Kami memasuki salah satu toko pakaian yang sudah buka, aku memilih rok tennis pendek sedikit dibawah pantat dan sebuah jaket jeans, lalu memasuki ruang ganti. Setelah keluar aku meminta pendapat James
"James, gimana menurut lo?" tanyaku, tapi lelaki itu tidak menjawab hanya melihat dengan mulut terbuka, lalu aku memanggilnya lagi dengan nada suara yang lebih tinggi.
"wey James lo denger gue gk sih?" tanyaku lelah.
"ehm so-sorry gue gk fokus, mending lo ganti. Lo masuk sana ke kamar pas ntar gue pilihin lo tunggu disana aja jangan keluar." James mendorongku kembali pada kamar pas, aku hanya menurut.
Tak lama pintu kamar pas yang aku tempati ada yang mengetuk, Lalu aku membukanya
"nih lo pake." setelahnya James pergi, dia memberikan aku sebuah long jeans berwarna hitam dengan style robek robek dibagian depanya, lalu sebuah hoodie berwarna merah bertuliskan sebuah merk mahal, aku langsung memakainya setelah terpasang ditubuhku ternyata tidak buruk juga style pilihan James simpel dan sesuai dengan usia pelajar.
Lalu aku keluar dan mencari James ternyata dia sedang berada dikasir,
"eh lo kok gak ganti baju?" tanyaku membuatnya terkejut,
"bentar bayar dulu, punya lo tadi udah gue bayar. Lo tunggu bentar ya gue ganti pakaian dulu."pintanya lalu meninggalkanku, aku duduk disalah satu sofa yang disediakan oleh toko. Tak lama James keluar dengan hoodie merah yang ternyata sama denganku, begitupun warna celananya, hanya saja James menggunakan Jeans selutut dan sebuah topi hitam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"yok," ajaknya keluar meninggalkan toko.
"lo sengaja ya beli couple kyk gini?" tanyaku selidik
"hehe iya, biar dikira pasangan aja sih. Kan jadi lo aman gk ada yang gangguin. Lagian kapan lagi lo punya baju samaan kyk gue gini?" tanyanya dengan menaik turunkan alisnya,
"apaan sih lo, alay tau gak." elakku,
Ya kami memang terlihat seperti pasangan yang sedang dilanda asmara. Walaupun kenyataanya kami selalu bertengkar bila bertemu, ya lebih tepatnya aku yang selalu ingin marah bila ada James didekatku.
"ada rencana gk mau nonton apa?" tanya James padaku setelah sampai disebuah gedung bioskop,
"hmmm gue lagi pengen yang unyu unyu nih, kita nonton frozen yok." ajakku antusias
"Everything, asal lo seneng." jawabnya dengan senyum
Lalu James membeli tiket untuk kami berdua, aku membeli popcorn dan minuman.
Kami langsung masuk studio film karna memang sudah jamnya, selama trailer diputar kami hanya diam menunggu film yang sesungguhnya diputar.
"lo pesen minum apa buat gue?" tanya James menyadarkanku dari lamunan
"ah eh gue pesen moccacino, gue gk tau sih lo suka apa. Gue pilihin aja itu, kenapa? gk sesuai ya sama selera lo?" tanyaku ragu.
"lebih tepatnya gue suka Cappucino sih, tapi its ok moccacino juga boleh lah asal lo yg milihin." dia minum lalu kembali fokus dengan film yang sudah mulai diputar,
"kesukaan lo gk pernah berubah ya dari dulu, selalu matchalatte." James menunjukkan senyum tulusnya, tiba-tiba dia menarik tanganku yang sedang memegang gelas minuman, dan meminum matcha ku.
"lo jorok banget sih, itu kan sedotan bekas gue."
"kenapa? orang gue cuma nyoba doank. Ternyata rasanya gitu ya, berasa daun diblend sama susu tau, masih berasa bau daunya." jelasnya
"ya emang rasanya kyk gini, enak banget kalo menurut gue." belaku,
"Iya enak deh, mayan kan kita jadi kyk ciuman walaupun secara gk langsung cuma lewat sedotan." ejeknya
"apaan sih lo, pikiran lo perlu dibersihin kyknya biar gk ngeres terus."
"ya emang cowok pikiranya gini, asal lo tau aja gue bisa ngebayangin lebih. Atau bahkan nyium lo disini pun gue bisa" bisiknya tepat ditelingaku, yang langsung membuatku bergidik ngeri. Tanpa babibu aku melemparkan tasku pada wajahnya, dan James tertawa terbahak hingga kami menjadi perhatian didalam gedung bioskop, betapa malunya aku.
"ish diem gk lo, malu maluin tau gak." paksaku dengan menutup mulutnya dengan sebelah tanganku, James mengangguk dan akhirnya kembali diam.
Kami menikmati film dengan sesekali diselingi makan popcorn dan minum, hingga dipertengahan film aku sangat ngantuk dan tidur dengan bersandarkan punggung kursi.
*James pov
Gue ngerasa si Venus gk anteng banget, kirain lagi serius nonton gk taunya malah molor dia kan ngeselin. Tapi kalo diperhatiin mukanya lelah banget, keliatan banget dia lagi banyak beban, kesedihan gk bisa disembunyiin dari wajahnya. Apalagi matanya, tadi pagi gue syok banget waktu liat dia buka kacamata. Matanya bengkak banget gila, gue tau dia pasti abis nangis semaleman sampe berakhir bengkak banget gitu. Tapi gue pura-pura aja ngira dia ditonjok biar gk keinget hal yang bikin dia sedih.
Sebenernya masa pergantian siswa yang gue jalani belom selesai, tapi setelah denger perpisahan orangtua Venus gue berusaha minta secepatnya diselesaikan sama pengurusnya, sumpah gue jadi gk fokus setelah denger berita itu. Pikiran gue cuma fokus sama satu hal yaitu Venus, gue takut dia gk kuat hadapi cobaan yang melanda rumah tangga orangtuanya, tapi dia berhasil menutupi semua itu dengan senyum dan tawa palsunya.
Gue bangga sama dia, salut banget malah. Dia lebih stong dari yang gue kira. Gue seneng sekarang bisa dampingin dia diwaktu dia lagi sedih kyk gini, cuma gue gk mau banyak nanya sih. Ntar kalo udah waktunya juga dia cerita sendiri, atau lebih baik dia gk cerita biar gue selalu bisa hibur dia tanpa menutupi keprihatinan gue atas apa yang dia alami.