1. Partner baru

313 81 107
                                    

Kedua langkah kaki gadis itu terdengar beriringan, hembusan angin sedikit mengibarkan helaian rambut hitam pekatnya. Netra birunya terlihat bersinar sempurna.

Ia menginjakan kaki di dalam sebuah bangunan sederhana, bangunan yang di kelilingi tumbuhan anggrek ungu.

Layla memejamkan matanya— menulikan pendengarannya. Ia yakin, setelah ini hanya akan terdengar suara teriakan nyaring kedua adiknya.

"Yeyy Kak Ayla pulang!" Satu kurcaci itu keluar dan tepat sesuai dugaannya. Ia langsung berteriak, berlari memeluk kakinya.

"Ihhh sini dulu Shei!! Kita belom selesai tau mainnya," Yang satu datang sambil memajukan bibirnya membanting mainan robot di tangannya. "Kakak juga ih, ngapain masuk ke rumah orang?!" Tanyanya garang.

Layla mendengus malas. "Kalian yang bikin berantakan?" Tanyanya, mengacuhkan semua perkataan kedua kurcaci itu, terutama Sheila yang terlalu cadel untuk dapat mengeja namanya dengan benar.

Sheila dan Alex sontak menyengir lebar.

Layla menatap datar, menolehkan kepalanya kepada Sheila yang masih memeluk kedua kakinya. "Lepasin Shei." Gadis kecil itu mengangguk.

Layla akhirnya memilih berjalan menjauh, kembali melangkahkan kakinya menuju dapur— tempat yang entah mengapa paling dikeramatkan oleh sang mommy.

"Eh anak nakal mommy udah pulang. Kamu tau gak? Tadi daddy bilang ke mommy kalau dapet surat undian lagi lhoh!" Sambut Mommynya dengan nada gembira, tetapi berbanding terbalik dengan tatapan tajam matanya yang mengarah pada wortel yang dipotongnya. Terdengar suara yang semakin lama semakin keras antara perpaduan pisau dan telenan yang digunakan.

"Mommy ngomong sama Layla?" Tanyanya enteng.

"Menurut kamu mommy ngomong sama siapa hah? Kunti?"

"Ya gak tau juga sih kan mommy ngomongnya sambil liat talenan bukan Layla." Jawabnya, beralih mencomot nugget yang terletak di atas meja makan.

"Heh cuci tangan dulu baru makan!" Mommy menatap tajam, berkacak pinggang.

Layla bukannya mendengar perintah mommy— ia langsung bangkit, mengecup sekilas pipi mommy, berjalan santai menuju kamar.

"Kamu langsung mandi trus ganti baju!"

"Layla dengerin kata mommy!! Awas aja nanti kalau mommy ke kamar, kamu masih pakai seragam sekolah!" Mommy mendengus.

Layla hanya mengangguk, kembali melanjutkan langkahnya.

Sesampainya di depan sebuah pintu, ia memutar knop, membukanya. Layla melangkahkan kaki masuk sambil melihat ke sekeliling. Jika dideskripsikan, Kamar Layla terlihat sangat berbeda dengan kamar gadis-gadis pada umumnya. Kalau kamar mereka berwarna pink atau warna cerah lainnya, kamar Layla berbanding terbalik dengan itu. Kamarnya memiliki perpaduan warna antara hitam dan abu-abu.

Pakaian sehari-hari Layla pun berbeda. Jika gadis lainnya memiliki puluhan bahkan ratusan dress atau skirt— orang biasa menyebutnya rok di lemari mereka— Layla tidak memiliki benda itu, kecuali seragam sekolahnya yang mengharuskan siswa perempuan memakai rok sebagai bawahan, kata lainnya adalah 'siswa perempuan dilarang menggunakan celana'. Jika tentang dress, Layla hanya memiliki satu buah dress pesta dan itu ia beli karna mommy yang memaksanya.

Layla melempar tas ke sembarang arah, membanting tubuhnya di atas kasur.

Gadis itu memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya duduk dan mengambil laptop.

Ia menyalakan laptopnya, membuka aplikasi netflix, memilih opsi genre, menekan salah satu cover yang menarik perhatiannya— layar laptopnya langsung menayangkan film action.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 09, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ArsenioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang