vijf

4.9K 236 9
                                    

Vote dan komen jangan lupa!

Warn! Typo bertebaran!

🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Haechan membuang pandangannya ke samping, enggan melihat interaksi jaemin dan Mark yang sedang berjalan di depannya.

Sebenarnya ia malas melihat tangan Mark yang tersampir di pinggang jaemin. Haechan merotasikan matanya dengan jengah.

"Selama Hyung di Busan, Haechan yang akan menjagamu. Bersikap baiklah padanya dan jangan merepotkan dia nanti ya. Hyung akan langsung pulang jika urusan disana sudah selesai."

Mark hendak mengecup dahi jaemin, namun terhenti saat mendengar decakan lidah Haechan dibelakangnya. Kepalanya sontak menoleh dan menemukan raut wajah tidak setuju yang diperlihatkan oleh pemuda itu.

"Big No, Mark!" Haechan mengangkat sebelah alisnya sebagai tanda protes untuk Mark.

"Please babe." Mark memelas.

"Lupakan, sialan kau!"

Haechan mempercepat langkahnya, melewati jaemin dan Mark begitu saja, ia dengan sengaja menyenggol bahu Mark dengan kuat.

"Loh? Haechan? Kenapa?" Jaemin mengernyitkan dahinya mendengar suara Haechan yang terdengar kesal.

"Bukan apa-apa sayang."

Sebenarnya penerbangan Mark menuju Busan masih satu jam lagi, tapi karena jaemin yang memaksa mereka untuk sudah ada di bandara sejak tadi dengan alasan takut Mark melewatkan penerbangannya, jadilah mereka bertiga duduk disalah satu kursi tunggu di dalam bandara.

Posisinya, Mark yang ada ditengah dua bersaudara ini. Haechan sejak tadi enggan melihat kearah Mark, sedangkan jaemin terus tersenyum dengan pandangan yang lurus ke depan.

Sebelah tangan Mark menggenggam tangan jaemin, sedangkan satunya merangkul bahu Haechan.

"Menjauhlah sialan." Desis Haechan dengan suara yang pelan, namun masih bisa di dengar oleh Mark.

Mark menghela napasnya dengan berat, hingga menarik atensi jaemin untuk menoleh kearahnya. "Hyung kenapa? Ada yang tertinggal dirumah?"

"Ah, tidak sayang. Hyung hanya berat saja meninggalkan mu." Haechan semakin jengah mendengar kalimat yang keluar dari mulut mark.

Jaemin tertawa pelan. "Hanya 3 Hyung, ada haechannie yang akan menjagaku. Benarkan Chan?"

"Tentu na, tentu aku akan menjagamu dengan sangaaaaaaat baik." Berbeda dengan apa yang diucapkan, mata Haechan memandang sinis Mark yang menatapnya.

Haechan berdiri dari duduknya, dan berjalan menjauh begitu saja, menghiraukan Mark yang bertanya padanya dengan suara yang sedikit berteriak.

Haechan memasuki salah satu bilik kamar mandi dan mengunci pintunya. "Mark bajingan sialan!" Setelah selesai, Haechan menarik kembali resleting celananya.

Ia keluar dari bilik kamar mandi dan mencuci tangannya. Dirinya masih kesal dengan Mark yang menitipkan jaemin padanya selama ia pergi untuk urusan bisnis di Busan.

Menjaga jaemin? Bahkan Haechan bersusah payah untuk menahan dirinya agar tidak melukai anak itu. Bagaimana bisa Mark malah mempercayakan jaemin padanya.

Saat ia selesai mencuci tangan dan mengangkat kepalanya, tubuhnya tersentak saat melihat pantulan mark yang berdiri dibelakangnya dari cermin yang ada di depan mereka.

"Aku sedang tidak ingin berdebat." Haechan membuat tisu bekas ia mengeringkan tangan ke tempat sampah. Saat ia hendak melangkah, tangannya ditahan oleh Mark.

Rainbow | Markhyuck (On-Hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang