Hari kelulusan. Teriakan bahagia dimana-mana, mata berbinar terpancar dari semua murid-murid. Aku tertawa senang. Kami semua berangkulan, berbagi kebahagiaan.
Menandatangani atau mencoret-coret seragam dan melempar topi toga, itulah yang kami lakukan untuk mengenang masa-masa SMA. Tak sedikit yang mengabadikan momen ini dengan berfoto selfie.
Guru-guru ikut senang melihat kami semua, merasa bangga karena telah berhasil mendidik putra-putrinya.
Sampai mataku menangkap sosok Angga yang berjalan menjauh dari keramaian ..
Ia berjalan meninggalkan lapangan dan memasuki ruang kelas kami.Sejenak ia berhenti ditengah-tengah kelas, menatap sekelilingnya.
Akupun memberanikan diri untuk menyapa mu lagi "Angga,"
Kamu menoleh, lalu tersenyum melihatku. Aku rindu senyuman itu "Ya?"
"Gak kerasa ya. Udah lulus aja." aku bersandar di dinding tembok, sedangkan kamu berdiri tak jauh di depanku.
"Ya. Gak kerasa," jawabmu lalu menatap isi ruang kelas lagi.
Aku menghirup napas dalam-dalam "Kenapa lo selama ini cuek sama gue?"
Angga kembali menatapku lekat-lekat. Rambut ikalnya tertupi sedikit akibat topi toga yang dipakainya. Kedua tangannya didalam kantung celana abu-abunya.
"Mungkin itu satu-satunya cara.."
"Cara apa?!"
Suaraku mulai bergetar, aku menangis. menangis di depanmu.
"Cara satu-satunya buat ngelupain lo! satu-satunya cara supaya semua perasaan gue kepada lo hilang. Tapi, sampai sekarang gue gak bisa. Gue gak bisa ngelupain lo gitu aja. Semua gak gampang, susah."
"Tapi, kenapa?" lirih ku
"Karena gue sadar diri. Gue gak bakal bisa miliki lo sepenuhnya .. jadi, gue memilih mundur, Nggi."
Rasa sakit menyerangku "Apa lo cinta gue?"
"I always do."
"Dan begitu juga gue, Ngga."
Angga tersenyum lalu menggeleng. "Kita gak bisa, Nggi. Gue minta lo berhenti mencintai gue, daripada lo menjadi tersakiti kerena gue. Gue gak mau hal itu terjadi,"
"Gue gak ngerti. Apa maksud lo?"
"Lo inget, pas gue seminggu gak masuk? orang tua gue cerai. Hak asuh jatuh ke tangan nyokap gue dan setelah kelulusan ini, gue dan nyokap bakal pindah ke New York untuk tinggal disana"
Duniaku seakan runtuh mendengarnya. Air mata mulai menetes lagi. Keheningan terjadi diantara kami berdua, hanya ada suara isakan tangis ku saja.
"Please, gue gak mau ada air mata yang jatuh karna gue lagi." kedua tanganmu menangkup wajahku membua wajahku yang menunduk menatapmu. Kedua ibu jarimu menghapus air mataku.
Aku menggeleng dan langsung memelulukmu. Hangat. Itu yang pertama kali aku rasakan. Aku senang sekaligus sedih.
"Tapi, apa kamu dan aku tidak bisa menjadi kita?"
"Tunggu aku. Aku akan menjemputmu dan membuat aku dan kamu menjadi kita. Aku janji itu, Anggita Vanya Rizal."
Kamu tertawa begitu juga denganku. Dan kami saling mengeratkan pelukan. "Aku akan menunggumu. Aku janji itu, Anggara Vero Ilham."
End.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu
Short StorySemuanya berawal dari sebuah harapan yang aku sendiri tahu, tidak akan pernah terjadi. Copyright © 2015 by gendhis-dewi, All Rights Reserved