zes

5.7K 273 25
                                    

Vote dan komen jangan lupa!

Warn! Typo bertebaran!



............

Haechan mempersilahkan Jeno untuk masuk kedalam rumah. Biasanya jam segini ia akan menemukan jaemin yang duduk di sofa dekat jendela. Namun sekarang pria itu tidak ada ditempatnya.

Jeno, Haechan suruh untuk menunggu dikamarnya saja. Soal perkataannya saat di kedai tadi, ia benar benar sungguhan untuk mengetes apakah Jeno masih perjaka atau tidak. Terdengar gila memang.

Haechan menaiki tangga untuk ke kamarnya, sembari membawa nampan berisi minuman berwarna oranye diatasnya.

"Apa ini fotomu waktu kecil?" Pertanyaan itu Jeno lontarkan sesaat setelah Haechan memasuki kamar, dan menaruh nampan keatas nakas. Anggukan pelan dari Haechan menjadi jawaban untuk pertanyaan itu.

"Seperti bukan diriku, tapi nyatanya itu aku. Menggemaskan, kan?"

Haechan menarik frame yang terdapat foto masa kecil dirinya itu dari tangan Jeno, dan meletakkannya kembali keatas meja. Ia lantas mendorong Jeno untuk duduk diatas kasurnya, lalu menaiki pangkuan pria berkulit pucat itu.

"Ha-haechan..apa yang-"

Belum sempat Jeno menyelesaikan ucapannya, haechan lebih dulu menyatukan bibir mereka dan memagut bibir Jeno. Mengulum bibir atas dan bawahnya bergantian.

Awalnya Jeno kaget dengan gerakan tiba tiba dari Haechan, namun lama kelamaan ia mulai membalas pagutan itu dan mengambil alih.

Haechan melenguh saat kedua tangan Jeno sudah berada diatas bongkahan pantat bulatnya, dan meremasnya pelan. Tangan Haechan sudah berada dirambut Jeno untuk menyalurkan rasa nikmat yang ia rasakan.

"Ughhh- hh" lenguhan pelan lolos dari celah bibir Haechan, saat Jeno beralih untuk menjilat lehernya. Matanya semakin terpejam dengan erat saat Jeno berhasil memberikan sebuah tanda di lehernya itu. Hitam dan terlihat sangat jelas.

Bughh!!

Prangg!!

Baru saja Haechan hendak membuka kancing kemeja yang dikenakan Jeno, dari arah luar terdengar bunyi benda jatuh yang cukup kuat. Membuat keduanya menghentikan kegiatan mereka. Haechan yang seolah sadar akan sesuatu, langsung melompat turun dari pangkuan Jeno dan berlari keluar kamar.

Dugaannya benar, di dekat tangga ada jaemin yang meringis sembari memegangi kakinya yang berdarah. "Ck! Menyusahkan!" Haechan menuruni anak tangga dan menghampiri jaemin.

"Sudah aku katakan untuk memanggilku jika membutuhkan sesuatu!" Haechan membawa jaemin untuk duduk di sofa.  "Jeno bisa kau ambilkan air dan handuk kecil yang ada diatas kulkas?"

Jeno yang baru saja turun dari lantai atas langsung bergerak cepat untuk mengambil air yang dibutuhkan oleh Haechan.

"Maafkan aku Haechan. Aku hanya tidak ingin merepotkan mu." Jaemin sedikit meringis saat tangan Haechan menyentuh kakinya yang terluka itu.

"Ini-" Haechan langsung menyambar handuk dan membasahinya dengan air, untuk ia lapkan pada luka jaemin. Dengan reflek ia meniup luka itu saat jaemin meringis.

Jeno hanya diam melihat bagaimana Haechan membersihkan luka itu dengan telaten. Membalutnya dengan perban lalu memapah jaemin untuk kembali ke kamarnya. "Lain kali panggil aku jika butuh sesuatu. Kau akan lebih merepotkan saat terluka! Sialan!" Haechan memelankan suaranya di akhir.

Setelah memastikan jaemin berada di posisi nyamannya, barulah Haechan keluar dari kamar itu. Saat berbalik, ia sedikit tersentak saat melihat Jeno sudah berdiri di belakangnya. "Pecahan kacanya sudah ku bersihkan." Jeno tersenyum tipis, menambah ketampanan di wajahnya.

Rainbow | Markhyuck (On-Hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang