𝙃𝙖𝙥𝙥𝙮 𝙍𝙚𝙖𝙙𝙞𝙣𝙜
➷➷➷
Dara kini sudah berada didepan pintu ruangan Regan senyumannya tak pernah luntur dari bibirnya. Dara memegang knop pintu lalu membukanya, terlihat Regan yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.
“Assalamualaikum pak.”
“Waalaikumsalam, biasakan ketuk pintu dulu ketika masuk ke ruangan saya.” jawabnya tanpa melihat kedatangan Dara.
“Jangan cuek gitu dong pak, pagi-pagi cuekin istri gak baik.” ucap Dara, langkah kakinya mendekat ke arah Regan lalu duduk di kursi berhadapan dengan Regan.
“Kamu ngapain duduk di situ?” Regan mengerutkan dahinya menatap perempuan yang tengah tersenyum centil sambil memangku tangannya di dagunya.
“Mau natap bapak, soalnya gantengnya kelewatan.”
Regan hanya memutar bola matanya malas ketika mendengar ucapan yang keluar dari bibir Dara.
“Mulai.” batin Regan yang sudah terbaca, niat Dara akan menggoda dirinya dengan segala gombalan recehnya.
Buru-buru Regan menutup laptopnya dan memasukannya kedalam tas lalu merapihkan buku-bukunya yang akan dibawa ke kelas untuk mengajar. Ia tak menghiraukan perempuan yang masih setia menatap ke arahnya.
“Pak dilihat dari dekat bapak makin tampan, sayang banget kalau ketampanannya di anggurin, apa mau saya cium aja?” Dara mencoba menggoda Regan sampai Regan menjawab ucapannya.
Namun ucapannya belum juga dijawab, Regan malah meninggalkan Dara keluar dari ruangan dengan cepat Dara beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya mengikuti Regan.
“Gapapa sekarang bapak cuekin saya, besok lihat aja bapak bakal perduli sama saya, kalau nggak besok, besoknya lagi. Pokoknya bapak bakal perhatian sama saya.”
Regan mempercepat langkahnya menjauh dari Dara membuat Dara sedikit berlari mengejar Regan.
“Pak di cuekin bapak tiap hari aja saya nggak pernah nyerah, sakit sih tapi lebih sakit lagi di tinggalin bapak pas lagi sayang-sayangnya.”
Sedari tadi Dara terus melempar gombalan, membuat Regan kesal mendengarnya dan akhirnya Regan menjawab. “mulut kamu bisa diem nggak?”
“Bisa kalau dicium sama bapak.”
“Astaghfirullah.”
“Pagi-pagi udah ngucap pak, emang ucapan saya kaya setan ya?”
“Lebih!”
“Nggak boleh gitu pak, entar kalau saya cium tiba-tiba bapak ketagihan.” sebenarnya Dara geli sekaligus malu menggoda guru sekaligus suaminya. Tapi ya sudahlah godaannya membuatnya ketagihan untuk mencoba, siapa tahu Regan menyukai dirinya lewat gombalan receh yang ia layangkan setiap hari.
Regan menghentikan langkahnya lalu menatap perempuan mungil di hadapannya.
“Belajar dulu yang bener, jangan terus gombalin saya! Gombalan kamu bikin telinga saya panas.” celetuk Regan membuat Dara tersenyum puas.
“Sejak kenal bapak, bawaannya pengen belajar terus. Belajar jadi yang terbaik buat bapak dan...” Dara menggantungkan ucapannya menatap wajah tampan suaminya.
“Anak-anak kita nanti.” lanjut Dara yang hanya di balas kekehan kecil oleh Regan.
“Pak jangan ketawa entar saya makin sayang.”
“Halu kamu!” jawab Regan lalu pergi meninggalkan Dara yang masih menahan tawanya.
“LHO PAK SAYA NGGAK HALU, KITA KAN SUAMI ISTRI PASTI SUATU SAAT KITA BAKAL MENGHASILKAN ANAK YANG BANYAK. TERSERAH BAPAK DEH MAU ANAK BERAPA, YANG PENTING DARI BAPAK SAYA MAH IKHLAS LILLAHITA'ALA!” teriak Dara, membuat beberapa siswa dan guru menatap ke arahnya.
“Ampun deh pagi-pagi udah teriak-teriak ngelempar gombalan buat pak Regan, belajar aja masih belum bener.” tegur Bu Markisa seorang guru BK.
“Buset dah Bu muncul dari mana tiba-tiba ada di hadapan saya.”
“Dari alam bawah tanah.”
Jawaban Bu Markisa membuat Dara terkekeh.
“Jangan ketawa, masuk kelas!”
“Jangan marah-marah Bu, lihat muka ibu udah ada kerutan dikit. Astaga Bu Ibu tambah jelek aja, ngeri sih kalau entar suami ibu nggak betah sama ibu terus cari yang baru gimana? Apalagi jaman sekarang banyak pelakor tebar pesona dimana-mana.” ucap Dara meninggalkan Bu Markisa yang kini memegang wajahnya.
Bu Markisa langsung mengambil bedak di sakunya, lalu bercermin melihat wajahnya memastikan apakah ucapan Dara tadi benar.
“Astaga iya juga muka saya banyak kerutan aduh harus rajin-rajin pake skincare.” Bu Markisa mentap-tap wajahnya dengan bedak.
Meskipun sudah tua Bu Markisa tetap menjaga penampilannya apalagi wajahnya yang awet muda.
➷➷➷
“Assalamu'alaikum teman-teman, hallo suamiku.” ucap Dara membuat seisi kelas tertawa namun tidak dengan Regan ia malah menatap Dara dengan tatapan tajam.
“Kemaren lo bilang calon suami sekarang suami, kapan nikahnya Dar?” celetuk Rama membuat Regan sedikit terkejut.
“Kemaren gue baru nikah, tapi belum honeymoon, iya nggak sayang?” jawaban Dara membuat seisi kelas rame.
“Dara cara gue mah malu.” timpal Ara.
“Dara mah urat malunya udah ketutup sangking cintanya ke Pak Regan.” sahut Shasa.
Dan masih banyak celetukan-celetukan lainnya yang membuat Regan semakin marah.
“Diam!” teriak Regan, membuat seisi kelas hening dan tegang.
“Dara kamu keluar nggak usah ikut pelajaran saya! Dan kalian kerjakan soal yang sudah saya siapkan soalnya ada 20 essay pake caranya anggap saja itu adalah hukuman buat kalian yang tidak ada sopan santunnya sama guru!” teriak Regan lagi tentu membuat seisi kelas menelan ludahnya susah payah.
Bayangkan 20 soal essay pelajaran Fisika, astaga bisa mati kutu murid kelas XII IPA 1. Sedangkan Dara malah tersenyum puas meledek teman-teman sekelasnya mengucapkan mampus di dalam hatinya.
“Dadah teman-teman.” ucap Dara sambil melambaikan tangannya.
“Dadah suamiku.” lanjut Dara pada Regan yang masih setia menatap tajam ke arahnya.
➷➷➷
𝙏𝙤 𝘽𝙚 𝘾𝙤𝙣𝙩𝙞𝙣𝙪𝙚𝙙
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐫𝐚𝐡𝐚𝐬𝐢𝐚, 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐢𝐧 𝐣𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐦𝐢𝐧𝐢𝐦𝐚𝐥 𝐯𝐨𝐭𝐞!♡
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teacher Is My Husband
Romance"Saya ini udah jadi istri bapak lho, kenapa bapak masih menghukum saya?" "Kamu harap setelah menjadi istri saya, kamu terbebas dari hukuman? Jangan harap Dara!" Ini tentang Dara gadis cantik dengan sejuta keceriannya dan segala perjuangannya untuk m...
