Aku dicuekin sama Dinda itu 3 hari. Ibuku sampai bertanya kenapa Dinda udah 3 hari nggak nyamper aku.
Alhamdulillah, akhirnya Dinda nyamper aku pagi ini untuk berangkat sekolah bersama. Hatiku merasa lega, sepertinya Dinda sudah tidak marah lagi denganku.
" Hai Dinda. "
" Hai Sherin. "
" Udah selesai nih ngambeknya? " Sherin mendekat ke arah tempat berdirinya Dinda.
" Heheheh. Iyaa. "
" Udah yuk berangkat, nanti telat lagi."
" Iya, Ayooo!! "
****
Dalam perjalanan menuju sekolah aku bertemu laki - laki yang kemarin bertemu denganku di toko buku. Ia mengendarai sepeda juga seperti aku dan Dinda. Anehnya laki - laki itu menggunakan seragam sekolah yang sama denganku dan Dinda. Apakah ia sekolah di tempat aku sekolah?
****
Jawaban aku yang tadi pun mulai terjawab. Ternyata ada anak laki - laki itu yang kemarin ada di toko buku. Dia berdiri didepan kelasku bersama ibu kepala sekolah.
" Anak - anak, kalian semua kedatangan murid baru. Dia pindahan dari SMPN 27 jakarta. " Ibu kepala sekolah menerangkan kepada para siswa.
" Siapa namanya bu? " Tanya seorang siswa.
" Silahkan perkenalkan manamu nak. " Ibu kepala sekolah mempersilahkan laki - laki itu untuk memperkenalkan dirinya.
" Iya bu. Hai semua. Nama saya Renaldi Prasetyo. Saya pindahan dari SMPN 27 jakarta. "
" Baik, ibu pergi dulu ya nak, masih banyak kerjaan. "
" Baik ibu kepala sekolah. "
****
Laki - laki itu memang tidak berubah. Masih saja dia mengikuti aku. Aku ke pergi kemanapun dia ikuti. Tapi ada satu dia tidak akan mengikuti aku, yaitu dia tidak berani mengikuti aku ke toilet perempuan.
Banyak sekali teman - temanku yang ingin berkenalan dengannya. Banyak sekali siswa perempuan yang ingin berkenalan dengannya. Dia memang tampan, tapi aku tidak tertarik dengannya.
****
Bel istirahat berbunyi. Aku pergi ke kantin sendirian, karena Dinda sedang ingin membaca buku di perpustakaan sekolah. Terpaksa deh aku pergi ke kantin sendirian.
Aku memesan beberapa makanan ringan untuk dibawa ke kelas. Aku malas jika makan dikantin sekolah. Tak kusangka disampingku ada anak baru itu. Dia berada disampingku sambil mengambil roti yang ada didepannya.
" Hai, lagi beli apa. " tanya anak baru itu ( Renaldi )
" Beli makanan lah! " jawab aku
" Oh.... Berapa bu semuanya? "
" Sama neng Sherin juga nak? " tanya sang penjual
" Iya bu.. " Jawab Renaldi sambil mengambil dompetnya
" Eh, nggak bu, Sherin bayar sendiri aja. "
" Udah bu, semuanya berapa? " tanya Renaldi lagi
" Semuanya jadi 18.000 nak. "
" Nih uangnya bu, makasih ya. "
" Iya, sama - sama. " jawab sang penjual
" Nih uang kamu, aku ganti. " Sherin memberi uang sebesar 10.000 kepada Renaldi
" Apa ini? Tidak usah diganti. " Renaldi menolak uang pemberian Sherin
" Udah nih, terima saja! " Sherin menaruh uangnya itu dimeja kantin, tepatnya didepan Renaldi
****
Bel pulang pun berbunyi. Seperti biasa, aku pulang bersama Dinda. Saat di perjalanan, ban sepedaku bocor sehingga aku tidak bisa mengendari sepedaku. Terpaksa aku harus mendorong sepedaku, sedangkan Dinda mengendarai sepedanya dengan sedikit lambat.
****
Maaf ya kalau ceritanya gaje. Oh iya, aku juga butuh saran nih dari kalian semua. Apa yang kurang dari cerita ini.
Kalau suka jangan lupa vote ya. Aku butuh saran dari kalian semua.
