Bab 3 - Dasar genit

10.3K 1K 27
                                        

"Lo mau narik gue sampai mana, Nyat?"

Pertanyaan Danni tersebut menyadarkanku bahwa sejak melarikan diri dari kantin tadi, aku tidak seorang diri. Lekas kulepas genggamanku dari lengan Danni. Ada jejak tangan yang tercetak di sana.

Danni mengusap lengannya seraya mendudukkan diri di kursi taman. "Asli, Nyat, lo barbar banget jadi perempuan."

"Sori, Bang. Emosi jiwa gue abisnya! Bisa-bisanya dia ngajakin gue nikah tapi pacaran sama cewek lain."

"Ada banyak kemungkinan sih, Tay." Danni menarikku agar duduk di sebelahnya, di bangku salah satu bangku semen yang ada di taman fakultas ini. "Bisa jadi dia emang serius ... atau lo cuma dijadiin tameng."

Alisku bertaut. "Tameng?"

Danni mengangguk. "Lo inget kasusnya Alona?"

"Ingetlah, gila aja. Heboh banget kan waktu itu."

Alona yang dimaksud Danni, sama dengan Alona yang kukatakan menyerupai Elok. Dia satu tingkat di atasku. Kasusnya terjadi saat aku masih duduk di tingkat tiga. Ketika itu aku sedang gencar-gencarnya berusaha agar terpilih jadi mahasiswi bimbingan Pak Heri. Beliau adalah dosen favorit yang banyak jadi incaran mahasiswa. Selain tergolong masih muda—berusia pertengahan tiga puluh ketika itu—beliau juga terkenal sangat peduli terhadap mahasiswanya. Siapa pun yang dibimbing tugas akhirnya oleh beliau, bisa dipastikan jauh dari kata merana dan berakhir dengan nilai sempurna.

Nyatanya, sosok dosen yang nampak begitu hebat itu terlibat skandal dengan mahasiswinya sendiri. Bukan aku, tapi Alona. Seniorku itu berakhir menyempil di antara rumah tangga Pak Heri. Entah siapa yang bersalah dalam kasus mereka, si perempuan yang terlalu ambisius hingga menghalalkan segala cara, atau si lelaki yang lemah iman.

"Mungkin," Danni berdeham, "mungkin aja, Tay, mantan lo itu dari awal udah dapat peringatan supaya enggak terlibat skandal sama mahasiswinya."

"Tapi dia kan single, Bang. Enggak masalah juga kan harusnya?"

Danni mengangguk. "Betul. Tapi, bisa aja ada yang ngasih tau soal Pak Heri ke dia. Secara ya, Tay, sepenglihatan gue, dia jiplakannya Pak Heri banget. Dosen idaman. Dan dia emang bener-bener dibutuhin saat ini buat Biomedik. Lo kan tau, kita aja masih kekurangan dosen di jurusan satu itu."

Mau tak mau aku mengangguk. Dibandingkan Teknik Elektro, Teknik Biomedik masih tergolong baru. Slot dosen yang dibutuhkan pun masih kosong beberapa.

"Kembali lagi ke tameng, mungkin mantan lo itu butuh seseorang buat dipamerin sebagai pasangannya, let's say sebagai calon istri. Supaya para mahasiswi mundur teratur, jadi karirnya dia aman terkendali, namanya enggak tercoreng. Nah, lo satu-satunya makhluk di gedung kita yang bisa dia jadiin sasaran."

"Enggak mungkin sih, Bang. Enggak percaya gue. Masa dia sampai segitunya sih?" Di lingkungan Departemen Teknik Elektro yang membawahi jurusan Teknik Elektro dan Teknik Biomedik, memang aku satu-satunya yang masih bebas, alias berstatus belum menikah, dan belum punya pacar. "Nikah loh, Bang, yang dia ajuin ke gue. Udah gila ya dia, main-main sama hal sesakral itu?"

Sejak awal Firza mulai mendekatiku, aku memang sudah curiga. Satu tahun dia bersikap seolah tak mengenalku, memperlakukan aku seperti makhluk tak kasat mata. Lalu tahu-tahu saja sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Sampai mengajak nikah segala.

Senggolan di lenganku menyadarkanku. Danni melempar kode agar aku menoleh ke arah pandangnya. Begitu menuruti, netraku tertumbuk pada dua sosok yang tadi aku lihat di kantin. Berjalan bersisian seperti itu, orang yang tidak tahu bisa saja salah paham dan menyangka dua manusia tersebut adalah sepasang kekasih. Lelakinya tampan dan perempuannya cantik. Cocok.

I Still Do [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang