Satu

42 9 2
                                    

"Ai kuliah kamu gimana?".

Pertanyaan pertama sekaligus menjadi pembuka obrolan kakak beradik itu di meja makan.

"Baik-baik aja sih kak" jawab Aireen seadanya.

"Kakak kapan mau kuliah lagi? Kakak udah cuti lama banget, gak sayang?" tanya Aireen balik.

"Gak usah pikirin kakak, yang penting kamu dulu fokusin sama kuliah kamu, kakak mah gampang" Dimas menjawab.

Dimas sengaja mengambil cuti kuliah agar bisa bekerja untuk membiayai kuliah adik tercintanya.

"Dimas, kamu kalau mau kuliah lagi gak pa-pa, insya Allah mama maish sanggup kok biayain kuliah kalian" tiba-tiba saja Tamara datang dari arah dapur sambil membawa hasil masakannya dan menaruhnya di meja makan.

"Masih ada yang perlu dibawa gak ma? Biar Ai bantu" Aireen bertanya.

"Gak usah, biar mama aja. Kalian sarapan gih, nanti telat udah siang" jawab Tamara menyuruh anak-anaknya untuk sarapan terlebih dahulu.

"Mama gak sarapan juga?" tanya Dimas.

"Iya nanti mama sarapan, masih ada yang gosokan yang harus di selesain, katanya mau di ambil sama yang punya" jawab Tamara.

"Kalian makan ya, mama tinggal ke belakang dulu" Tamara bertutur seraya mengusap pucuk kepala anak-anaknya.

Mereka hanya tinggal bertiga, Tamara adalah seorang single parent dengan dua anak, jadi Tamara harus berjuang sendiri untuk menghidupi anak-anaknya.

Dia sudah lama bercerai dengan suaminya, mungkin saat dia hamil Aireen satu bulan.

Sekarang mantan suaminya sudah menikah dan mempunyai keluarga baru dan berbahagia.

Tamara tidak pernah meminta uang atau apapun kepada mantan suaminya walaupun mantan suaminya itu kaya raya, dia masih sanggup untuk menghidupi kedua anaknya sendiri.

Karena Tamara sudah tidak ingin punya urusan apa-apa lagi dengan mantan suaminya itu namun Tamara juga tidak pernah melarang jika mantan suaminya ingin bertemu anak-anak, Tamara tidak membenci hanya saja Tamara tidak ingin berurusan lagi..


Setelah selesai sarapan Dimas dan Aireen bersiap untuk berangkat, Dimas bekerja di toko roti milik Yura adik Tamara.

"Cukup buat satu minggu?" tanya Dimas pada Aireen, memberikan beberapa lembar uang 50 ribuan kepada sang adik.

"Kalo gak cukup Ai minta kakak lagi aja" jawab Aireen sambil nyengir tanpa dosa.

Tamara yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Sebenarnya Tamara masih sanggup memberi Aireen uang jajan tapi Dimas melarang, untuk urusan uang jajan Aireen biar itu menjadi urusan Dimas.

"Jangan boros Ai, kalau bisa nabung. Kasihan kakak" Tamara menegur putrinya.

"Iya ma, Ai becanda kok uang dari kakak sebagain Ai tabung sebagian buat keperluan" kata Aireen.

Aireen hanya bercanda tadi, Aireen tidak pernah menggunakan uang pemberian Dimas untuk foya-foya.

"Yaudah kalo gitu Ai berangkat ya ma, kak"  Aireen pamit kepada dua orang tersayangnya.

"Gak mau bareng?" tanya Dimas pada sang adik.

"Enggak, Ai naik angkot aja, dah Assalamualaikum!!".

Setelah itu Aireen mencium pipi Dimas dan Tamara lalu pergi.

"Dasar anak itu! kebiasaan" ucap Tamara ketika melihat anaknya berlari keluar dari halaman rumah.

Sedangkan Dimas terkekeh melihat kelakuan sang adik, sedari kecil Aireen memang sangat aktif dan tidak bisa diam.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 21, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang