❝ All I want is nothing more
To hear you knocking at my door
'Cause if I could see your face once more
I could die a happy man I'm sure... ❞
▂▂▂▂▂▂▂▂▂▂▂▂▂
H. KOKONOI x READER
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃
(Name) bahkan tidak menyadari-nya, tetapi dia sudah menantikan untuk menggoda dan mengganggu anak itu. Setiap (Name) bangun pagi-pagi, dia akan pergi ke pantai terlebih dahulu dan akan bertengkar kekanak-kanakan dengan-nya lagi. Meskipun merasa kesal, itu sangat berharga ketika (Name) akan membalas-nya.
Tanpa (Name) sadari, bocah berambut hitam itu juga menantikan-nya setiap hari.
Sekarang (Name) berada di dalam lift, dengan cepat menekan tombol tutup ketika dia mendengar langkah kaki yang keras datang, "Jangan!"
(Name) mendengar suara bocah yang keras bergema dan (Name) hanya tertawa ketika dia melihat pintu sudah ditutup. Tetapi ketika (Name) berpikir bahwa dia menang, tangan bocah itu menghentikan pintu agar tidak menutup dan dia masuk ke dalam dengan teriakan kemenangan.
(Name) mengejek, "Lain kali, gue yang menang!"
"Oh sayang, aku tidak pernah kalah!" Dia menggoda dan menambahkan nada menggoda pada kata 'sayang'.
(Name) tersedak jijik dan bocah itu hanya memelototi sosok (Name) yang berlebihan. Mereka berdiri di sana dalam diam, saling melotot, tapi kemudian mata (Name) tertuju pada tangan laki-laki itu yang diletak-kan di antara kedua kak-inya. (Name) mencoba untuk menahan tawa melihat pemandangan itu dan bocah itu memperhatikan apa yang (Name) tertawakan.
"Bersyukur gue cuman mukul istana pasir-mu." Dia mendesis pada (Name) dan (Name) mengangkat alis pada-nya.
"Apa? Apa kau akan memukul otak-ku kali ini?" (Name) terkekeh pelan dan mata laki-laki itu beralih ke kepala-ku, di mana aku menutupi-nya sekalian menendang kaki bocah itu.
Dia berteriak kesakitan tetapi menyeringai pada (Name), "Tapi kamu gak punya otak."
(Name) tersentak dan memukul bocah itu lagi, "Kau-!"
Begitu mereka mendengar pintu terbuka, mereka saling melirik sebelum bergegas keluar dari lift, berlomba menuju pantai. Itu tidak adil, bocah itu memiliki kaki yang panjang jadi dia sepuluh kali di depan-ku.
Setelah mereka sampai di sana, (Name) meletak-kan tangan-nya di lutut-nya sambil mengatur napas, "Sialan kau."
Bocah berambut hitam itu tertawa dalam kemenangan, "Udah ku-bilang, aku tidak pernah kalah!"
(Name) memelototi sosok-nya yang bikin kesal, "Diam, bajingan ular!"