4. Jadi Mamah Muda

295 59 11
                                    

"L-lo... lo... udah punya anak?" Tanya Tinta penasaran dengan matanya yang tidak berhenti melirik antara laki-laki itu dan chiko bergantian.

Laki-laki itu adalah orang yang sama dengan orang yang mengejek Tinta sewaktu di kantin.

Ingatkan Tinta kalau ia masih memiliki dendam kepada laki-laki itu nanti.

"Chiko itu anak—"

"Papa Chiko lapel..." Rengek Chiko memotong ucapannya.

Mendengar ucapan Chiko, laki-laki itu hanya menghela nafas lelah dan dibalas tatapan bingung oleh Tinta.

Ditatapnya nya Tinta dengan lekat.

"Apa?" Tanya Tinta.

"Lo ikut gue kasih makan Chiko, nanti gue jelasin semuanya." ujarnya seraya menyeret Tinta untuk mengikutinya. Dan Tinta? Oh dia pasrah saja di seret lelaki itu.

Kapan lagi kan bisa di gandeng cogan? Hehe.

Kini mereka tampak seperti keluarga kecil yang berbahagia. Dengan sesosok suami yang menggendong putranya dan seorang istri yang digandengnya.

Setelah memesan makanan, mereka duduk dan menyaksikan Chiko yang sedang memakan makanannya dengan lahap.

"Ekhem... Jadi gini, Chiko itu anak dari kakak gue. Tapi dengan kurang ajarnya kakak gue ngajarin Chiko manggil gue Papa. Katanya sih buat pawang biar gue ga digangguin cewek gatel." Jelasnya.

Tinta yang mendengarnya hanya membulatkan mata dan ber-oh ria.

"Oh iya, ini pertemuan kedua kita kan? Tapi kita belum kenalan. Gue Tinta." Ujar Tinta seraya mengulurkan tangan dan di balas lirikan acuh laki-laki itu.

"Sabar Tinta sabar... Orang ganteng mah bebas!" Batinnya menyemangati.

Walaupun Tinta sudah mengenal laki-laki itu di kehidupannya dulu, tetap saja Tinta harus berpura-pura tidak mengenalnya. Jangan sampai laki-laki itu curiga oke?

"Rafael." Balasnya.

Setelah itu terjadi keheningan yang cukup lama.

Melihat Chiko selesai makan dan belepotan, Tinta berinisiatif untuk membersihkannya dengan tissue basah yang selalu dibawanya.

"Thank you Mama!"

Tinta dan Rafa yang mendengar ucapan Chiko pun speechless seketika.

Rafa melirik Tinta yang terdiam lalu berdehem canggung.

"Ekhem... G-gue gak tau apa-apa. Itu Chiko sendiri yang inisiatif manggil lo Mama." Jelasnya.

"Gak masalah. Nah Chiko, Mama pulang dulu. Chiko jangan nakal oke?" Pamit Tinta kepada Chiko lalu mengecup pipi gembil bocah itu yang langsung dibalas delikan tajam oleh Rafa.

Saat Tinta hendak melangkah pergi, bawah bajunya terasa ditarik oleh seseorang. Saat ia menoleh, ternyata Chiko lah pelakunya.

"Mama kok gak tium papa? Papa nakal ya cama mama?" Tanya Chiko hampir menangis karna takut, ia kira Mamanya marah dan tidak mau menemuinya lagi karna papanya.

Dipandangnya Rafa dengan mata permusuhan. Dengan menghela nafas berat, Rafa berucap.

"Sini lo!"

Mendengar nada memaksa milik Rafa, Tinta mendekat dengan langkah berat. Ditatapnya Rafa dengan sebelah alis terangkat.

Melihat Rafa mendekat, entah mengapa kini perasaannya mulai tak enak. Saat ia ingin mengambil ancang-ancang berlari, tangannya ditarik dengan kuat dan membuatnya terhempas ke arah Rafa.

Cup!

Mata milik Tinta melotot sempurna saat ia merasakan sebuah bibir yang mengecup pipi kanannya.

Dengan kikuk ia memandang ke arah Rafa dan Chiko bergantian, lalu segera kabur dari sana.

Rafa yang melihatnya tersenyum sekilas dan meraih Chiko ke dalam gendongannya.

Begitulah hal itu berlalu tanpa ada yang menyadari ada seseorang yang menggeram marah menyaksikan semua kejadian itu.

......

Disinilah Tinta sekarang, terbaring lelah di atas kasurnya. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Inilah perasaan yang tidak disukainya, Baik sekarang ataupun kehidupannya dulu.

kesepian.

Orang tuanya sibuk bekerja. Ayahnya bekerja sebagai Pengacara, dan Bundanya seorang Dokter ahli jantung. Pekerjaan yang mulia memang, tapi cukup menghabiskan waktu mereka sehingga mereka jarang dapat menyisikan waktunya untuk satu-satunya putri mereka yang kesepian.

Tak terasa setetes air mata mengalir di pipinya, namun dengan cepat ia hapus. Ia tak ingin menjadi lemah seperti kehidupannya yang dulu.

Tinta yang sekarang adalah gadis kuat!

Setidaknya di kehidupannya yang sekarang, ia memiliki beberapa teman. Oh dan juga jangan lupakan si gembil Chiko. Ah... Tinta jadi terkekeh geli mengingat ia di panggil Mama oleh bocah itu tadi.

Sekelebat kejadian saat dirinya dikecup oleh Rafa melintas dengan epic di pikirannya.

Kini pipinya bersemu merah. Ia malu! Bisa-bisanya laki-laki itu mengecup pipinya tanpa permisi.

Setelah lelah berpikir dan bermonolog, tak terasa matanya kini terasa berat dan menutup dengan sendirinya. Kini gadis itu tertidur pulas tanpa menyadari sesosok laki-laki berhasil menyelinap dari jendela kamarnya dan memeluknya disepanjang malam yang dingin.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak! Terimakasih.

Tinta's Story [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang