merasa pinggang nya seperti ingin lepas, dan kaki nya yang kebas karena terlalu lama berdiri

"tunggu di sini" suruh Jisung lalu keluar dari mobil, mengitari nya sampai di depan pintu Chenle

"kemari" Jisung membalikan badan nya membelakangi Chenle

"ha? kau ingin menggendong ku?" deheman Jisung berikan "ah tidak usah, aku jalan sendiri saja" tolak Chenle

"kenapa?" merasa tidak terima di tolak, jelas jelas Chenle merintih kesakitan "aku berat" cicit Chenle malu

"hei? kau? berat? tidak sama sekali, bahkan seperti kapas, tidak terasa beratnya. bukankah juga tadi aku sudah menggendong mu? kenapa baru malu sekarang?"

"ha?! kenapa berlebi-

Ddrrrtttt

"sebentar" jeda Jisung

"halo Na hyung?"

'....'

"hm apa bisa nanti siang saja? acara pernikahan ku baru selesai, dan ini aku baru sampai di rumah. lagian ini juga sudah pukul setengah 2 pagi hyung"

'....'

"hm terimakasih hyung, aku janji nanti siang akan ku kirim kan kau seseorang"

'....'

"iya hyung, aku paham lelaki seperti apa yang kau inginkan. akan ku pasti kan nanti siang ada lelaki manis yang akan mendatangi mu tepat waktu"

'....'

"iya hyung, sekali lagi terimakasih" panggilan terputus

'siapa orang itu? Na hyung? lelaki manis? untuk apa? kenapa orang itu meminta nya kepada Jisung?' batin Chenle, bertanya tanya. siapa orang itu? dan Na hyung? dia merasa janggal dengan orang yang di panggil Na hyung tadi





Tbc

𝘼𝙡𝙪𝙧|𝐉𝐢𝐜𝐡𝐞𝐧✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang