[END Segitiga 5 Sudut]"Indonesia beriklim tropis, hanya ada musim hujan dan kemarau. Hari kita terlalu manis, hingga kuarungi samudera bernama risau."
Tragedi jam Cinderella asrama berhasil menyulap Dio dan Caca menjadi pasangan, padahal selama ini...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gelap. Caca terus berlari menyusuri lorong yang seakan tak berujung. Peluh membanjiri wajah dan seluruh tubuh. Ia berteriak minta tolong, tapi suaranya seakan memantul ke telinganya sendiri. Tidak ada siapa pun dan apa pun. Hanya ada gelap. Caca berlari lagi, tak peduli meski akan kehabisan napas. Namun, baru beberapa langkah, ia tersandung.
Tangannya meraba-raba, entah mencari apa. Sementara hati mendadak terasa pilu. Caca ingin keluar dari sini. Ia ingin melihat langit, awan, pelangi, dan matahari. Ia benci kesendirian, juga gelap. Ketika hampir terisak meremas permukaan tanah, secercah cahaya muncul. Setelah melihat tangan mulusnya yang kotor, ia mendongak cepat. Cahaya itu semakin melebar, memenuhi pupil matanya.
"Kak Fella?"
Perempuan berambut sebahu yang berdiri tepat di depannya memamerkan deretan gigi. "Hai, cantik."
Caca menyambut uluran tangan kakaknya tanpa ragu. "Kakak kok di sini?"
"Kamu yang ngapain di sini, Ca?" Setelah itu Fella tertawa kecil sambil menggeleng-geleng pelan.
"Enggak tahu juga, Kak," jawabnya lirih. Pandangannya jatuh pada rerumputan hijau di bawah kaki mereka. "Tadi tuh gelap banget. Aku takut."
"Ya udah enggak usah dipikirin dulu." Fella menyipitkan mata, memandangi sekeliling. "Eh, kita duduk di sana, yuk?" Perempuan itu menunjuk sepasang ayunan besi.
Caca mengangguk dan mengikuti Fella yang menggandeng tangannya. Semua pemandangan di sini terasa asing. Gaun putih yang ia kenakan pun terasa aneh, seperti bukan miliknya. Mawar putih di belakang ayunan sangat cantik untuk dipetik, tapi ia memilih menduduki salah satu ayunan. Hening, tanpa detik. Tak ada siapa pun kecuali mereka berdua. Entah kicauan burung, gemericik air, atau dedaunan yang bergesek. Tidak ada embusan angin, hanya ada awan yang berarak.
"Kak, aku kangen sama Kakak." Entah kenapa rongga dadanya terasa sangat lega. Kalimat barusan telah lama tertahan di bibirnya.
Fella tertawa kecil. "Aku selalu ada di samping kamu, Ca." Mereka saling berpandangan sesaat, kemudian Fella menarik senyum lebar. "Kehilangan apa yang berat menurut kamu, Ca?"
"Kehilangan Kakak." Caca menjawab begitu saja tanpa pikir panjang.
Fella memandang hamparan langit biru. Ia mulai mengayun pelan, rambutnya bergerak lembut. "Don't leave him. Jangan jadikan kakak sebagai alasan kamu enggak bisa bahagia, ya? Kita punya cerita masing-masing, Ca."
Kening Caca berkerut samar. "Aku enggak ngerti, Kak."
"Nanti kamu ngerti, Dek." Fella mengusap bahunya sekilas, kemudian berdiri. "Kakak mau pulang, ya?"
Caca menahan tangan Fella dengan raut cemas. "Ayo pulang bareng, Kak."
Fella menggeleng. "Enggak bisa, Dek. Arah kita berbeda."
Cekalan Caca terlepas tiba-tiba. Jeda satu tarikan napas, punggung Fella menjauh sekian belas meter. Jauh, semakin jauh. Gadis itu tak menoleh sesudah Caca meneriakkan namanya berkali-kali. Fella lenyap secepat hujan turun membasahi bumi, digantikan oleh cahaya yang menyilaukan netranya. Mimpi panjangnya berakhir.