Bab 1 - Realita hidup

16.7K 2.1K 34
                                        

Usai makan siang dengan Danni, aku langsung kembali ke ruanganku. Niat awalnya, melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena keusilan Firza. Nyatanya, begitu tiba di depan komputer, mataku mendadak terasa berat.

Setelah berulang kali menguap, aku menyerah. Lebih baik istirahat sejenak. Memejamkan mata barang beberapa menit biasanya cukup untuk mengusir kantuk pasca makan siang.

Meski terbilang kecil—jika dibandingkan dengan ruang dosen—aku cukup beruntung mendapat tempat kerja berukuran dua kali dua meter ini. Aku tidak harus berbagi area dengan orang lain, karena aku adalah satu-satunya laboran yang bertanggung jawab atas Laboratorium Dasar. Beda dengan dua orang rekan kerjaku yang bertanggung jawab untuk Advanced Laboratory yang terletak di lantai tiga. Satu ruangan dibagi untuk berdua.

Persis di belakang kursi kerjaku, aku membuat area kecil untuk salat sekaligus istirahat. Gorden kujadikan pembatas agar tempat tersebut tidak terlihat. Selain karpet cukup tebal, ada beberapa bantal yang sengaja kubawa dari rumah. Sensasi empuk langsung memanjakan kepalaku begitu aku merebah ke atasnya.

Belum ada aku memejam, terdengar pintu ruanganku dibuka. Sejurus kemudian terdengar langkah kaki. Kemudian, kursi kerjaku berderit halus.

"Lo mau keluar dari sana atau gue yang ke situ, Tay?"

Aku lantas melirik sekelilingku. Dalam ruang sempit ini, tersembunyi di balik tirai, berdua dengan Firza. Kalau terciduk, akan jadi apakah aku dan Firza?

Astaga, mikir apa sih aku!

Lekas aku melongokkan kepala ke balik tirai. Firza rupanya sudah duduk di kursiku. Netranya menatap lurus padaku. Wajahnya nihil ekspresi.

"Kenapa enggak ke ruangan gue?" tanya Firza.

"Harus banget gitu?" tanyaku malas.

Alih-alih menjawab, Firza malah menyandarkan punggung ke kursi. Manik matanya belum juga meninggalkan wajahku. Lama-lama dipandangi seperti ini, aku jadi gerah sendiri.

"Ngapain sih nyuruh gue ke ruangan lo? Ada perlu apa?" sergahku akhirnya. Bangkit berdiri, kuseret gorden hingga tempat persembunyianku tidak bisa dilihat oleh Firza.

"Jadwal praktikumnya," Firza memutar kursi hingga kembali menghadap meja, "mana?"

Sabar, Taya. Orang sabar disayang pacar. Sayangnya pacar aja enggak punya.

Di salah satu ujung mejaku terdapat gelas plastik yang kini alih fungsi jadi tempat pensil. Dari dalamnya kuambil sebuah flash drive. "Ada dalam folder Praktikum. Nama file Pengantar Teknologi Biomedik." Kupastikan tidak ada huruf N di sisi benda kecil tersebut sebelum benar-benar menyerahkannya pada Firza. "Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak Naufal?"

"Gue lebih suka lo panggil dengan nama Firza."

"Kenapa gitu? Kan sama-sama nama lo."

Firza bangkit dari kursi. Disimpannya flash drive itu ke dalam saku kemeja. Ia melenggang menuju pintu begitu saja, tidak menghiraukan protesku barusan. Sesaat sebelum mencapai pintu, ia berbalik.

"Bunda ngadain makan-makan malam ini, syukuran ulang tahun beliau. Jam tujuh. Dateng ya." Ia terdiam beberapa saat sebelum kembali melanjutkan. "Lo tau, Tay? Lo manggil gue dengan nama Firza ngebuat gue ngerasa spesial," katanya, kemudian benar-benar keluar dari ruanganku.

***

Dibandingkan rumah tempatku menghabiskan seluruh hidup sejak kecil, kediaman orang tua Firza jauh lebih besar. Bangunannya terdiri atas tiga lantai. Halaman rumahnya luas dan ditanami berbagai jenis bunga. Di bagian dalamnya, selain ruang tamu merangkap ruang tengah, ada dapur dengan perabot canggih, serta total lima kamar tidur—milik Firza, orang tuanya, dan adik perempuannya berada di lantai dua, sedangkan untuk asisten rumah tangga dan tamu berada di lantai dasar. Paling atas terdapat ruang baca penuh buku, bioskop mini merangkap ruang karoke, dan ruang terbuka—tempatku berada kini—yang biasanya digunakan untuk tempat makan-makan.

I Still Do [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang